Peluang Kerja dan Maraknya Kriminalitas
By admin at 8 December, 2009, 11:58 pm
PERKEMBANGAN jumlah lapangan kerja di Aceh hingga kini belum mampu mengimbangi pertambahan penduduknya. Di masa damai seperti ini pun sangat minim lahirnya lapangan kerja baru setelah hengkangnya sejumlah lembaga asing pasca berakhirnya masa rehap-rekon di Aceh. Dan, terjadilah booming pengangguran di Aceh.
Akibatnya, berbagai bentuk kriminalitas pun tercipta. Perampokan, penipuan, serta perdagangan ganja dan obat-obat terlarang pun semakin marak. Dari hari ke hari eskalasinya terus meningkat dan semakin sulit dibendung.
Seperti pemberitaan Harian Aceh, kemarin, Samsul, 25, warga Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, dibekuk aparat Polres Lhokseumawe. Dia diduga terlibat serangkaian perampokan bersenjata api yang terjadi akhir-akhir ini. Polisi menyita barang bukti sepucuk Ak-56, satu unit granat jenis manggis, dan 56 amunisi AK-56.
Hari ini kembali diberitakan, polisi menangkap kakak adik warga Matangkuli dan seorang warga Nibong Aceh Utara dengan sangkaan terlibat penculikan terhadap Ahmad Jamani, warga Malaysia yang pulang ke kampung asal istrinya di Blang Awe Kecamatan Syamtalira Bayu Aceh Utara. Ketiga pelaku ditangkap lima jam setelah menculik korban, Selasa (8/12).
Selain itu, aksi perampokan terjadi di Langsa, kemarin. Rp100 juta uang milik toke getah yang baru diambil dari Bank Mandiri dikuras pelaku. Aksi kriminalitas lainnya pun terus terjadi di Aceh, yang hampir kesemuanya bermotif ekonomi.
Dengan demikian, salah satu penyebab maraknya aksi kriminalitas tersebut adalah sempitnya lapangan kerja di Aceh. Hal ini juga dipengaruhi prilaku koruptif sejumlah pejabat Aceh, sehingga lahirnya kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat.
Maka sebagian masyarakat pun, dengan caranya sendiri, berusaha saling memperkaya diri. Mereka juga mengikuti cara-cara pejabat pemerintahan yang menggerogoti keuangan negara. Hanya cara dan aspeknya saja yang berbeda. Dan, kalau kita mau jujur (bukan berarti membenarkan) lebih mulia para perampok dan penjual dadah daripada pejabat negara yang korup.
Lihat saja polah para pejabat sekarang, sudah tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakatnya, malah melakukan korupsi secara besar-besaran. Bahkan, dalam sebagian kasus korupsi, mereka melakukannya secara berjamaah dan berkesinambungan.
Jadi, kalau mau memberantas aksi kriminalitas di Aceh, terlebih dahulu harus membabat habis pejabat korup di pemerintahan. Menciptakan sistem pemerintahan yang bersih dan melahirkan lapangan kerja baru sebanyak-banyaknya. Kalau hak-hak rakyat sudah terpenuhi, maka dengan sendirinya angka kriminal pun akan berkurang.[]














No comments yet.