Coretan di dinding itu masih menyisakan beberapa kata yang bisa dibaca oleh siapapun. Kata-kata kekecewaan seorang pria kepada wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang selalu dikenalkan pada teman-teman dekatnya. Mungkin dia terlalu istimewa, karena ada satu kalimat yang membuatku meradang membacanya. Kalau aku tidak salah membaca kalimatnya ditulis seperti ini; “aku menyesal berangkat ke kota itu!”
Kabar yang kudapat dari beberapa teman dekatnya, lelaki itu adalah pencinta sejati. Disebut sejati karena ketulusan mencintai kekasihnya. Makna dibalik kalimat itu ternyata dia sempat pergi meninggalkan sang kekasih untuk belajar ke Yogyakarta. Kepergiannya telah dibicarakan jauh-jauh hari dengan wanita itu. Kepergian sang pria ke kota gudeg itu memaksanya tiba pada kesimpulan bahwa jarak yang jauh takkan pernah membuat mereka bersatu sebagai kekasih.
Dua hari di kota itu seperti dua tahun. Malam enggan memberi ruang lebih jauh buatnya. Dia hanya bisa mengingat wajah dan kata-kata terakhir yang pernah diucapkan kekasihnya. Kota ini memang wangi karena semerbak harum bunga-bunga di taman bertebaran dimana-mana. Namun kewangian mereka tak akan pernah menggantikan wanita itu. Wanita yang telah berjasa memperkenalkan arti wanita dan cinta yang dimauinya.
Dia masih menyimpan surat pertama darinya, Oh ya, nama wanita itu ternyata Maya. Maya menuliskan banyak hal. Rasa rindu bercampur pesimis. Antara yakin dan pecaya karena jarak yang telah memisahkannya dengan sang pria.
Malam itu sesampai di kamar, Fery membaringkan diri di kasur. Tak berapa lama Ibu Hartati sang pemilik kost mengetuk pinti kamar lalu menyodorkan sebuah surat padanya. Ia terperangah membaca nama si pengirim surat itu. Tertera begini; Untuk Kakanda Fery Irwanda.
Fery membuka perlahan surat itu dan membacanya. Isinya, cerita kesetiaan, keraguan, gamang akibat perpisahan. Fery, menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia melanjutkan membaca. Dalam surat itu Maya mengatakan masih setia menunggunya. “Tolong jaga kesucian cinta kita,” begitu pesan di akhir surat itu.
Fery menerawang sambil memandang rembulan yang ditutupi awan. Kamar kost berukuran 3×3 meter yang sederhana itu menjadi saksi bisu atas kenyataan bahwa Fery tak bisa tidur hingga azan subuh di pagi hari. Dia tahu bahwa hidup tak hanya melulu dihabiskan untuk memikirkan seorang wanita. Apalagi statusnya masih mahasiswa yang jauh dari kampung orang tuanya.
Terlalu panjang menceritakan kisah cinta Fery sebagai lelaki pencinta sejati. Banyak kejadian baru yang romantis selama 5 tahun meninggalkan Maya. Aku turut menyesali kehancuran hubungan mereka. Ingin mencegah tapi tak ada kekuatan. Gelombang pasang itu begitu dekat, begitu besar. Coretan di dinding kamar Fery berisi banyak kata. Walau hanya dia yang tahu dan memahami keseluruhan kata itu. Maya yang dulu diharapkan menjadi istrinya hampir punya anak dua. Terlintas dibenakku, kenapa Fery tidak menulis di dinding kamarnya “kutunggu jandamu Maya Ulfa!” Ini akan lucu bagiku dan penghinaan bagi kelelakiannya.
Pengorbanan besar sering berakhir jauh dari harapan. Mereka berdua telah saling mengorbankan banyak hal termasuk harga diri. Walau akhirnya mereka tak mampu bersatu, siapa yang harus disalahkan? Ketika jarak menjadi pembatas dan komunikasi sering tak jelas. Memang, empat bulan pertama berjalan lancar. Namun, delapan bulan kemudian mereka mencoba memperbaiki komunikasi setelah keduanya saling mendua!
Maya marah besar karena selama delapan bulan tak pernah mendapatkan informasi apapun. Fery seakan diam seribu basa. Tak ada yang tahu kenapa. Termasuk Andika sahabat dekat keduanya. Maya sering menceritakan isi hatinya kepada Andika. Maklum, Fery pernah menitipkan pesan terakhir sebelum ke Yogyakarta. “An, jaga Maya ya? Yakinkan dia kalau aku tidak pernah punya rencana mencari Maya baru disana”.
Aku ingin cerita sedikit tentang Andika. Dia sosok pria lugu dan pendiam. Kulitnya putih pucat dan perawakan tubuhnya memang jangkung. Andika belum pernah mengenal wanita. Hanya saja kemudian Maya dan Andika punya perasaan saling ingin membahagiakan. Peran sebagai teman sejati jelas telah gagal dimainkan Andika ketika ia juga tertarik pada Maya.
Tanpa pemberitahuan Andika merampas cinta temanku. Dia begitu kejam melakukannya. Ibarat seorang pelaku pembunuhan yang memiliki darah begitu dingin. Andika memang pandai memainkan minyak di dalam air sambil menunggu giliran. Teganya dia menggunting lipatan-lipatan itu dan membunuh hubungan cinta orang lain. Dan aku masih ingat kalimat terakhir Fery , “Maya telah mati bersama ratusan ribu korban tsunami itu, dan aku tahu sebenarnya ini tidak baik. Cinta kan tidak pernah mengingat-ingat kesalahan.” Hatiku akan ikut gembira jika kalimat itu bukanlah sekedar kata-kata. Sampai kapan teori cinta itu dipertahankan?
Aku menyesali teori cinta Fery. Rasa menyesalku sama besarnya dengan penyesalannya berangkat ke Yogyakarta. Ini memang masa lalu yang menyisakan kepahitan. Waktu tak pernah kembali dan mereka berdua menyadari itu. Apa yang telah mereka alami dan lalui begitu unik,begitu nyata. Hubungan jarak jauh yang memberikan tantangan, menghadirkan cobaan dan mengorbankan banyak hal. Pengalaman pahit dan perih tak terlukiskan menimpa keduanya.
Para pencinta sejati selalu siap dengan berbagai tantangan. Sekalipun harus berhadapan dengan sang kematian. Tapi apa gunanya berkorban jika hubungan itu telah dikotori dan dikhianati? Gembok cinta itu telah dibuka paksa salah satu pemiliknya karena ketidakpastian. Ini asumsi yang salah. Andaikan Maya lebih mengerti dan sedikit bersabar tentu kisah mereka akan indah.
Waktupun kadang bersekutu dengan kebohongan. Menuntun kebingungan menuju ruang penistaan. Kegelapan dan penderitaan bersatu membentuk kehancuran yang kekal dan memilukan.
“Analisisku tentang cinta nggak mungkin salah Wan, ini pasti ada sabotase!” ujar Fery sambil menghembuskan asap-asap kekecewaan dimulutnya.
Lalu Fery melanjutkan lagi.
“Aku nggak nyangka Wan, hari keberangkatanku ke Yogya adalah hari terakhir aku melihatnya. Andaikan kusadari hari itu adalah hari tsunami bagi cinta kami, aku takkan pergi kemana-mana, aku akan terus bersamanya walau ombak besar itu menghapus nama kami dari daftar penghuni bumi ini”.
Fery menerawang jauh kebelakang. Mengingat masa lalu kadang perlu. Ia adalah refleksi masa depan. Banyak pendapat mengenai masa lalu. Kebanyakannya lebih berusaha menutupi keterpurukan yang pernah dialami. Buat apa menyembunyikan kenyataan itu? Bukankah mereka itu penting diingat untuk membuat sejarah hidup di masa depan? Memang, terpaku dan larut dalam keterpurukan masa lalu itu sungguh tidak baik. Tetapi kisah yang telah tercipta dalam benak dan asa setiap orang takkan pernah berakhir. Lalu untuk apa menyesali masa lalu yang pernah terjadi dalam hidup kita? Bukankah kita sendiri penyebab terjadi hal-hal yang telah berlalu itu?
“Tak ada kata menyesal dalam kamusku Wan, aku tetap menjadikan semua ini sejarah dalam dinastiku. Aku tidak mau menyesalinya. Buat apa? Bukankah ini kulakukan sendiri?”. Begitu yang kudengar dari Fery. Baginya, tak ada penyesalan, dan tak ada cinta yang lain.[]
Oleh Bahagia Arbi
cerpen ini pasti ditulis terburu-buru tanpa diedit, jalan critanya masih kaku. tapi….penulis punya harapan besar utk melangkah lebih jauh. Go Arbi…Go….
Yaa… Abang sih begitu mulu, kalo nulis suka males ngedit, bnyk salahnya, blajar dr indah donk…
Novi…..makasih atas keritik dan semangatnya, itulah gunanya pembaca setia dan baik sepertimu, mau mengatkan kesalahan penulis. hehe…..utk ke depan aku akan menulis yg lebih baik dan terarah. Sebagai info buatmu, aku menyelesaikn cerpen itu dlam waktu 12 menit di salah satu warung kpi tersesak di B.Aceh….diantara kerumunan suara cerpen itu siap.
Indah……..hai indah, gadis bogor yg manis, hari ini aku senang sekali karena kamu mau mengomentari cerpen yg sederhana ini. Aku adalah pelajar baru di multiversitas sastra…..dan aku yakin akan terus melangkah dengan pasti menuju tangga yg sejajar dengan SENO, LINDA, DEE, ANNADIA, dan lain-lain. hehe…kritikmu membuat hatiku gatal …:) thank
menyentuh jiwa maya kalle…hahaha….tulis lagi yg lebih melow yaaaa..:)
cerpen ini sudah bagus untuk seorang penulis pemula…,apalagi dituliskan dalam waktu 12 menit…. he he he…, tapi ku percaya utk kedepan pasti… akan lebih teliti…& lebih teratur alur ceritanya…. maju terus……tulis lagi …yaaa.
nama asli tuh disebut, entar dituntu kamu pak ama suaminya…hahahaha….tapi cerpenmu kan byk, kok ini yg kau kirim pak?….ini melow abis dan kelihatan banget kalo km gak bisa lupaakan maya…kehhekhe..maju terusss pakkk
bro arbi, cerpen yg bagus. Dirimu punya potensi besar dlm menulis brö.. Lanjutkan, lebih cepat lebih baik.. Aku tringat betul saat kutinggal kau mengedit cerpen ini di chek yuke, eh, taunya udah dmuat HA hari minggunya. Manthab!
terimakasih telah menghadirkan cerpen dengan tema cinta yg unik dan menarik sekali. lanjutkan bakatmu pak, aku yakin kamu akan jadi cerpenis spesialis cinta yg hebat!
kapan cerpen lainnya ada di harian aceh bang? kok gak ada lagi? buat yg lebih drmatis dong…….tentang konflik dalm hubungan cinta ya?
Buat Razak, Dian, dan juga Meri….terimakasih atas komentar2 kalian. Semoga aku dapat lebih menelurkan cerpen2 lain yg lebih berkualitas ke depannya. Harian Aceh memang luar biasa, baca terus setiap minggu karena akan ada karya2 sastra luar biasa dari para sastrawan terbaik Aceh disini.
harian aceh memang hana pat takoh. sangat menghargai para penulis muda di aceh. nyoe adalah saboh media yang cukop luar biasa. Harian Aceh memberi ruang budaya dua halaman sekaligus. semakin jaya HariAn Aceh..
saleum teuka,
Mahasiswa Sastra UI asal Aceh utara…
cerita ini begitu nyata, namun saya melihat ada bagian2 penting yg terlewatkan, apakah karena redaktur telah melakukan tugasnya yaitu memotong beberapa kalimat atau penulis yg berusaha mengaburkan setingnya. terus berkarya bung Arbi! tulisan Anda layak dibaca..:)
hai pak…km aneh…penerjemah kok jadi cerpenis cinta..hahahahaa..tapi blh juga man..teruskan aja, kali bisa seprti idolamu..si SGA
Buat roman aja mas…lebih menarik sepertinya…..
aku dinas di polda jambi sekrang pak, dah keeu sri ya di aceh? salam ya dari kami di jambi. BTW..cerpenmu ttg kita di yogya dulu saat kuiah nh..ingat simpanan di aceh, kan di yogya ada byk gandengan jg setahuku dirmu..hahahahahah..peace man
Terimakasih sudah membaca dan memberikan komentar2 di “Tsunami Cinta”. Sebagai cerpenis pemula dan masih membutuhkan triliyunan jam terbang komentar teman2 begitu kubutuhkan. Harian ACeh is the best! Salam
ingin eksis..jgn lebay plisss…hahahaha…peace pak…nyentrik kok isinya, pribadi banget nih…wkkkkkkk
hahahahahahahha…aku saksi cerita iniii…wahahahahaha…ada nama dia lagi…eeeee
ceritanya berjalan di tmpat,, sebenarnya lebih seru kisah andika sama maya lho klu mo tau,…..klu obet saksinya, gue aktornya…..he..he…ketahuan kisahnya salah & ngatain orang…
hahahaha…is’n…..inilah sebuah cerpen……nama di dalamnya bisa fiktif
……andika memang unik yaa…hahaha….
Gak komentar…aku selalu suka tulisan Bahagia Arbi…cuma rindu dah lama gak baca lagi… kemana ya…ayo dong nulis lagi…
Ayo Bang…nulis lagi yg banyak…think u r veruy talented…dosa loh kalo talentnya gak dikembangkan..
Go Arbi…Go…ayo nulis lagi…
oke,thank u atas dukunganmu bu Evie, aku memang sedang terus belajar menjadi penulis yg baik..
bang,
kalo ada tulisan barunya info ya…ingin baca…go arbi go…nulis lagi…tar dikssih kado deh…
bang,
kalo ada tulisan barunya info ya…ingin baca…..nulis lagi…tar dikssih kado deh…
jujur aku sedih bgt dgcerita tsunami cinta yang begitu mengharukan n ada pesan2 dalam cerpen yg km tulis menjd saya lbh dewasa dlm hidup nih…….
Haru biru tsunami cintamu….semoga ada tulisan lain yg dimuat media teman…..ingat lagu d’masiv dan perbanyak referensi…good luck! (Iin)
haiii….kirim lagi dong ceritamu di koran2 lain….kan puisi2mu di Kompasiana bagus2…jgn sembunyikan keahlianmu…hehe…
picisan dan ngepop..dasar pembohong! pd hal km tuh yg ninggalin Maya….dia cerita semua kok ma aku….ih jijik deh ma kamu….
Evie, betari, 11N, dan Dika | thanks ya atas dukungan dan komentarnya…:)
dan amel | Maaf, ini hanya cerita pendek….aku tak bermaksud membuat kebohongan, tapi biar gimnpun aku suka komentarmu…salam
Bung BA, saya menangka ada kekecewaan besar dalam diri Anda dari puisi ini. Ada apa di masa lalu Anda? hahahaha….saat Anda kuliah di Yogya dan kerja di Jakarta saya mendengar dari beberapa karib Anda bhw kisahnya bertolak belakang dengan isi cerita dalam cerpen ini. khekhekhkehehkehe…peace bung..perbyk latihan dan saya yakin Anda akan menjadi penulis beneran.