Persoalan Anak dalam ScreenDocs!

By admin at 7 November, 2009, 11:46 am

Pendidikan yang mahal tentu menjadi momok bagi orang miskin yang ingin melanjutkan studinya. Anak-anak yang putus sekolah terpaksa—malah dipaksa—bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini terekam dalam  Film Dokumenter yang diputar di Episentrum Uleekareng, 25 Oktober 2009 silam.

Salah satu realita kekinian tentang pekerja anak terekam dalam film dokumenter Di Atas Rel Mati (2006). Film yang disutradarai oleh Nur Fitriah Napiz, dan Welldy Handoko telah mendapat banyak penghargaan, di antaranya Best Editing, Metro TV Eagle Awards 2006, Jury’s Favorite and Nominee for Best Film in General Category at Documentary Film Festival Indonesia 2006, Nominee for Best Documentary at ABU/CASBAA/Unicef Child Rights Award 2007, Best Documentary at Konfiden Film Festival Indonesia 2007, Nominee for Best Documentary at Indonesia Film Festival 2007.

Film ini bercerita tentang beberapa anak yang bekerja sebagai pendorong lori. Film ini menceritakan tentang Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto tentang keseharian mereka sebagai ‘anak lori’. Anak-anak ini mencoba bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dao Atas, Ancol – Jakarta.

Latar belakang kemiskinan telah membuat mereka putus sekolah. Kehidupan sebagai anak lori membuat mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting. Hal menimbulkan sikap skeptis dalam memandang masa depan. Awalnya mereka pernah bercita-cita untuk menjadi polisi, tentara, gubernur, dan sebagainya, tapi cita-cita itu telah mereka buang setelah melihat realita dunia pendidikan yang kurang “ramah” pada mereka. Sehingga mereka memilih menjadi “anak lori”.

Tentu saja cerita di atas tidak hanya berlangsung di Jakarta, tapi juga di berbagai pelosok tanah air. Walaupun konstitusi telah mengamanahkan agar 20 persen dana APBD atau APBN digunakan untuk sektor pendidikan, tapi iktikad ini belumlah terimplementasi di semua daerah di negeri ini.

Faktor anak yang ingin mandiri serta eksploitasi anak juga terekam dalam film yang lain yang juga diputar minggu kemarin. Film Joki Kecil (2005) merupakan film terbaik di Metro TV Eagle Award 2005. Film ini disutradarai oleh  Yuli Andari M, dan  Anton Susilo dan juga meraih banyak penghargaan bergengsi, diantaranya Best Short Documentary at Festival Film Pendek KONFIDEN, 2006, Best Short Documentary at Jakarta Slingshort Festival, 2006, Best Short Documentary at Asian Competition Section, Tehran International Short Film Festival, IRAN, 2006, Runner Up Best Documentary at Asian Television Awards, SINGAPORE, 2006, Best Documentary at Festival Epona, Franch, 2007.

Film ini bercerita tentang anak-anak yang bekerja sebagai joki di pentas pacuan kuda di Sumbawa. Joki kecil harus menaiki kuda liar tanpa peralatan keamanan yang memadai dengan imbalan yang tidak seberapa. Orang-orang yang berperan dalam pacuan kuda ini, ikut andil dalam arena kemenangan, kebanggaan, perjudian dan kepedihan. Banyak joki yang terluka selama pacuan dan tidak mendapatkan perawatan yang layak. Para joki hanya menjadi korban eksploitasi si pemilik kuda.

Kemudian Film Wow! Vanessa -The Big Jump (2004, Jerman) yang disutradarai oleh Georg Bussek. Film ini menceritakan bagaimana seorang anak perempuan yang bernama Vanessa yang berumur 11 tahun, dan bersekolah di sekolah pemeran pengganti (stunt player school). Di sini terlihat bagaimana Vanessa terbiasa berlatih berkelahi, menunggang kuda, melompat di depan mobil yang sedang melaju, melompat dari tempat yang tinggi, dan juga adegan dirinya terbakar.

Sebenarnya, di Eropa Barat sendiri, aturan mengenai pekerja anak baru di mulai akhir abad 17 seiring munculnya industrialisasi. Di Amerika Serikat sendiri hingga kini, peran anak di pertanian tampaknya masih cukup dominan—misalnya saja aturan libur panjang sekolah diberlakukan justru di musim panen, dengan harapan anak-anak bisa membantu orang tua mereka.

Keempat film tersebut pekan lalu diputar di Episentrum Ulee Kareng melalui program ScreenDocs!, yakni program media literasi melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi, yang dilakukan In-Docs sejak tahun 2002. ScreenDocs! Regular adalah program pemutaran film dokumenter dan diskusi. Dimana melalui screenDocs! Regular kami berharap masyarakat tidak saja mengapresiasi film dokumenter tetapi juga mendapatkan wacana akan isu sosial yang sedang berkembang.[]

Oleh : Rizki Alfi Syahril

Baca Juga >>

Banner

Categories : Resensi Film - 168 views


No comments yet.

Leave a comment