Karya: Zahra Fona Idris
Meunasah-meunasah kehilangan tadarusnya. Malam mencekam. Konflik telah usai seiring MoU Helsinski 15 agustus 2005 lalu. Entah apa problemnya sehingga orang-orang enggan berkhalwat dengan malam. Aku meringkuk dalam kurungan malam. Menatap langit berjaga sendirian.
Empat tahun berlalu setelah tsunami memakan anak, ayah, ibu, nenek dan kakek manusia. Wajah nanggroe-ku berubah. Orang-orang gunung telah turun menjabat tangan orang-orang lembah. Wajah-wajah kembali sumringah. Ladang-ladang kembali menghijau. Burung-burung kembali terbang ke angkasa. Tapi, entah apa dinyana. Anak-anak tak ada lagi yang menyuka bermain dengan ayat-ayat-Nya. Mereka larut dalam kotak segi empat bergambar berwarna dan bergerak itu. Malam berlalu, kesepian dan berlinang air mata.
“Seharusnya tidaklah perlu beribut-ribut dengan mikrofon di malam buta. Bagaimana bisa kami nyaman berehat malam. Padahal, siang kami kelelahan bekerja dalam kelaparan. Berikanlah kami waktu sekejap tuk berdamai dengan bantal.”
“Tapi kan ini hanya di bulan Ramadhan, Pak Cek?” Sela Teungku Imun Chik
“Ya iyalah. Justru karena Ramadhan inilah. Siang kami kelelahan, malam pun tak bisa tenang sejenak. Anak-anak awak juga rewel gara-gara tidak nyenyak tidur. Akibatnya ibunya uring-uringan mengurus.”
Teungku Imun Chik memandang lurus. Menatap malam sedang berjalan sendirian. Hatinya miris. Bukan sekali ini rakyat gampong mendatanginya di meunasah, untuk meminta keringanan di bulan ramadhan. Memintanya mengecilkan volume mikrofon, atau istilah kasarnya memintanya menghentikan tadarus dengan memakai mikrofon. Kemarin ada Pak Matnu, Si Jali, dan Si Mae. Mereka mengeluhkan anak-anak mereka sering terbangun dan tak lelap tidur gara-gara suara mikrofon di meunasah.
Tak memakai mikrofon pun tetaplah suara-suara mereka terdengar lantang, melolong di tengah malam sebab tak ada suara lain. Maka rumah yang berada tepat di sekeliling meunasah adalah rumah penuh rahmah, selalu diselimuti bacaan ayat-ayat suci, seharusnya.
Dua hari berikutnya, Pak Matnu, Si Jali, dan Si Mae kembali mendatangi Teungku Imum Chik perihal ketidaktenangan peristirahatan mereka selama malam puasa. Mengeluhkan suara-suara anak-anak bertadarus terlalu keras. Membangunkan lelap anak-anak mereka di rumah.
Kali ini Tauke Amin menjumpai Teungku Imum Chik dengan problem yang sama. Tengku Imum Chik memandangi para santri yang sedang semangat mengalahkan kantuk, menggemakan ayat-ayat Allah ke seluruh jagad. Mereka masih belia, semangat membara. Selintas ia melihat dirinya di empat puluh tahun silam. Beramai-ramai bertadarus bergantian dengan teman-teman kecilnya. Bercanda dan kemudian tergeletak ketiduran di lantai papan meunasah manyang seusai sahur dan salat subuh. Belakangan, perserta tadarus tidak seramai dulu. Hanya beberapa anak yang masih setia, bercakap dengan Tuhan di malam Ramadhan. Miris hatinya memandangi Toke Amin di hadapannya. Sang toke yang sudah jadi pengusaha terkenal itu mengangkat dagu tinggi-tinggi, alamat tak ada tawar menawar.
“Masa sudah berubah Teungku. Dulu bolehlah bertadarus pakai mikrofon sampai pagi, karena dulu orang-orang tidak bekerja di siang puasa. Sementara awak, sekarang harus bangun pagi-pagi buat cari makan, cari rezeki. Kalau malam awak juga harus bergadang. Kapan pula awak bisa istirahat. Awak kan bukan robot!”
Sekali lagi teungku menelan ludah pahit. Dilema dalam pilihan. Allah, apakah tak ada lagi lailatul qadr janji-Mu? Kenapa orang-orang tak berlomba menggapai malam seribu bulan?
Malam merayap. Senyap menelan. Aku masih menekuri meunasah sepi. Penghujung Ramdhan semakin kelam dan senyap. Nyamuk-nyamuk hutan berdengung di kuping. Kunanti suara-suara. Aku rindu. Anak-anak tergeletak di ubin, kelelahan bermain dan memelototi kotak segiempat di keude Toke Amin. Sesekali menepuk nyamuk yang hendak mereguk rezeki di kulit mereka.
Kutatap langit kelabu. Remang bulan tampak sedikit dari balik gemawan. Tersemat kepedihan di wajahnya. Meratapi manusia yang tak lagi punya keinginan merengkuh lailatul qadr. Atau barangkali Allah tidak mau lagi memberi malam termulia itu pada ummat-Nya. Atau manusia yang telah bosan menananti janji yang tak pasti.
Tiba-tiba meunasah benderang, sementara bulan masih memeluk awan kelabu. Suara-suara mendengung dalam cahaya. Meunasah dipenuhi rombongan orang-orang bertadarus. Suara-suara merdu bersahutan. Bergantian menyanyikan kalimah-Nya. Sekejap tubuhku membatu. Melotot mataku. Kantukku melesat ke angkasa. Jenak kemudian kakiku melompat. Sayapku terkembang menggapai atap meunasah. Mengintip lebih dekat. Inikah janji-Mu itu ya Rab?
Toke Amin terbangun dari peraduannya. Membuka selimut dengan kesal.
“Dasar orang tua, tak mafhum apa? Padahal, sudah berjanji takkan mengganggu orang tidur lagi.”
Turun dari ranjang algaenya beranjak ke luar kamar, lalu membanting pintu mereubonya dengan keras. Sontak, anaknya yang masih bayi meraung keras, terkejut dari tidur lelap.
Ulee Madon, 23 September 2008
FLP Lhokseumawe
Nanggroe = negeri
Teungku Imum Chik = Imam di kampung
Pak Cek = Pak Cik
Meureubo = jenis kayu yang sangat bagus kualitasnya