Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Tajuk Harian Aceh » Semen dan Dilematis Pasar

SABAN awal tahun baru para saudagar selalu membaca peluang pasar. Harga barang bakal meroket karena antara Januari dan April merupakan tahun anggaran. Pemerintah biasanya menaikkan harga-harga barang, terutama minyak dan gas bumi. Lalu merembetlah kenaikan itu kepada berbagai barang lainnya, utamanya kebutuhan pokok rakyat.

Itulah tradisi tahunan yang terjadi di negeri ini. Para saudagar kita melihat ada rejeki besar yang menanti di mulut tahun baru kuartal pertama. Kondisi seperti ini sudah menjadi tradisi pasar. Sudah dianggap lumrah bagi konsumen dan produsen. Tidak ada protes. Lalu, satu kejadian lagi, saat kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) merata jadwalnya secara nasional, kembali kenaikan barang terjadi pula bagaikan sudah diaba-abakan. Dengan serentak, kenaikan harga itu membuat PNS “mati kutu”. Hutang yang mau mereka tutup menjadi pemeo, “Gali lubang tutup lubang”.

Lalu bagaimana dengan logika pedagang dan saudagar tadi? Bagi mereka bukan alasan untung semata itu yang menjadi tujuan. Di antara mereka ada yang menganggap jangan sampai mereka menombok saat pembelian kembali komoditinya, karena harga sudah berubah ditingkat produsen.

Itulah yang terjadi pada level  barang-barang kebutuhan bangunan dan 9 bahan pokok. Penyimpangan logika pedagang dan saudagar terjadi manakala mereka benar-benar melihat bakal meraih untung besar di tengah perubahan harga dasar tadi. Lalu untuk meraih keuntungan besar berlipat ganda, barang-barang yang ada dalam gudang tidak dilepas ke pasar. Ditunggu saat harga naik, baru dilepas. Untung pun berlipat ganda.

Haramkah tindakan mereka? Ada aturan yang tidak membenarkan penimbunam barang karena berdampak pada naiknya harga barang tersebut. Itulah yang terjadi hari ini pada kenaikan harga semen. Semen menghilang di pasar. Pabrik semen, PT Semen Andalas Indonesia (PT SAI) sempat berhenti produksi karena aksi-aksi yang dilakukan masyarakat.

Masyarakat di seputar Lhoknga menilai ada tiga kesalahan di pihak manajemen. Pertama, mereka tidak mempekerjakan masyarakat sekitar pabrik pascatsunami. Para karyawan didatangkan dari luar Aceh. Kedua, pabrik tadi telah menimbulkan polusi lingkungan berupa debu semen di udara dan limbah buangan di laut. Betapa banyak kini masyarakat yang terkena gangguan ispa (saluran pernapasan atas) sampai ada yang menderita TBC paru gara-gara debu semen. Ketiga, pihak pabrik tidak mau menanggung penyakit yang diderita masyarakat akibat polusi debu semen tadi. Akhirnya, demo pun terjadi. Ini bukan satu-satunya alasan.

Kondisi kelangkaan semen bukan hanya terjadi di Aceh, tetapi juga di Pelembang, Riau, dan Sumatera Utara. Sedangkan pabrik semen di Padang tetap berproduksi. Stok terjaga. Namun, lagi-lagi sebagian pedagang disalahkan dengan nafsu serakahnya.

Yang terjadi di Aceh dan Medan adalah harga sememen sempat meroket. Di Aceh harga pernah mendekati angka Rp70.000/zak, isi 40 kg. Harga normalnya Rp32.000/zak. Lalu permainan harga berkisar antara Rp55.000 sampai Rp60.000/zak.

Dalam situasi kemelut harga tadi, polisi berhasil menyingkap para manipulator penimbun semen. Kita berharap agar kepada mereka diambil tindakan tegas dan menyita semen tadi untuk dijual kepada masyarakat dengan harga normal. Uang hasil penjualan itu bisa menjadi milik negara dari hasil barang sitaan.

Selanjutnya, kita berharap kepada para pedagang untuk tidak menyakiti hati rakyat dengan kerakusan-kerakusan penimbunan. Dalam pergantian tahun, banyak proyek pemerintah yang menanti. Semen menjadi kebutuhan pokok pembangunan. Para distributor janganlah coba-coba bermanipulasi. Bila tertangkap tentu akan merepotkan Anda juga.[]

Baca Juga >>

Tags:

Leave a Reply

© 2008 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress