MENANAM pisang di jalan umum tidak ada dalam khasanah perilaku bersayap atau tindakan satire masyarakat Aceh. Yang ada hanya menanam padi. Tetapi dalam lima tahun terakhir ini orang cukup sering membaca di koran (terbitan Aceh) tentang warga yang menanam pisang di jalan-jalan umum seperti yang terjadi di jalan Sigli-Garot, Indrajaya, Pidie beberapa waktu lalu.
Tarmizi, 35 tahun, agen aneuk mulieng warga Gampong Adan Jumphoih, Mutiara Timur, Pidie waktu itu mengatakan bahwa di hampir semua jalan di pedalaman Kabupaten Pidie pernah menggelinding roda sepeda motornya. Dan setiap melewati jalan dari Sigli menuju ke Keudee Garot, Indarajaya dan terus dari Reubee menuju ke Padang Tiji, dia selalu terbayang seakan-akan pemimpin kabupaten tersebut telah mati.
Dalam keluhan Tarmizi berikutnya tersirat suatu gambaran penyesalan yang menurut ayah dua anak ini bisa dijadikan representasi dari keluhan warga umumnya, terutama masyarakat yang mendiami kawasan sepanjang jalan Sigli-Garot dan juga jalan Teungku Chik Di Reubee, bahwa kondisi infrastruktur transportasi yang demikian memprihatinkan adalah suatu hadiah kesengsaraan dari para penentu kebijakan pembangunan yang telah kehilangan urat respektifitas.
Dan lihatlah, sepanjang tujuh kilometer jalan yang melintasi beberapa kampung di antara pasar Garot-Reubee, Kecamatan Delima dan Indrajaya hingga tembus ke pusat pasar Kecamatan Padang Tiji serta pasar Garot dan Kota Sigli kondisinya sangat meresahkan masyarakat kawasan itu. Lapisan aspalnya sudah banyak yang terkelupas sehingga lubang-lubang yang menganga memenuhi segenap badan jalan. Para pelintas pengguna mobil dan sepeda motor acap terlihat membawa kenderaannya dengan gaya zig-zag demi menghindari lubang-lubang maut tersebut.
Beberapa waktu lalu di jalan ini pernah ditanami batang pisang oleh warga setempat. Maka alkisah tersebutlah bahwa memacang tanaman di jalan becek awalnya hanya ada dalam bahasa, bukan tindakan, yakni dalam ungkapan satir. Sering terdengar dalam dialog masyarakat, bila ada pertanyaan tentang kondisi suatu jalan tertentu, maka lalu dijawab, “Kajeut ta seumula.”
Secara harfiah jawaban itu bermakna, sudah bisa kita tanami sesuatu. Arti sesungguhnya yaitu, sudah bisa kita tanami padi. Jadi mulanya, dalam ungkapan satir itu pun tidak ada yang namanya, “Kajeuet ta pula pisang.” Yang ada hanya, “Kajeuet ta seumula.” Yaitu, menanam padi.
Jawaban, “Kajeuet ta seumula.” (sudah bisa kita tanami padi) itu pun bukan jawaban dalam arti kata yang sesungguhnya. Dia hanya ungkapan satir (Inggris: satire, ejekan). Bermakna, saking buruknya kondisi jalan yang dimaksud, hingga dia disamakan dengan kondisi tanah sawah yang sudah demikian matang untuk ditanami padi.
Lalu apa arti menanam padi di jalan? Apakah hanya semata-mata sebagai visualisasi dari madah satir ungkapan lepas khas keseharian orang Aceh yang tengah beurigen dengan kondisi fasilitas umum di kampungnya? Tidak juga sebatas itu. Tapi ada tujuan inti. Yaitu mengejek perilaku abai pemegang otoritas tanggung jawab kemaslahatan kehidupan publik. Yang dalam hal ini adalah penguasa dan jajarannya.
Lantas kenapa gaya satir dalam beberapa tahun terakhir ini vektornya berubah dari tanaman padi ke tanaman pisang? Jawabannya sederhana. Padi belum tentu ada sepanjang musim. Sedangkan batang pisang ada setiap saat. Lagi pun ciri khas jalan berkondisi buruk saat ini belum tentu dalam wujud becek-berlumpur sebagaimana zaman dulu. Sekarang yang namanya jalan-buruk lebih kerap berupa kondisi lapisan aspal yang terkelupas atau berlubang. Jadi pergantian vektor dari padi ke pisang memang sesuai fakta material zamannya.
Lalu kemarin sesuatu yang “menggenaskan” terjadi. Sebuah berita yang berjudul “Warga Kubur Bupati di Jalan Garot” terpampang di surat kabar ini. Saya yang tengah berada di Banda Aceh dalam rangka urusan pribadi langsung berseru dalam hati, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.”
Tetapi, astaghfirullah, isi berita itu rupanya, “Dua buah kuburan dibuat di jalan Garot, Indrajaya, Kabupaten Pidie. Dua kuburan di tengah jalan tersebut di nisannya tertulis Almarhum Bupati dan Almarhum Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie.”
Sambung berita tersebut, “Kuburan itu dibuat warga Sabtu tengah malam (24/7) sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie yang sudah lama membiarkan jalan tersebut rusak.”
Kata orang, “Cara orang Aceh mengejek penguasanya yang lalai memang sangat santun. Tapi “pedih”nya minta ampun. Hanya penguasa yang benar-benar bebal yang tak mempan dengan gaya kritik macam itu.” Ah, Pidieku yang malang, ada-ada saja you punya perkara.[]