Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Tajuk Harian Aceh » Rumpun Melayu yang Layu

Rumpun Melayu Raya, bila kita jumlahkan populasinya di Asia, boleh dikatakan terbesar ketiga setelah Cina dan India. Penduduk Cina sekitar 1,3 milyar dan India sekitar 1,1 milyar. Cukup spektakuler di dunia. Sementara itu, Indonesia memiliki rumpun ini sejumlah 222 juta, sedangkan Malaysia sekitar 23,3 juta. Disusul Thailand (87,8 juta), Filipina (85 juta), Brunai Darussalam (338 ribu), dan Singapura (4,4 juta). Artinya, tidak ada bandingan dengan dua raksasa dunia tadi.Namun, secara kenegaraan, populasi penduduk rumpun Melayu ini cukup memberikan andil dalam aspek politik, ekonomi, dan kebudayaan, terutama bila negeri serumpun itu memadukan berbagai keselerasan kemelayuannya di kancah ASEAN dan Asia.

Sayangnya, padu serasi serumpun ini sudah lama retak. Keretakan pertama terjadi ketika Malaya dan Philipina menolak gagasan Presiden Soekarno dalam konsep negara Maphilindo (Malaya, Philipina dan Indonesia) ditolak Malaya.

Malaya melahirkan konsep negara baru Malaysia yang meliputi Malaya dan Serawak di Kalimantan Utara. Dari sini negarawan Soekarno menjadi berang. Lahirlah konfrontrasi politik “Ganyang Malaysia”.  Konfrontasi Indonesia yang dikomandoi Soekarno berhadapan dengan PM Malysia yang kala itu dijabat oleh Tuanku Abdurrahman. Bahkan, infiltrasi tentara dari KKO sempat menyusup, namun dua tertangkap pihak intelijen Malaysia.

Konfrontasi “Ganyang Malaysia” ini marak bertahun-tahun, hingga Soekarno lengser dari kekuasaannya. Kejadian ini sejalan dengan Peristiwa G.30.S/PKI pada 30 September 1965.

Kekuatan Angkatan Perang Indonesia pada masa itu amat disegani di Asia Tenggara. Secara militer, kita terkuat di Asia Tenggara. Politik luar negeri Indonesia juga amat memukau dunia. Mata uang Rupiah lebih tinggi dari ringgit Malaysia. Mutu pendidikan kita pun jauh lebih bagus. Malaysia mengirimkan mahasiswanya untuk belajar ke Indonesia.

Namun, roda berputar. Malaysia tampil meyakinkan dalam dunia ekonomi, walaupun belum mampu mengalahkan Singapura. Nilai ringgitnya meninggalkan rupiah, bermain pada angka Rp2.400/ringgit. Secara ekonomi, pertumbuhan ekonomi Malaysia pun tumbuh pesat. Buruh-buruh berdatangan mencari kerja. Mereka berasal dari Thailand, Filipina, Myanmar, Burma, Pakistan, Bangladesh, India, juga Indonesia.

Teori lapangan kerja, “Dimana ada gula di situ ada semut,” berlaku bagi Malaysia yang makmur sejahtera. Buruh-buruh kasar yang namanya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) berduyun-duyun mencari kerja ke negeri serumpun ini. Tentu saja ini merupakan awal baik bagi kedua rumpun ini untuk merajut kembali tirai lama. Namun, awal baik ini berubah menjadi buruk tatkala banyak TKI, TKW mendapat perlakuan sangat buruk di negeri jiran. Arogansi Malaysia ini merambah sampai ke bidang yang lebih sensitif, seperti klaim kepulauan yang dipersengketakan, yakni Sipadan dan Ligitan.

Segketa ini dimenangkan Malaysia melalui Mahkamah Internasional Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Malaysia kian bernafsu. Kini ia mengincar Pulau Ambalat dan sering terjadi insiden laut antara kedua negara. Sementara itu, berbagai bentuk tindak kekerasan dan pelecehan seksual kian merembah. Penyiksaan pembentu rumah tangga, pembunuhan dan kasus bunuh diri TKI Indonesia menghiasi lembaran media kedua negara. Dan kita dianggap sebagai si buruk rupa. Bahkan, buruh Indonesia diistilahkan dengan “Indon” yang bermakna budak belian. Penghinaan demi penghinaan ini terus berlangsung. Razia terhadap Melayu asal Indonesia merambah ke keluarga diplomat yang dirazia secara kasar dan biadab.

Kendati protes demi protes dilayangkan Pemerintah Indonesia, pihak Malaysia menepis semuanya atau bahkan bungkam seribu bahasa. Maunya Malaysia hari ini adalah hendak menunjukkan hegemoninya bahwa Malaysia kuat secara ekonomi, militer dan politik kebangsaan. Bahkan, mereka tanpa rasa malu memakzulkan sejumlah lagu-lagu Indonesia sebagai hak miliknya. Batik Indonesia pun dipatenkan sebagai temuannya. Inilah Malaysia yang kita sebut jiran Indonesia. Inilah Malaysia yang katanya maju dan beradab.

Tragedi, konflik politik, ekonomi dan budaya ini sedang jadi diskusi serumpun antara Malaysia dengan Indonesia dalam forum 16-18 November di Kuala Lumpur. Pertemuan budayawan itu dijembatani dalam forum dialog antara Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand (baca: Rumpun Melayu di Ambang Kehancuran, Senin 18 November, halaman 1).

Mudah-mudahan saja, pertemuan para budayawan ini, dapat menjembatani konflik Melayu yang bagaikan mabuk tapai. Bila “Mabuk tapai” ini tidak dihentikan, rumpun Melayu lama kelamaan akan menjadi layu. Harusnya bersatu memperkuat posisinya dalam kancah persaingan dunia, minimal di Asia Tenggara. Tetapi kenyataannya Malaysia, dan terkadang juga Singapura, menunjukkan kecongkakannya.(*)

Baca Juga >>

Tags: ,

Leave a Reply

© 2007 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress