Surat Buat Darwati

Cerpen - 2 January 2010 | 56 Komentar

Oleh Renvanda

Kutulis surat ini setelah kita lima tahun tak bertatap muka. Izinkan aku memanggilmu dengan kata sayang, sebagai bagian untuk kembali pada masa lalu bersamamu.

Sayang! Surat ini tak sama seperti suratku lima tahun lalu. Kali ini aku tak bercerita tentang romantika cinta kita tempo dulu, ketika aku meninggalmu di Belanda. Aku menganggap kisah kita sudah berakhir ketika aku kembali ke Indonesia, karena pertentangan dua budaya. Dalam surat ini aku ingin berkeluh kesah padamu, tentang negeriku yang diterpa konflik panjang dan dihempas musibah tsunami. Aku sangat berterima kasih kamu telah membuang waktumu untuk membaca suratku ini.

Sayang, konflik yang mendera di negeriku ini selama kurang lebih 32 tahun, telah berakhir bersamaan dengan datangnya bencana tsunami yang menelan ratusan korban jiwa, serta menghancurkan seluruh infrastruktur, begitu juga dengan sendi-sendi kehidupan lainnya. Berakhirnya konflik ini ditandai dengan perjanjian damai antara gerakan yang ingin memerdekakan negeriku dengan pemerintah pusat Republik Candonesia. Perjanjian damai inilah yang kemudian menjadi gerbang harapan perubahan di negeriku.

Namun tepatnya satu tahun setelah perdamaian ditandatangani oleh kedua belah pihak, pada 15 Agustus 2005 di sebuah negeri yang berdekatan atau masih satu benua dengan negerimu itu, di negeriku—Ancen, yang merupakan provinsi paling barat dari Candonesia menyelenggarakan sebuah pemilihan pemimpin baru.

Pemimpin yang dipilih secara formalitas paling demokrasi yang dilaksanakan dalam suasana paling kondusif degnan metode pemilihan langsung. Sebelumnya, pemimpin negeriku hanya dipilih oleh sekelompok orang terpilih yang duduk di lembaga legislatif. Pemilihan yang sangat sarat dengan kolusi, tapi kali ini tidak, kami sebagai rakyat memilih langsung pilihan kami.

Pemilihan seperti ini merupakan yang pertaman di Candonesia. Setelah itu baru undang-undang pemilihan kepala daerah di Candonesia di ubah agar bisa melibatkan calon independen. Yang sedihnya negeriku sebagai pencetus calon independen tidak lagi bisa menggunakannya, karena calon independen di negeriku hanya berlaku satu kali saja.

Namun saya masih sangat yakin dengan apa yang dikatakan oleh profesor kita dulu di bangku kuliah, bahwa pemilu di daerah yang baru keluar dari konflik sangat sulit memenuhi standar demokrasi. Hal ini dikarenakan mental konflik dan kebiasaan melakukan intimidasi akan terus di pertahankan untuk mewujudkan kekuasaannya. Hal ini sudah lumrah terjadi di semua negara atau daerah bekas konflik. Sehingga pemilihan tersebut dimenangkan oleh calon independen yang sebelumnya juga merupakan anggota dari kelompok yang ingin memerdekankan daerahku dari Candonesia.

Sayangku, tau kah kamu yang menyayat hatiku saat ini adalah, sudah tiga tahun pemimpin baru negeri kami memimpin, namun jangankan terjadi perubahan yang signifikan, bertahan saja tidak—artinya negeriku saat ini lebih parah dari kondisi negeriku sebelum damai, khususnya dalam hal pengelolaan pemerintahan dan kesejahteraan rakyatnya.

Banyangkan saja negeriku saat ini memiliki anggaran pendapatan belanja daerah berlimpah dari sebelumnya, ini merupakan salah satu bentuk konsesi dari pemerintah pusat pada saat perjanjian damai di buat. Pemerintah pusat memberikan DAU yang jumlahnya mencapai 2% dari plafon DAU Nasional selama lima belas tahun, dan 1% untuk lima tahun selanjutnya.  Sehingga wajar, selama rentang 3 tahun berjalannya Pemerintahan negeriku, pagu Anggaran Ancen terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hal ini bisa dilihat dari anggaran belanja dan pendapatan daerahku tahun 2007, pagu anggarannya telah mencapai 4,1 Triliun, tahun 2008 menjadi 8,5 Triliun, dan di tahun 2009 ini, angkanya hampir mencapai 2 digit, yakni 9,7 Triliun. Jumlah anggara yang terus meningkat, namun tidak di barengi dengan daya serap anggaran yang tinggi, ini bisa dilihat dari tahun 2007 sebagai awal pemerintahan baru Ancen, realisasi serapan Anggarannya ternyata hanya sebesar 77,53 %, pada tahun 2008 kian turun hingga mencapai 67,21% dan terakhir di Bulan November 2009 menjadi semakin parah, yakni hanya terserap sebesar 40 %, kendatipun masih dalam tahun berjalan sampai tanggal 18 desember 2009.

Sayang, kenapa daya serap anggaran di negeri ku menjadi sangat pengaruh terhadap kondisi perekonomian. Ini dikarenakan negeriku masih sangat tergantung dengan perputaran uang dari anggaran pendspatan dan belanja daerah atau saya sering menyebutnya dengan sebutan perekonomian Ancen masih sangat tergantung dengan perputaran uang plat merah. Karena diluar uang plat merah atau uang plat hitam (dari sektor swasta) hampir bisa dikatakan tidak ada di negeriku ini.

Jadi semua kegiatan ekonomi akan hidup bila uang plat merah terus berputar, dan kegiatan ekonomi akan mengalami resesi (penurunan) bila uang plat merah tidak berputar, akibat dari lemahnya daya serap anggaran. Lemahnya daya serap anggaran ini di sebabkan oleh beberapa faktor, namun yang menjadi fator utama adalah lemahnya kepemimipan dan manajemen dari pemimpin negeri ku ini.

Hal ini terlihat dengan jelas ketika daya serap anggaran lemah, tetapi pemimpin negeriku jarang melakukan rapat evaluasi dengan bawahannya yang memimin dinas dinas, begitu juga dalam melakukan perencanaan anggaran, juga tidak melalui satu konsolidasi dan koordinasi dengan semua dinas. Belum lagi setiap dinas ditempatkan satu orang koordinatar (non structural) untuk membagi-bagikan proyek pembangunan, yang ini telah mengakibatkan, kepala dinas merasa di kesampingkan oleh para koordinator proyek tersebut dalam menjalankan tugasnya.

Selain itu sayang, pemimpinku ini juga tidak pernah membuat rapat koordinasi pembangunan dengan para bupati dan walikota seluruh Ancen untuk mensinergiskan visi dalam membangun Ancen secara terintegrasi. Malah pemimpinku sibuk dengan jalan-jalan keluar negeri. Dan begitu banyak persoalan lainnya di negeriku saat ini. Dalam pengalokasian anggaran juga masih menjadi masalah.

Coba kamu banyangkan sayang, jumlah penduduk di negeriku paling banyak adalah petani dan nelayan mencapai 75% dari jumlah penduduk, sedangkan pejabat, hanaya 10% sisanya 15% adalah berbagai sector lainnya. Dari komposisi jumlah penduduk yang demikian seharusnya alokasi anggaran paling besar adalah untuk sektor pertanian dan perikanan. Tetapi yang terjadi adalah sektor pertanian dan perikanan tidak melebihi 6% alokasi anggaran, sedangkan untuk pejabat baik dalam bentuk tunjangan, gaji, dan lain sebagainya menjacapai angka melebihi angka 60%. Jadi 75 % rakyat Ancen memperebutkan hanya 6% kue anggaran saja.

Sedangkan 10% rakyat Ancen yang menjadi pejabat meperebutkan 60% lebih kue anggaran itu. Dan inilah Sayangi yang saya sebut pemerintahku masih jauh dari aspek keadilan, apalagi bicara pembangunan dan pemerataan ekonomi. Akibat dari rendahnya daya serap anggaran tersebut, bukan hanya berimbas kepada rakyat kecil semata-mata, tetapi juga telah menghantam kelas menengan di Ancen, pengusaha perhotelan pada tahun 2008 mendapat keuntungan bersih dari sektor perhotelan di Ancen sebanyak 14 triliun sedangkan pada tahun 2009, hanya 3 triliun, bayangkn sebesar apa penurunannya. Begitu juga dengan kondisi yang lain baik itu infrastruktur, energi yang selama ini belum bisa mencukupi untuk kegiatan ekonomi.

Namun demikian pemerintahku tidak malu-malu setiap hari katanya keluar negeri untuk mengundang investor, tetapi sudah tiga tahun belum ada yang menanamkan modalnya di Ancen, dan ini hal yang wajar mengingat infrastruktur dan energi di negeriku yang belum memadai. Listrik untuk warga saja masih kekurangan apalagi untuk kegiatan industri.

Darwatiku sayang, kamu tau tidak, kemiskinan di negeri ku saat ini bagaikan penyakit menular yang terus merambah kemana-mana, padahal negeriku dikenal dengan daerah yang subur dan lahan pertanian yang luas. Tetapi keadaan ini tidak dimamfaatkan oleh pemimpin negeriku sebagi peluang apalagi di tengah krisis pangan di internasional. Malah petani di negeriku terus miskin dan melarat, anak-anak meraka banyak yang putus sekolah.

Dalam hal pendidikan di negeriku masih banyak kondisi fisik fasilitas pendidikan yang sudah tidak layak lagi, apalagi kuwalitas pendidikan di negeriku masih sangat rendah. Malah lebih rendah dari papua di Indonesia. Begitu juga dengan kondisi fasilitas dan kuwalitas kesehatan juga masih sangat buruk. Coba kamu bayangkan sayang, masih ada rumah sakit di negeriku yang melakukan opersi terhadap pasien dalam kondisi gelap (tidak ada listrik), para dokter hanya diterangi oleh sebatang lilin. Sungguh menyedihkan sayang kondisi negeriku ini.

Sayang, tidak cukup hanya disitu kehancuran di negeri ku. Korupsi terus merajalela, hampir semua istansi pemerintah telibat dalam berbagai kasus korupsi baik yang besar maupun yang kecil. Namun demikian pemimpin di negeriku santai saja menanggapinya, mungkin juga karena dia ikut menikmati hasil korupsinya.

Oya sayang, sebelumnya saya mau mengingatkanmu agar suratku ini jangan diplublikasikan ya, bukan karena saya malu, tapi saya sedikit takut kalau suratku ini dipublikasikan, nanti pemerintahanku akan marah, dia akan menyuruh orang-orangnya untuk meneror bahkan sampai melakukan pemukulan.

Apa yang saya katakan ini, sudah pernah terjadi, ketika pemerintahanku mengusulkan pembebasan terhadap mantan pemimpin sebelumnya yang ditahan karena terbukti korupsi. Lalu pemerintahanku ini menyurati pemerintah Pusat Candonesia untuk memberikan remisi terhadap gubernur sebelumnya. Pernyataan tersebut kemudian mendapatkan kritik dan protes dari kalangan NGO khusnya yang konsen terhadap anti korupsi. Namum kritik tersebut di jawab oleh Gubernurku itu dengan SMS yang bernada teror bagi pengkritik, dan malah mengirimkan centeng-centengnya untuk melakukan teror.

Hal ini tidak berhenti disitu saja, tetapi terus berlanjut, kalau ada demontrasi yang mengkritiknya, gubernurku selalu akan menjawab, demontrasi ini diboncengi oleh kepentingan orang tertentu, malah lebih parah lagi yang terakhir ada demontrasi yang mengkritik pemimpinku. Dan apa yang terjadi, ternyata pemimpinku menelpon salah seorang temannya yang saat ini sebenarnya telah menjadi warga Negaramu Darwati (dia mendapatkan suaka politik), ketika Ancen masih konflik, untuk membereskan demontran di depan kantor pemerintahan.

Dan seperti yang telah di bayangkan semua orang sang demontran di pukul oleh centeng-centeng pemimpin kami, dan pemukulan itu terjadi di depan polisi yang sedang berusaha membubarkan aksi tersebut. Polisi pun hanya bisa melihat saja, mungkin polisi juga takut sama centeng-centeng pemimoinku itu, sayang.

Jadi pemimpinku ini sangat anti kritik dan bisa dikatagorikan anti demokrasi demi mempertahankan kekuasaannya, jadi sekali lagi tolong suratku ini jangan sampai kamu publikasikan ya, please honey.

Sayang mungkin cukup disini dulu surat saya ini, dan saya yakin kamu pasti bisa membantu saya untuk menyelamatkan negeriku ini. Keyakinan ku ini sebenarnya tidak berlebih-lebihan, mengingat pemimpinku ini pernah mengatakan dalam sebuah pidatonya, kalau dia suka menyetir mobil sendiri dan juga suka dengan perempuan yang cantik. Dan dia mengatakan dua hal tersebut tidak boleh di ganggugugat oleh siapa pun, sedangkan yang lain diperbolehkan.

Jadi berangkat dari kondisi tersebut, saya yakin kamu bisa membantu saya, karena parasmu yang cantik jelita, dan orang bule lagi, itu menjadi modal untuk menolong negeriku saat ini. Kamu datang kenegriku lalu membisikkan ketelingan pemimpinku sambil tidur-tiduran dengan sebuah kalimat “ saya akan memenuhi keinginanmu wahai pemimpin Ancen, asal kamu mau merubah nasib rakyat Ancen kearah yang lebih baik”.[]

  • No Related Post

56 komentar

  1. tuan syarif pitaloka says:

    sesuatu yang lumrah, bila kita menganggap sesuatu itu masalah, maka akan menjadi masalah, dan itu hanya ada pada orang yang berjiwa kerdil. tapi bila kita menganggap sebagai ssuatu yang tidak bermasalah, maka sesuatu itu tidak akan menjadi masalah… ohyq, makanya, jangan buat banyak masalah, kalau, tidak siap dianggap masalah oleh orang lain….

    hidup bang irwandi

  2. serambinews aceh
    “Hei.. Wandi alias Irwandi Ben Yusuf alias Tengko Agam Peu kapeugah, Sangsang Lagei kabeutoi thaat kah”

  3. Saudara saudaraku sehati seperjuangan, wajar sajalah comment nya tuan syarif PITALOKA seperti itu, tuan syarif PITALOKA itu adalah ayah dari Diah PITALOKA selir nya Prabu Kencana…

  4. Ali Amran Selian says:

    Penulis Cerita Pendek itu Banyak Benarnya… Karena Kami juga sering melakukan analys anggaran dan juga kebijakan publik ternyata anggaran untuk Aceh begitu besar tapi banyak yang tidak tepat sasaran, …misal di Aceh Tenggara Jalan masih layak dilalui tapi di overlay kembali dengan asphalt hot mix bayangkan dari dana otsus Kabupaten Aceh tenggara 2009 saja 25 M lebih untuk jalan tersebut lain lagi Jalan 2 jalur Belasan Milyar kenapa hal ini dilakukan kenapa tidak ke arah penigkatan SDM< program menaggulangi Pengangguran, Pertanian karena 83 % masyarakat Aceh Tenggara Petani… sekali lagi kenapa hal ini dilakukan….jawabnya karena PT. Gayotama Leopropita Aceh Tenggara Sebagi Produsen Asphalt Hotmix adalah ada Informasi 60 % saham Bupati Sisanya A Kwek Warga Turunan Berdomisili di Medan…selain itu kalau proyek fisik dilaksanakan yang kaya sejahtera itu Bupati, para Anggota Dewan, Kuasa Pengguna Anggaran, PPTK dan kontraktornya, Kurang percaya… mari kita survey ke Aceh Tenggara Yang Kaya, Mewah, Sejahtera adalah Para Pejabat Publik…..Trims….sementara rakyat banyak sengsara…..

  5. iwan aceh says:

    sebenarnya mengenai anggaran, gubernur menjadi dilema krn orang2 disekitar gubernur adalah orang2 PA/KPA dulu, tentunya merek merasa berjasa telah berjasa mengangkat irwandi jg gubernur 2006-2011, sehingga proyek2 yg telah dirancang oleh dinas2 semua dialihkan kepada para petinggi2 PA/KPA, jd sumber malapetaka macetnya pembangunan di aceh dikarenakan proyek pembangunan sudah mereka atur/setting sedemikian rupa. Banyak kasus2 proyek yg melibatkan PA/KPA, jika mrk meminta jatah/pajak naggroe pimpro/konraktor/pengusaha wajib memberikan berapa persen yg diminta oleh mereka sbg kompensasi atas proyek yg mereka berikan kepada pengusaha di aceh. tentunya kalau para pengusaha dpt memberikan komen di forum ini sudah pasti halaman forum tdk mendukupi….. itu dilema…

  6. ardie says:

    UNTUK HARIAN ACEH, TOLONG DILAKUKAN KONFIRMASI KE DPKKA PROVINSI (DINAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAN KEKAYAAN ACEH) MENGENAI PEMBAYARAN INSENTIF YANG DIBAYAR SETIAP TRIWULAN..
    TOLONG DIMUAT DI HARIAN INI AGAR PNS YANG BEKERJA MATI-MATIAN DI DINAS LAIN JUGA TAU BAHWA KALO JADI PENGELOLA KEUANGAN DAERAH BISA SUKA-SUKA HATINYA UNTUK “MEMPERKAYA DIRI SENDIRI”, KALO PNS DI DPKKA PUNYA BEBAN PEKERJAAN BERAT APAKAH PNS DI DINAS LAIN SEPERTI BAPPEDA TIDAK PUNYA BEBAN BERAT?????? TOLONG BAPAK GUBERNUR BERLAKU ADIL, KARENA D AKHIRAT PERTANGGUJAWABAN NYA SANGAT BERAT.. ATAU APA PERLA KAMI PNS DARI DINAS-DINAS SELAIN DPKKA MELAKUKAN AKSI MOOGOK BIAR BAPAK GUB TAU BAHWA TANPA KAMI JUGA RODA PEMERINTAHAN ACEH TIDAK AKAN BERJALAN… INGAT, KITA HARUSNYA BERSINERGI PAK, BUKAN DI DISKRIMINASI.. SALAM HORMAT..

KOMENTAR