Karya Heriansyah
Wan Yunus masih saja bersandar di dinding papan mesjid tua di pinggiran Ibukota Kecamatan Antah, pada malam 18 Ramadhan. Biasanya, dia langsung kembali ke rumahnya yang berjarak lima kilometer dari mesjid tempat ia biasa shalat tawarih, seusai melaksanakan salat malam.
“Pulang kita, Wan?” tanya keponakannya. Keponakan Yunus kini sering menjadi pengemudi ojek yang selalu membawa dan mengantar Yunus dari dan ke rumahnya. Yunus hanya menarik nafas dalam tanpa menjawab pertanyaan Rahmat, keponakannnya.
Sesaat kemudian dia bangkit dari duduknya sambil berpegang pada tiang mesjid, kemudian menuju pintu keluar. Dia beranjak ke lokasi parkir kenderaan roda dua. Meskipun usianya telah melebihi 60 tahun, semangatnya belum kendur. Jalannya masih gagah, bahkan masih senang bercengkrama ketika bertemu dengan sahabat seusianya.
“Saya merasa heran, Mat,” suara Yunus lirih memulai percakapan.
“Heran mengapa, Wan?”
Yunus kembali menarik nafas. “Tadi si Maulana mengirim pesan pada emaknya melalui Sekdes. Katanya, dia akan merasa senang bila dirinya dipindahkan dari jabatan yang sedang dipegangnya saat ini.”
“Terus, Wan.”
“Terus, kamu ambil kenderaan biar kita segera pulang,” ujar Yunus.
Kenderaan dikemudikan Rahmat pelan, dengan harapan Wan-nya itu kembali bercerita tentang kegusaran dirinya. Harapan terkabul.
“Di tengah orang berebut jabatan, kok Maulana mau melepas jabatan ya, Mat?” kata Yunus. “Aneh rasanya. Bukankah ketika kita memegang jabatan mendapat tambahan uang jabatan, selain gaji?” papar Yunus yang pensiunan polisi berpangkat akhir Brigadir itu.
Rahmat tidak berkomentar, dia masih konsentrasi membawa kenderaan yang mulai menjauh dari mesjid. “Hati-hati, Mat,” pesan Yunus. Kata itu kerap disampaikan Yunus kepada Rahmat setiap memasuki jalan berbatu menuju kampung mereka. Jalan ke kampung mereka sudah lama tak kunjung diaspal.
“Wan, pegang yang kuat ya,” kata Rahmat.
Bagi Rahmat, bukan hal yang sulit melalui jalan yang sudah saban hari dilaluinya itu. Meskipun daerah itu baru kembali ramai pascakonflik, namun penerangan yang dulu ada belum aktif. Sepanjang jalan masih gelap. Rumah-rumah penduduk pun, masih satu dua yang dialiri listrik. Makanya, Rahmat tak bosan mengingatkan Wan Yusuf agar berpegangan erat.
Jalan menuju kampung mereka, bukan hanya gelap dan berbatuan, kalau musim hujan, jalanan di sana juga licin. Nah, kemarin malam kampung mereka kembali diguyur hujan. Yunus mencengkram erat pada pundak Rahmad saat ban sepeda motor mereka melintasi batu-batu sedikit besar sehingga menyulitkan Rahmat dalam melursukan stang kendaraan. Sepeda motornya adalah jenis vespa keluaran tahun 1993.
“Rahmat.”
“Ya, Wan.”
“Jika kamu nanti sampai ke ibukota kabupaten dan bersua dengan Maulana, sampaikan padanya untuk berpikir bijaksana, agar jangan menyesal setelah melepaskan jabatan,” ujar Yunus memecah kebisuan.
“Baik Wan, memang besok saya berencana akan ke kota untuk mencari informasi tentang pembukaan penerimaan pegawai di kantor bupati. Pastinya, dapat berjumpa dengan Maulana di sana.”
Rahmat diwisuda setahun yang lalu terpaksa mengojek atau menjual jasa pengantaran kepada warga desa yang ingin ke ibukota kecamatan berjarak sekitar 5 kilometer. Hal itu dilakukannya guna mengisi sakunya yang tidak mungkin lagi bergantung kepada kakak tertua, pengganti kedua orang tuanya. Sementara tanah peninggalan abinya, telah dijual untuk biaya semasa kuliah. Vespa yang digunakan itu pun milik abang iparnya. Jika hari pekan, biasanya Rahmad membawa hasil kebun saudaranya untuk dijual, terkadang memberikan penghasilan yang lebih dari jasa angkut itu. Dalam bulan Ramadhan ini, dia telah dikontrak Yunus untuk mengantar-jemput ke mesjid di ibukota kecamatan.
Terkadang dia juga harus mengantar Wan Yunus ke meunasah di desa lain, sebab Yunus kerap diminta menjadi imam dan penceramah Ramadhan. Asyiknya bagi Rahmat, dia dapat bertarwih jamaah di berbagai tempat dalam Kecamatan Antah.
“Singgah Mat, tadi etekmu ada buat kolak ubi dari kebun belakang,” ajak Yunus ketika sudah sampai di rumahnya.
“Terima kasih, Wan, besok saya mau ke kota. Perlu istirahat yang cukup.” Selesai berkata demikian, Rahmat memacu vespa bututnya sambil berlalu dari rumah yang lebih mewah dari rumah di sekitarnya itu.
***
Di ibukota kecamatan, Rahmat merasa heran melihat suasana sunyi di kantor yang ditujunya, sementara yang memakai seragam di kantor itu terlihat berkelompok, antara tiga sampai empat orang. Mereka saling membagi cerita sambil tertawa lepas. “Assalammualaikum, bisa saya bertemu dengan bapak Maulana,” sapa Rahmat.
“Pak Maulana sedang rapat pelantikan pejabat baru di gedung,” balas Razi, Satpam piket kantor seusai menjawab salam.
“Di gedung mana ya pak?”
“Saudara ke arah kiri dari sini, kemudian belok kanan, terus aja. Jika melihat ada orang ramai-ramai, di situ acaranya.”
Betul kata Satpam itu. Di sini memang ramai, tapi di mana maulana, batin Maulana. Tiba-tiba ia dikejutkan teguran lembut dari arah belakang. “Bang Rahmat mau cari siapa?”
“Eh Sita, gak, mau lihat-lahat aja,” jawab Rahmat sedikit gugup.
“Jangan bohong, apa bang Rahmat tidak puasa?”
“Oh ya, mau berjumpa dengan Maulana. Katanya ia di sini. Sita, ngapain?”
“Sama, mau melihat-lihat juga, tapi pak Maulana, kepala bagian itu, tidak kelihatan dari tadi di sini. Ada apa ya?”
“Hanya mau menyampaikan pesan dari orang tuanya, sekaligus saya mau mencari informasi tentang penerimaan pegawai di kantor bupati, gitu.” Rahmat mulai santai.
“Gini aja bang, usai acara ini kita jumpa. Banyak info yang bakal aku sampaikan,” kata Sita.
Rahmat belum mengerti yang dimaksud Sita. Adik letingnya semasa kuliah dulu yang tidak selesai karena keburu berumah tangga atas desakan orang tuanya itu saat ini sudah menjadi pegawai rupanya.
Secarik kertas disodorkan Sita kepada Rahmat, sambil matanya melirik liar mencari sahabat yang mungkin bertemu di lokasi itu. “Apa ini,” heran Rahmat.
“Pokoknya dibaca aja, nanti abang akan punya kesimpulan sendiri,” ujar Sita sambil meninggalkan Rahmat bergegas. Kertas itu pun masuk dalam saku celana jeans belel andalan rahmat.
Beberapa saat kemudian, Rahmat melihat kertas pemberian Sita yang singkat serta tidak beraturan itu. Sepertinya penulisannya buru-buru itu. Dengan raut wajah penuh keheranan, Rahmat membaca kata demi kata di sana.
“Ass. Bang, jika ingin menjadi PNS, harus menyiapkan segepok uang, kemudian membangun hubungan dekat dengan para pejabat yang ada, baru harapan abang dapat terkabul. Hal ini bukan lagi sebuah rahasia. Bisa dan tidaknya abang menjawab soal, bukan menjadi satu ukuran, yang penting money dan hubungan dekat dengan penguasa.
Untuk mulus menjadi PNS, surat keterangan sebagai tenaga honor asli tapi palsu pun diperoleh secara mudah melalui permainan sejumlah oknum yang piawai akan hal itu, mungkin sebagai sumber pemasukan tambahan. Sejak adanya pemutihan tenaga honorer, bermunculan tenaga honor aspal. Anehnya, yang jelas-jelas tidak ada honor dapat menjadi PNS, bahkan melenggang tanpa tanpa beban, demi memenuhi tuntutan hidup segalanya halal. Pokoknya banyak yang antik-antik, Bang.
Menjadi pemikiran kita, mengapa bisa, ternyata dua hal tadi kuncinya. Makanya, andai Abang menginginkan jadi PNS, kuatkan dua hal itu. Tanpa kedekatan Abang dengan pengambil keputusan, bisa-bisa jurusan abang tidak akan pernah ada penerimaan. Semoga dapat dimaklumi. Terima kasih dan Salam.”
Rahmat melipat kembali kertas pemberian Sita itu sambil merenung. Hatinya mulai menerawang memecahkan teka-teki tersebut. Apakah Sita sekarang sudah menjadi tenaga honor di kantor itu? Kalau ada SK siluman, tentunya melibatkan berbagai pihak. Mungkinkah ini juga yang membuat Maulana mau mundur karena terlibat dalam permainan tersebut, sementara bertentangan dengan hati nuraninya? Atau memang dianya mau dipindahkan tetapi malu menyampaikan pada orang tuanya sehingga berdalih mundur?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati Rahmat. Kalau memang begini adanya, apa arti menjadi seorang sarjana. Diengkolnya vesvanya kembali dan dengan gas tinggi Rahmat melaju pulang ke rumahnya. Dia terus berpikir, jawaban apa yang akan diberikannnya kepada Wan Yunus yang sudah menunggu dengan gusar.
Ket: Wan: sapaan yang berarti Paman (bahasa Minang/ Aneuk Jamee)