Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Esai » Teungku Chik Di Tiro dan Hikayat Prang Sabi

Oleh: Drs. Syarwan Ahmad, MA

Teungku Chik Di Tiro atau Muhammad Saman adalah seorang pahlawan dari Aceh. Ia dilahirkan tahun 1836, bertepatan dengan tahun 1251 Hijriyah di Dayah Jrueng, Kenegrian Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh. Beliau lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Di Tiro. Teungku Chik Di Tiro adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah, sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selama di Mekkah ia juga mendekati pemimpin-pemimpin Islam yang ada di sana sehingga ia mulai paham tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Teungku Chik Di Tiro berkorban apa saja, baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan tindakan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil atau Prang Sabi.

Hikayat Prang Sabi dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir. Kalau dilihat dari sebagiannya isinya, biasanya bagian awal hikayat juga tersisip peringatan-peringatan bagi pendengarnya untuk taqwa kepada Allah secara umum. Tulisan ini bermaksud untuk menyorot hubungan Teungku Chik Di Tiro dengan Hikayat Prang Sabi.

Menurut T. Iskandar, Hikayat Prang Sabi bersumber dari sebuah karya bahasa Arab yang berjudul Nasihat al-Muslimin. Judul lengkap kitab ini adalah Nasihat al-Muslimin wa-tadzkirat al mu’minin fi fadha’il al-jihad fi sabil Allah wa-karamat al-mujahidin fi sabil Allah yang ditulis oleh seorang ulama tersohor, Shaik Abd. Al-Samad al-Falimbani atau Abdussamad Palembang.

Biarpun hanya spekulasi menurut beberapa sarjana, penulis asli Hikayat Prang Sabi umumnya dialamatkan kepada Teungku Chik Muhammad Pante Kulu yang kebetulan juga lahir pada tahun 1836 di sebuah kampung yang disebut Pante Kulu yang terletak di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh di kalangan keluarga ulama yang erat hubungannya dengan kelompok Ulama Tiro. Sebagaimana ditegaskan oleh Ali Hasymy dalam bukunya Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Atjeh Lawan Belanda, Teungku Chik Pante Kulu menulis karya sastra ini di dalam kapal dalam perjalanannya dari Jeddah ke Penang sebagai kontribusinya untuk mendukung temannya, Teungku Chik Di Tiro, yang memimpin Perang Suci melawan Pemerintah Belanda.

Hikayat Prang Sabi dikarang selama era Teungku Chik Di Tiro, salah seorang pahlawan terbesar Indonesia di Aceh, yang meninggalkan kampung halamannya Tiro, Pidie, menuju Kuta Raja, Aceh Besar (sekarang Banda Aceh) pada tahun 1881. Dia berangkat ke Kuta Raja untuk memimpin perang melawan tentara Belanda yang telah berhasil menguasai sebagian pantai Aceh Besar yang mereka invasi pada tahun 1873.

Dengan semangat Perang Sabilnya, satu per satu benteng Belanda direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukan Teungku Chik di Tiro. Pada tahun 1881 ini juga, tepatnya pada bulan Mei, pasukan Teungku Chik Di Tiro dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong, dan lain-lain. Belanda merasa kewalahan akhirnya memakai “siasat liuk” dengan mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun.Tanpa curiga sedikit pun Teungku Chik Di Tiro, yang salah satu cucunya, Hasan Tiro, memakannya, dan akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di Benteng Aneuk Galong.

Setelah Teungku Chik Di Tiro syahid, anak laki-lakinya, Teungku Mat Amin dan Teungku di Bukit, juga syahid dalam pertempuran sengit (hand-to-hand) di Aneuk Galong pada tanggal 28-29 Juni 1896. Kapten van Daalen melaporkan bahwa pada tengah malam dua batalion bergerak ke Lambaro, di bawah pimpinan J. B. van Heutsz. Mereka beristirahat di Lambaro dan kemudian menuju ke Benteng Aneuk Galong, yang dipertahankan oleh 200 orang. Perang berakhir lebih dari lima puluh menit setelah tembakan pertama dilepas. Seratus sepuluh pasukan Aceh ditangkap; sisanya melarikan diri. Mayat Teungku Mat Amin dibawa ke gampong Mureue, dekat Indrapuri, dan dikuburkan di samping kuburan ayahnya, Teungku Chik Di Tiro, satu liang.

Banyak saudara Teungku Chik Di Tiro syahid melawan pendudukan Belanda, termasuk anak-anaknya, cucu-cucunya, ayah mertuanya, saudara iparnya, dan saudara sepupunya. Mereka yakin akan jihad fisabilillah. Banyak yang syahid pada pertempuran yang berbeda yang berlangsung pada tahun 1911. Cucu Teungku Chik Di Tiro (Teungku Chik Maat Di Tiro) syahid di sekitar Alue Bhot pada 3 December 1911, karena tidak menghiraukan ajakan tentara Belanda untuk menyerah. Orang-orang yang menentang Belanda ini disatukan oleh ajaran dan agama Islam, keteguhan itu juga diperkuat oleh ikatan keluarga dan persaudaraan.

Teungku Chik Di Tiro di dalam Hikayat Prang Sabi bukanlah seperti seorang pelaku utama dalam sebuah ceritera sandiwara atau film laga. Namun, keberaniannya merupakan kisah nyata yang tertulis dalam sebuah bait puitis dalam salah satu teks asli Hikayat Prang Sabi yang tersimpan di dalam Special Collection Reading Room Perpustakaan Leiden University, Belanda yang bunyinya:

Dum ulama narit tan le, keu prang kaphe han padoli

Lidah ulama dum habeh klo, tan le hiro buet prang sabi

Meulaenkan nyang na ngon izin po, Teungku di Tiro neubadai Nabi

Ulama laen dum jeut naggroe, peuseungap droe tan padoli

Ba’geukira ek leupaih droe, uroe dudoe jan geusudi.”

Research Fellow of Scaliger Institute Leiden University Belanda, 2006

Baca Juga >>

1 Comment

  1. wonderful share, great article, very usefull for me…thanks

Leave a Reply

© 2008 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress