Lagi-lagi, kapal cepat Baruna Duta nyaris tenggelam akibat terjangan ombak besar. Kapal cepat swasta itu retak. Kejadian ulangan dari tahun lalu, yang nyaris pula menenggelamkan kapal cepat ini. Jalur 18 mil laut antara Ule Lheue – Balohan Sabang hampir menelan korban.
Baruna Duta merupakan kapal cepat pertama yang menghubungkan Ule Lheue -Balohan. Selain itu, ada juga KM Pulo Rondo milik pemerintah, yang diresmikan dengan penuh sukacita pada zaman Gubernur Abdullah Puteh. Walau sempat ada kontroversi–kemudian dilupakan–namun tetap penuh sukacita, karena hubungan Banda Aceh – Sabang selama ini memang terkendala alat transportasi. Adanya kapal cepat mampu menghemat waktu hampir dua jam dibandingkan dengan feri. Apalagi kapal cepat ini lebih nyaman.
Sebelumnya, feri yang melayari rute ini sempat pula bermasalah. Adalah rombongan anggota DPRD yang dipimpin Drs Sulaiman Abda, tahun lalu melihat sendiri palka kapal feri ditambal semen. Mungkin sudah biasa bagi awak kapal, tapi sungguh mengejutkan bagi keamanan pelayaran. Mengapa standar keselamatan berbagai angkutan, laut, darat, dan udara di negeri ini begitu buruk. Mungkin ini cermin negeri yang terus menerus sedang dan sedang berkembang.
Bila kondisi seperti ini terus dipertahankan, ini tandanya kita terus sedang berkembang, sampai layu sendiri. Sudah saatnya pemerintah melalui Dinas Perhubungan mengkaji kembali dengan penuh tanggungjawab standar keselamatan angkutan laut, khususnya di jalur Ule Lheue – Balohan. Awak kapal juga seharusnya peka pada keselamatan pelayaran dan tidak hanya mencari untung bisnis semata. Mungkin terkadang memang terpaksa–terpaksa karena jadwal, ketetapan dan sebagainya, hingga terpaksa karena ancaman penumpang. Namun, apa pun alasannya, untuk mencegah kerugian bagi masyarakat dan pemilik kapal sendiri, ketegasan menghentikan pelayaran akibat kondisi kapal atau cuaca perlu diterapkan.
Selain itu, Pemda melalui Dinas Perhubungan perlu mengkaji, bila mampu memenuhi harapan masyarakat Sabang agar disediakan kapal yang lebih layak dan berkapasitas lebih besar bagi sarana angkutan laut menyeberang ke Pulau Weh itu. Banyak warga yang berdagang dari daratan Aceh ke Sabang terkadang harus antri berjam jam, bahkan lebih sehari untuk mendapat tempat di palka feri. Lumayan bagi pedagang barang perniagaan alat-alat rumah tangga. Sayang bagi pedagang yang mengangkut sayur-mayur ke Sabang, yang terkadang harus busuk di mobil.
Kita memang negeri berkembang yang tidak mungkin berpikir muluk seperti adanya jembatan dari Ule Lheue ke Balohan, yang bagi orang di negeri maju bukanlah sebuah khayalan. Di Jepang, hal ini biasa saja. Bahkan, Pulau Penang ke daratan Malaysia hampir ada dua buah jembatan yang menghubungkan keduanya.
Kita hanya berharap ada sarana transportasi laut yang lebih layak ke Sabang. Kita hanya berharap standar keselamatan pelayaran dipenuhi dengan penuh tanggung jawab, sekaligus menghargai sebuah nilai kemanusiaan. Nyawa orang. Ini PR pertama bagi Kepala Dinas Perhubungan yang baru, atau bagi pejabat Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP). Semoga cukup kenangan KMP Gurita yang meleburkan jiwa ratusan orang ke laut dalam. Semoga kita bisa membahagiakan orang orang yang terikat tali silaturrahmi antardaratan Aceh dengan Pulau Weh. Yang lebih penting, perhubungan dan alat transportasi yang lebih baik akan semakin mempercepat pembangunan di Sabang, kelak juga akan memberi nilai tambah bagi pembangunan Aceh daratan. Semoga.[]
Aleh pakoen sabang nyan sabee meumasalah ngon awak Banda (Aceh), moto eks singapo han jeut tameng banda aceh lah, lheh nyan kapai roro ka meu ronron meunan laju….
Nyoe ka masalah kapai lom, ho peng awak Aceh han ek jibloe saboh kapai nyang lagak keudeh…
Pu ka beh anggaran lom?????