Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Feature » Selamat Tinggal Sang Penakluk

Kreasi-Rotan

Berbagai kreasi rotan dijual pedagang hasil kerajinan tangan pada malam Expo Budaya dan Hari Ulang Tahun Pidie Jaya, beberapa waktu lalu.

DALAM khasanah budaya Nanggroe, rotan memiliki peran besar di dunia pendidikan pemula. Di rumah-rumah pengajian dasar Al Qur’an di kampung-kampung pedalaman, guru mengaji acap memegang sebatang rotan seukuran jari dengan panjang sekira 60 centimeter sembari mengelilingi balai-balai tempat anak-anak duduk bersila belajar mengaji.

Anak yang malas mengaji atau suka mengganggu teman di sampingnya, akan segera disabet rotan itu, baik di paha atau punggungnya. Saat sang murid tumbuh dewasa, peristiwa itu biasanya akan diingat sebagai kenangan masa lalu yang indah dan acap menjadi bahan cerita di antara kawan-kawan yang berasal dari berbagai daerah pedalaman di Aceh, yang ternyata rata-rata pernah merasakan sabetan “bertuah” serupa dari teungku pengajiannya di kampung masing-masing semasa kecil.

Ketika Hukum Syariat mula-mula diterapkan di Aceh, banyak warga yang tertimpa sanksi cambuk di depan massa akibat suka berbuat maksiat. Mereka dilecut dengan rotan berdiameter 0,75-1 centimeter plus panjang 1 meter oleh algojo hingga punggungnya bilur-bilur.

Saat itu, orang-orang yang masa kecilnya belajar mengaji di kampung-kampung pedalaman acap berbisik dengan kalimat yang penuh rasa syukur, di mana sebuah keberuntungan telah mereka dapatkan dengan kenyataan bahwa iblis-syetan di tubuh mereka telah dihalau oleh teungku-teungku sejak mereka kecil dulu di rumah-rumah pengajian kampung. Menurut mereka, jika hal itu tidak terjadi, mungkin mereka termasuk yang dirajam di depan umum juga hari itu.

Tapi di tangan para perajin, awee bukan untuk cemeti, tapi berubah menjadi keranjang ikan (raga muge ungkot), tudung (tutup) saji, tampungan cucian, ceurana ranup, pot hias di atas meja sice dan lain-lain.

Sehari-sehari para perajin biasanya dapat menyelesaikan 3 hingga 5 keranjang berbagai model dan ukuran. Hasil kreatifitas jemari mereka itu ditampung di toko-toko penjual barang-barang hasil kerajinan tangan. Harga keranjang ikan (raga mugee) berkisar antara Rp. 150 ribu hingga Rp. 200 ribu per buah.

Kwalitas barang kerajinan jenis keranjang sangat tergantung dari pilihan rotannya. Rotan yang beredar di Pidie kebanyakan berasal dari Tangse dan Geumpang. Tapi rotan yang berkualitas paling bagus, menurut para perajin di sejumlah kampung di Pidie, berasal dari Padang Tiji dan Meureudu, Pidie Jaya.

Keuletan tangan merubah rotan menjadi berbagai bentuk keranjang yang umumnya diwarisi para perajin dari orangtua dan kekek mereka secara turun-temurun ini membuat mereka nyaris tak perlu memikirkan pekerjaan lain. Dari sini mereka biasanya dapat meraup penghasilan rata-rata Rp 50 ribu hingga Rp. 80 ribu per hari.

Pada umumnya meski kulit jemari yang tebal-kasar akibat pergesekan dengan rotan selama bertahun-tahun, namun itu bisa mengantarkan mereka hingga mampu membiayai anak-anak mereka belajar di perguruan tinggi. Tapi tentu mereka tidak melecuti semangat belajar anak-anaknya kendati mereka harus kuliah dengan sejumlah jajan yang tidak begitu berlebihan sebagaimana anak-anak orang berada dengan lecutan rotan; tentu.

Tentang fungsi edukasi-spiritual dari rotan sebagaimana digunakan terhadap generasi-generasi terdahulu di Aceh, mereka dapat memastikan bahwa tradisi memberangus potensi maksiat sejak dini dari tubuh dan jiwa para generasi dengan lecutan rotan dari tangan bertuah sang guru mengaji, sekarang sudah tidak ada lagi.

Sistem di dunia pendidikan pemula moderen, kini tidak lagi mengizinkan awee ikut bicara. Kendati tak ada yang membantah bahwa sang awee punya peran besar terhadap penaklukan potensi kecenderungan berbuat dosa di kehidupan paragenerasi. Selamat tinggal sang penakluk.[]

Teks dan Foto: Musmarwan Abdullah

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress