Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » Psikopat

pikopat-cerpenTAK ada cela padanya dalam setiap pandangan orang lain. Bahasa yang terbit dari mulutnya penuh dengan keteraturan yang menunjukkan bahwa ia pribadinya terbangun dari keluarga dan lingkungan orang-orang berpendidikan. Ia laki-laki Pendiam. Peramah dan suka menyendiri; tiga hal inilah yang selalu diingat oleh orang-orang yang mengenalnya setelah koran-koran memberitakan kesadisannya.

Sebaliknya, ia, menurut beberapa wanita yang pernah dipacarinya adalah sosok pria yang romantis, galan, tetapi ia sendiri selalu merasa bahwa dilahirkan ke dunia adalah suatu kesalahan yang dilakukan Tuhan. Dunia ini adalah limbah yang dihuni manusia-manusia busuk.

Setelah ibunya dibawa lari laki-laki lain, ayahnya bunuh diri di suatu pagi yang bening, dan ia jadi anak jalanan selama beberapa tahun dan selalu mengantongi potongan kertas berisi pesan sang ayah; Anakku. Kau jangan pernah percaya dengan yang namanya perempuan.

Seorang laki-laki tegap kemudian membawanya ke kampung halaman ayahnya. Ia masih terlelap di kolong tol di pinggiran barat Kota Jakarta ketika itu. Adik ayahnya mengenalnya karena mereka sempat berfoto tiga setengah tahun lalu. Mula-mula ia menolak, tetapi, entah dari mana datangnya ingatan akan Kebo yang dibakar hidup-hidup dua minggu lalu di belakang Mall Angrek akhirnya ia menurut. Kebo merupakan bosnya yang suka mabuk-mabukkan, mengompasi para pemulung di sekitar tempat itu, dan suka membawa pelacur ke gubuknya; tidak hanya satu bahkan kadangkala double.

Siti Donna Bella, anak pamannya, tak suka padanya, malah jijik karena kulitnya yang dipenuhi kurap dan kudis. Juga Maminya Siti, perempuan yang dibesarkan oleh wangi parfum impor dan selalu terbalut kain mahal. Apalagi paman yang bisa diatur istrinya, yang selanjutnya memindahkannya ke sebuah pabrik padi yang dipunyainya.

Namun, perlahan-lahan Tuhan mulai ia rasakan bermurah hati padanya ketika ia mengenal para petani lugu. Alam desa yang permai. Udara yang bersih. Keindahan-keindahan pada tali keakraban antar sesama dalam masyarakat pedesaan. Begitulah akhirnya, ia mengenal Asiah, kembang desa berbibir merah alami dan berpipi seperti tomat matang.

Asiah, anak Teungku Ibrahim, sungguh sayang dipandangnya bila melintas lewat pabrik padi di senja hari yang lembut. Lalu, diam-diam melirak-lirik dengan ekor matanya. Tapi, tiba-tiba Asiah dipinang seorang pemuda kampung sebelah timur yang baru pulang meraih gelar sarjana dari kota dan tak lama setelah itu Asiah pun diboyong ke kota provinsi. Dan, ia, kembali berduka. Pikirannya terguncang. Benih kemuraman kehidupan kembali muncul menyeruak.

Pikirnya, perempuan memang sama saja. Kota desa sama saja. Mereka pembawa nestapa, kesedihan, duka lara bagi laki-laki. Akan tetapi, Asiah seakan tak mau hilang di hati. Selalu. Hingga di suatu sore, setelah berpuluh-puluh bulan kemudian, ia bersua kembali dengan Asiah di pematang sawah. Di sanalah ia mengungkapkan perasaan cintanya, bahwa, selama hidupnya belum pernah ia menemukan perempuan sebaik Asiah, perempuan sesantun Asiah, dan seelok Asiah. Asiah seperti mahakarya Tuhan; panorama alam persawahan yang dilatari pegunungan dan di celah-celah pegunungan tersebut terlihat segaris garis putih, yakni, air terjun yang memberikan penghidupan kepada manusia.

Ibu muda itu tertawa. Dan, ia melihat perempuan aduhai ini telah berubah. Tak ada lagi jemarinya yang lentik segera menutup mulutnya yang mungil apabila tertawa. Air mata Asiah pun tumpah seketika. Bahunya mengguncang, terduduk di pematang sawah sambil memegangi perutnya. Lantas, telunjuk mengacung ke wajahnya, Kau yang berbau kambing tak disunat mengatakan menyukaiku. Sungguh tak tahu malu. Heh, kambing bandot tengik… he he he aku sudah muntah duluan tercium baumu.

Prak. Tubuh montok itu tak sadar diri ketika tangannya menetak tengkuk. Memanggulnya dengan cepat ke semak. Dan, peristiwa itu terjadi. Tak ada balas dendam yang lebih memuaskan laki-laki selain menggagahi, melihat ketakutan, memohon ampun seraya mematuk-matukkan kepala ke tanah.

Itulah pembunuhan pertama yang dilakukannya. Ia ingat betul bagaimana setelahnya, melarikan diri ke Medan lalu Jakarta. Berteman dengan para bajingan. Menjadi pemeras, penodong, penadah, dan gigolo dalam pelukan nyonya-nyonya kesepian. Tak segan ia membunuh siapa saja yang menurutnya harus mati.

Ia seperti melihat kembali ibunya pada perempuan-perempuan di dekatnya. Termasuk Asiah yang dikiranya sejernih air yang mengalir di alur persawahan. Rupa-rupanya, tidak seperti yang ia duga.

Hanya satu cara ternikmat baginya untuk membunuh perempuan, terutama yang cantik dan yang manis-manis, cuma dengan pesona dan trik memikat dari seorang laki-laki metroseksual; hem Van Heusen, Pierre Cardin, atau Releigh, dan celana Levis, serta sepatu Versace, dan jam tangan Rolex. Apalagi ketika ia dan Giano, pria peranakan Spanyol Manado, menyatakan saling cinta sehidup semati. Giano desainer ternama yang menjadi jaminan kemapanannya dan senantiasa berharap agar ia tak menyelingkuhinya. Karena, menurut laki-laki pesolek itu, perselingkuhan merupakan bentuk perbuatan setan yang sangat dibenci agama mana pun di dunia ini. Demikian pula bagi keduanya.

Begitulah, saat ia bersua kembali dengan Siti Donna Bella, anak pamannya yang rupawan, di pub langganannya malam itu. Gadis cantik itu tak mengenalnya lagi. Sudah beberapa kali ia melihatnya. Terkadang bersama seorang pria jangkung bermuka kecil dan berkacamata. Kadangkala bersama seorang wanita yang berpinggul rata. Maka, diawali dengan perkenalan yang takkan terlupakan oleh ingatan gadis itu, lantas mereka turun melantai dalam beberapa irama dansa; blues, waltz.

Malam ini adalah pertemuan kelima. Siti Donna Bella tak peduli semua mata memandang mereka. Bahkan Siti menafsirkannya sebagai keserasian yang jarang terdapat di dunia dan mengundang iri siapa saja. Siti Donna Bella bukan lagi gadis daerah yang diwajibkan berjilbab. Cinta baginya adalah suka sama suka. Maka tak ditolaknya ketika ia dibawa ke sebuah rumah mungil namun cantik. Dituntun ke sebuah ruang tamu yang dipenuhi perabot roccoco bergaya abad pertengahan. Saling mengawali bersulang anggur. Kedua-duanya seperti ingin selekasnya mabuk. Tapi tidak laki-laki itu. Tubuhnya telah terbiasa dengan pengaruh alkohol. Di tengah tawanya yang berderai, laki-laki itu mengakui bahwa dialah laki-laki bau kambing yang dulu memisahkan tubuh Asiah menjadi tiga bagian; kepala, tubuh, dan kaki.[]

Tanjong Selamat, 4 Maret 2009

Oleh Edi Miswar Mustafa

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress