Malam semakin larut dengan kesunyiannya. Para pemimpi telah terbuai dalam pejam. Tapi Tristia, masih sibuk dengan ponselnya. Ia tersenyum lalu menekan keypad, mengetik huruf per huruf dan menekan tombol wall to wall.
“Ketika kutatap sakura bermekaran, hatiku berdesir. Ingatanku melayang padamu dinda. Sesempurna apakah gadis ayu yang menyita hari-hariku ini?”
Sejenak Tristia mengatur alur nafas yang tak menentu. Lalu membalas pesan dinding dari Andri, lelaki yang membiusnya dengan kata hingga tak kuasa mengatur emosi. Degupan kencang jantung menghasilkan kebekuan dan kekakuan. Tak ada kata terlintas untuk membalas. Tapi sebuah senyuman tetap mampu ia berikan.
Puluhan notifikasi pun muncul di beranda situs jejaring sosial yang kini mengalihakan seluruh dunianya. Menjerat lebih dalam dan membuat gadis ini semakin terperangkap. Lalu ia membalas kiriman dari Andri walau hati terus berdesir hingga pagi pun menyingsing.
Berat rasanya beranjak dari kasur dan melepaskan telepon seluler dari genggaman. Masih banyak komentar yang belum dibalas. Permintaan untuk menjadi teman belum disetujui. Meski mata telah mengeluarkan air karena pengaruh radiasi, ia tetap tak bergeming.
“Tiaaaaa,” sebuah teriakan dari luar membuyarkan konsentrasi gadis itu. “Kita pagi ini parktikum, kan? Bagi soal-soal untuk workplan dong.” Nisa, teman satu kost-an dan sekampus dengannya menyelinap masuk.
“Hah?!? Hari ini kita praktikum?” Segera ia matikan situs pertemanan itu. Lalu memeriksa inbox HPnya.
“Ya, Allah,” Semalam sms dari teman sekelasnya tentang tugas praktikum itu telah dibaca dan ia berencana untuk mengerjakan tugas tersebut setelah mengomentari bebarapa message status di facebook. Tapi?
“Kamu belum buat ?”
Tristia mengangguk.
“Tapi ini syarat masuk praktikum. Aku kira kamu udah selesai, jadi mau liat pertanyaan yang udah dibuat. Kalau gitu aku balik ya, terpaksa deh buat sendiri.”
Tia menatap punggung Nisa dengan panik. Sudah sering kali keteledoran itu datang dan ini paling parah. Ia tahu persis konsekuensi yang harus diterima jika tidak mengerjakan workplan, rencana kerja sebelum praktikum Epidemiologi Penyakit dimulai.
“Silakan Anda keluar dan sampai ketemu semester mendatang pada mata kuliah yang sama.” Begitulah ucap dr. Umar, pembimbing matakuliah untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran tingkat akhir itu. Datar sambil menunjukkan wajah lilinnya sebagai jawaban pertanyaan seorang mahasiswa tentang sanksi jika tugas tidak dikumpul.
Sinar matahari semakin terang. Jam berbentuk Doraemon yang terletak di atas lemari telah beranjak ke pukul tujuh. Tia masih punya waktu satu jam untuk menyelesaikan tugas. Praktikum dimulai satu jam kemudian. Ditariknya beberapa lembar double folio dan buku untuk referensi dari rak.
Tapi waktu tak bisa dielak, empat puluh lima menit sudah waktu berlalu. Ia harus segera berangkat karena praktikum tak boleh telat. Cuci muka dan kumur-kumur menjadi pengganti mandi. Tanpa sisiran apalagi mengoleskan bedak. Langsung saja Tristia menstarter motor menuju kampus yang terletak 500 meter dari rumah kost.
“Waduh!” kelunya ketika melihat polisi lalu lintas di sedang merazia pengendara motor beberapa meter tempatnya berada. Tritia membuka dompetnya. SIM dan STNK lengkap, jadi aman.
“Helm kamu mana?” suara garang tanpa intonasi dan terdengar seram membuat Tristia pucat. Dia baru menyadari kalau kepalanya kosong. Tak ada helm di atasnya.
