Kita semua tentu takut mendapat bencana atau konflik. Namun hanya sedikit dari kita yang sepakat untuk tidak mengundang bencana. Sesungguhnya, bencana yang terus-terusan mendera kita adalah buah dari permintaan kita sendiri.
Begitu banyak dari kita yang terlibat perusakan hutan dan pencurian kayu (illegal logging), sehingga mendatangkan bencana banjir bandang dan bentuk bencana alam lainnya. Dari perspektif agama, alam itu tidak berdiri sendiri dan tidak ada bencana yang tidak ada kaitannya dengan ulah manusia.
Dalam Islam juga disebutkan bahwa ada bencana yang memang semata-mata kehendak Allah dan ada bencana akibat kesalahan manusia, baik kesalahan fisik seperti perusakan hutan yang mengakibatkan banjir dan kekeringan, serta kesalahan moral seperti kemaksiatan yang merajalela, pengkhianatan terhadap amanat, hukum, kebohongan, dan kepura-puraan.
Meski kita semua tahu bahwa setiap kemungkaran akan mendatangkan bencana, namun tetap saja kita tak mau berupaya menjauhkan diri dari kemungkaran itu. Bahkan, seperti yang dipertontonkan di Aceh sekarang, para pengambil kebijakan di daerah ini secara beramai-ramai melegalkan pagelaran yang berpotensi terjadi pelanggaran Syariat Islam. Di sisi lain, daerah ini sedang giat-giatnya melaksanakan penerapan Syariat Islam secara kaffah. Bukankah ini sebuah kebohongan dan kepura-puraan?
Berkaca pada tsunami yang meluluhlantakkan Aceh di penghujung 2006 lalu, mengingatkan kita pada sebuah cerita sebelum bencana itu terjadi. Malam sebelum gempa dan tsunami menyerang Aceh, di dekat kompleks makam Syiah Kuala, ramai oleh pesta. Dan, esok hari, tsunami menyerang.
Saat itu, selain disiarkan televisi, cerita tersebut juga menghiasi halaman media cetak, tak terkecuali koran-koran Malaysia. Sehingga Wan Abdul Hakim, warga Malaysia yang bekerja di Konjen Kedutaan Malaysia di Medan, mengunjungi kompleks makam itu. Tujuannya cuma satu, yakni ingin mencocokkan berita yang dimuat di berbagai media di Kuala Lumpur mengenai suasana malam terakhir sebelum terjadi bencana gempa dan tsunami di komplek makam Syiah Kuala.
Menurutnya, mingguan dan koran di Malaysia menulis berita mengenai suasana di kompleks makam Syiah Kuala pada malam terakhir menjelang bencana. Diberitakan, pada malam 25 Desember itu ada pesta di makam tersebut. Ada memang yang melarangnya, tapi malah dimarahi. ”Dan setelah saya cek langsung dengan warga, berita itu ternyata benar,” kata Wan Abdul Hakim kepada wartawan saat berkunjung ke Aceh, seminggu pascatsunami.
Kalau memang tsunami 26 Desember 2004 sering kita kaitkan dengan pesta di malam sebelum bencana terjadi, mengapa ‘pesta-pesta’ lainnya masih terus berlangsung di Aceh? Bahkan secara beramai-ramai melegalkan berbagai perhelatan yang berpotensi lahirnya pesta-pesta maksiat.
Karenanya, sudah saatnya kita menjauhkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan yang dapat mengundang adzab Allah. Bukan malah larut dalam pesta yang rawan kemaksiatan seperti yang kini sedang berlangsung di ibukota negeri syariat. (ha030809)
duh, jadi mengaduk-aduk rasa
oh ya, mohon izin pasang linknya di weblog risman ya. Trims
Iya, silahkan, terimakasih sudah mau ngelink….
salam
harian aceh.