Judul : Perempuan Keumala
Penulis : Endang Moerdopo
Tebal : xi+350 halaman x 2cm
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesi
Cetakan : 2008
Ibuku seorang perempuan. Tersimpan kekuatan pada dirinya. Kekuatan menggendong anak pada sisi kiri dan kekuatan mengguncangkan dunia pada sisi kanan. Tak ada yang sulit bagi perempuan. Ibuku berdiri di lorong yang sepi, menatap jauh masa depan anak-anaknya. Bersama dengan titian waktu.
Bercerita tentang pejuang perempuan bernama Keumala Hayati, seorang tokoh sejarah yang pernah ada di pesisir nanggroe yang kini mungkin telah terlupakan. Perempuan, yang didaulat sebagai laksamana tidak ada kata menyerah dalam dirinya. Satu-satunya laksamana perempuan. Melintas sebuah sejarah yang nyata dalam sebuah novel yang kaya akan ilmu pengetahuan dan sejarah. Penuturan yang khas dengan dialeg Aceh dan mengutip bahasa Aceh yang khas pula. Tidak ada petrjuangan tanpa pengorbanan. Hal itulah sebagai tombak utama prinsip Keumala.
Tegas dan selidik, begitulah sifat perempuan pejuang ini. Meskipun penuh tekanan, tapi ianya selalu menyerahkan hidup pada sang pemilik hidup. Tidak ada perempuan yang tidak dirundung duka, ketika kekasih tercinta tidak pernah pulang saat berperang melawan kafir. Aroma kekasih akan selalu muncul dalam setiap rindunya yang tidak terbendung. Kenangan penuh cinta akan membunuh semua angan yang pernah ada. Ah, malang betul nasib Keumala. Tidak pernah henti airmatanya mengalir sejak kematian suaminya. Seorang anak yang masih belia, tidak lagi mendapat kasih sayang bunda. Karena terpukulnya bunda kehilangan cinta. Hingga kering airmatanya.
Airmata itu kian kering. Tidak ada lagi senyum di wajahnya yang cantik. Didaulatlah ia sebagai Laksamana menggantikan suami tercinta. Ah, hatinya terasa hampa tanpa kekasih. Sehingga dalam benaknya tumbuh sebuah keinginan perang. Membunuh atau dibunuh. Terciumlah aroma darah panas diseluruh penjuru negri. Kafir belanda tidak bisa menganggap enteng walau ia hanya seorang perempuan. Keumala tersenyum getir ketika melihat negri yang semakin kacau. Atas persetujuan Baginda raja dibentuklah pasukan perang Inong balee, yang dilatih langsung oleh Keumala. Namun ternyata, Keumala harus diuji lagi. Anak kesayangan Keumala, buah kasihnya dengan suami tercinta kini harus menjadi tumbal atas jabatan yang ia emban. Bedebah istanalah yang membunuhnya ketika Keumala sedang mengadakan pelayaran menikmati waktu luang. Ah, Kemala haruslah menangis lagi dan terpuruk lagi. Kini bukan hanya kafir belanda menjadi lawan Keumala, tetapi musuh terberat adalah bedebah-bedebah istana yang kian mendustai baginda raja.
Agaknya begitulah sekilas pandang tetang cerita dalam novel ini. Membaca novel ini, kita bisa mengenal perjalanan sejarah dalam kekuatan seorang perempuan. Akan terasa hangat tetesan airmata setiap perempuan Aceh yang membaca novel ini. Dengan novel ini kita bisa mengenal perempuan Aceh dalam beberapa karakter. Perempuan Aceh yang luar biasa. Perempuan Aceh dalam rentangan sejarah. Cerita yang diselingi dengan canda, lucu, dan kisah romantis yang penuh cinta ini sesungguhnya adalah sebuah gambaran cerita tentang peperangan Aceh dengan Belanda dan beberapa Negara lainnya. Paling utama cerita ini bercerita tentang perjuangan hidup Laksamana Keumala Hayati dan terbentuknya kapal perang yang seluruh armada dan prajuritnya perempuan, Inong Balee. Inilah cerita yang mencampurkan fiksi dan nonfiksi, sejarah, realita dan khayal. Besar harapan dapat dibaca oleh perempuan-perempuan Aceh. Untut mengembalikan semangat juang perempuan Aceh dalam pergolakan dunia modern.
“Ibu berdiri di ujung sepi, suara air laut hanya terdengar lirih memecah keheningan di bukit Malahayati. Benteng Inong Balee telah runtuh hanya menyisakan bongkahan batu yang tidak bisa berkata-kata, untuk menguak fakta. Kejayaan lama telah pudar dan musnah di telan masa, tanpa ada satupun yang merasa perlu menjadikannya pernah ada.
Ibu miris melihat reruntuhan benteng Inong Balee yang menyisakan bongkahan batu tak bermakna dan kotoran hewan yang tercecer dimana-mana. Tak adakah yang ingin merawatnya? Air matanya bercucuran ketika melihat kenyataan yang pernah ada.”
Di benteng ini Keumala berjanji tidak akan ada lagi airmata. Namun tampak air mata yang berkunang-kunang di mata ibu yang menitik tiada habisnya. Ibu membalikkan tubuhnya, kembali menatap lautan lepas. Hatinya hancur mengenang masa yang tidak dapat berkata-kata, menatap tanah nanggroe yang terkena bencana tiada habisnya.ALLAHU AKBAR…! Diulas oleh Rismawati, mahasiswa PBSID Unsyiah