Diliriknya jam tangan, 07.55 WIB. Lima menit lagi masuk. Tugas belum siap.
Tristia tak dapat berucap. Ia pasrah. Polisi itu menyuruhnya memarkir motor di samping trotoar. Gadis itu meringis. Butiran di matanya seakan hendak bercucur, tapi berusaha ia tahan.
“Hei! Saya tanya alasan kamu ngga pake helm, kok malah diam? Kamu maunya selesai di sini atau di pengadilan. Kamu sudah membuat pelanggaran!” bentakan polisi itu membuat Tristia tersentak.
Kalau ingin urusan selesai di sini, ia harus membayar sejumlah uang yang ditawarkan laki-laki berbaju coklat dengan rompi hijau menyala itu.
“Sa..ya.. minta.. surat tilangnya saja, Pak!” terbata Trista mencoba mengucap kata. Ia ingat, Nisa pernah bilang kalau ditilang, minta saja surat tilang. Jangan kasih uang ke polisi karena akan masuk ke kantong mereka.
Sebagai barang bukti, surat izin mengemudinya disita. Lalu dengan mengantongi selembar surat tilang ia meluncur menuju kampus. Tak ada harapan baginya untuk bisa mengikuti praktikum. Tiga puluh menit sudah kelas dimulai. Kalaupun alasan keterlambatannya karena dirazia diterima, tapi workplan yang belum rampung pasti membuatnya kembali terdepak.
Ingin sekali ia tangisi nasib. Hanya karena kecanduan berteman dengan dunia maya membuat semuanya hancur. Tidak lulus matakuliah, itu sudah pasti. Dan dua minggu lagi ia harus hadir ke pengadilan untuk mempertanggung jawabkan pelanggaran seperti yang tercantum dalam surat tilang.
“Malang sekali nasibku,” desis Tristia dan tangisannya pun pecah.
“Seandainya saja aku tidak terpengaruh dengan ajakan teman-temanku untuk membuat fesbuk,”
Desy dan Intan memang terkenal sebagai ratu facebook di kampus. Keeksisan mereka di dunia yang diciptakan Mark Zuckerberg sudah menjadi pembicaraan seantero FK. Ribuan teman dari berbagai belahan bumi telah terdaftar dalam list mereka. Satu lagi, kedua cewek ini sangat senang mempromosikannya ke seluruh penghuni kampus termasuk Tristia.
Empat purnama sudah dilalu Tristia bersama facebook. Ratusan teman telah dimilikinya. Mulai dari teman semasa SMA, teman satu kampus, bahkan orang tak dikenal sekalipun. Namun, satu hal yang selalu ia hindari. Kopi darat. Tia tak mau menjadi bisu ketika bertatap mata dengan teman mayanya itu.
Tristia pun memiliki teman spesial, Andri, cowok Indonesia yang sedang kerja di Jepang. Entah kenapa gadis ini merasa nyaman ketika bercerita dengan lelaki itu. Untaian kata yang kerap dikirim Andri membuat imajinasi Tristia semakin terasa sempurna. Andri adalah sosok impiannya.
Jauhnya jarak dengan Andri membuat Tia menghapus kekhawatirannya. Kejauhan menutup kemungkinan mereka bertemu sehingga tak ada bisu yang menghalang. Saban malam mereka saling menyapa. Menanyakan kabar, berbalas sajak, dan menikmati kejauhan.
Empat purnama sudah jadwal ngeblog lenyap. Inspirasinya telah ditulis di pesan status yang setiap hari berganti. Tak ada lagi rutinitas menulis, kehadiran Andri baginya sudah cukup menenggelamkan asa dan impian yang pernah ia tulis. Bahkan untuk membuat tugas saja Tristia selalu meminta bahan dari Nisa.
Tapi sekarang semuanya menjadi kacau. Matakuliah yang diambilnya empat bulan yang lalu gagal. Ia harus mengulangnya empat bulan ke depan. Harapan menghadiahkan kelulusannya untuk ayah-bunda sirna sudah.[]
Oleh Liza Fathiariani, Blogger dan Anggota Forum Lingkar Pena Aceh