Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Puisi » Salasari

Salasari

Perawan desa di bawah salasari
bersenandung nyanyian telah dilupakan
di pancuran anak perawan desa
menguasai rambut yang panjang
bahwa salasari dimandikan

Salasari berdendang
di daun-daun bambu yang gugur
ini isyarat rindu
bagi salasari telah lama dilupakan
bola salasari yang bening menatap lekat-lekat

Kuteguhkan air salasari
mengikat janji di malam purnama
ku alirkan darah lewat nadi
panasnya sinar matahari salasari
kurindukan musim gugur
tak kubiarkan bunga salasari berguguran

Oh,
salasari yang dilupakan
mari kita padukan rindu pada jalan
bagi salasari tercinta
Jangan biarkan diri
terpaut janji manis pada salasari
masih tetap pada awal perjalanan
demi salasari
(Darussalam Agustus 2010)

Catatan Tak Bertanggal

Ada tak terungkap
semua masih misteri
penuh teka-teki tentang anak gelombang
menangislah wahai anak pantai
menunggu, nyanyian senja
rahmat Tuhan
biarkan kata manis
ada pada janji
berucap cinta
nanti akan dipertanyakan
akan ada pada catatan
(Banda Aceh, 9 Februari 2010)


Bagi Istri

Tujuh purnama telah kita lalui
menapaki arti cinta,
malam jadikan legenda
Malem diwa dan putri kayangan
rindu kembali ke kayangan

Mari kita padukan bulan
pada darah mengalir
biarkan air Krueng Daroy
titip salam bak Geunongan
akan mengukir cinta pada Putroe Phang
Mandi dengan dendayang-dendayangnya

Mari kita rindukan bulan lagi
bagi cinta,
kita lewatkan puing-puing tua
mari kita lewati arti hidup
bagi mahligai malam pertama
(Banda Aceh, 9 Juni 2010)

Antara Kita

Malam jadi saksi perjalanan malam
angin masuk kalbu menusuk makna
mengisahkan tentang janji kita ucap demi cinta
bak legenda asa demi malam

Bayu bawa diri pada suatu kesaksian
pada janji-janji kita
bara cinta antara ada dan tiada
walau pada bentuk semu
(Langsa, 6 Juli 2009)

Gadis Malam

Wangi dibawa angin sampai dalam tidurku
menghangatkan gairah malam yang dingin
keperaduan memadu sonaku
lentik jemari menghangat diri
wewangian atas kehadiran malam pada cinta
lelah dan letih diri pada sayang

Peraduan bulan memeluk malam
demi cinta asa dan semu
melawan malam demi sonakan perjalanan
(Langsa, 12 Juli 2009)


Legenda

Kulewati titi Lamnyong
puncak seulawah diliputi awan
air mengalir dengan diam
riak pantai Alue Naga mencerita anak nelayan
memberi kehidupan anak negeri pada cerita lama

Wahai Dangderia
sambutlah atas nama kepulangan
dari Salasari yang sudah lama tak ada berita
dari tahta Nurul A’la bak kejayaan masa dulu
adalah legenda terlupakan
(Banda Aceh, 5 Juli 2009)


zab-brasah

ZAB BRANSAH merupakan penggalan dari nama Zakaria Basyah Beuransah, alumni Pasca Sarjana Magister FKIP Unsyiah ini lahir  6 Juli 1964 di Gampong Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Mulai menggeluti dunia seni sejak tahun 1985. Karya tersebar di berbagai mass media, sering menjadi juri pada berbagai even lomba baca puisi. Kini menetap di Langsa.

Baca Juga >>

Tags:

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress