Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Puisi » Pada Sujud Terakhir

Akmal M Roem

PADA SUJUD TERAKHIR

Saat muara laut terbalut sepi
kabut dari barat menjulang merah merakah
saat itu pula langkahku terhenti di sini
kau tuntun aku ke rumah-Mu yang  hening

Kau panggil aku dalam satu madah
dalam isyarat yang Kau tujukan
untuk hati yang ikhlas
dalam sujud yang terbalut rindu

O, betapa indahnya lantunan tilawah
dari corong lusuh itu
Kau pecahkan sunyi dengan sayup penggilan suci
meski masih banyak yang menutup hati
untuk mendengarnya
aku tetap setia pada lima waktu perintah Rasul

Di sujud terakhir,
ada rindu yang sepertinya
tak ingin lepas di sini
dan, waktu
sepertinya akan semakin merindu

Apakah ini yang terakhir?
(Banda Aceh, 11 November 2009)

WAKTU BATU

Sepertinya sajak yang kutulis ini tak memiliki arti lagi
dia hilang dalam waktu yang telah mejadi batu
Katamu;
“Waktu bukanlah jawaban kegelisahan atas apa yang kurasa”

Aku ingin sekali mencatat apa yang kau bisikkan itu,
biar pun mereka menyangka
bahwa cinta karena manusia itu indah,
tapi, aku lebih memilih mencintamu
karena Tuhan yang menuntun hatiku

Katamu;
“Ketika malam datang, aku seperti bayi
yang hanya terus ingin menangis”

Malam menuntunku untuk mangadu pada-Nya
bertanya tentang jawaban
dari kegelisahan yang kurasa hari ini
dalam dekapan sunyi
aku mengadu pada-Nya

Katamu;
“Malam itu waktu yang menjadi batu,
diam dan sunyi, kita di sana bersujud!”

Aku akan selalu dituntun waktu
dalam dekap malam
dalam hati yang damai
dalam jiwa yang sunyi

Hanya ada aku
waktu
kau
dan
sujud

Kita hamba-Nya
(Banda Aceh, 20 Oktober 2009)

Yun Casalona

INSAN

Insan bermacam warna
selalu ada yang haus kemewahan
mereka tak tahu bumi ini sebuah wisma
mereka lupa siapa mereka sebenar nya

Insan tercipta dari setetes air yang basi
keluar dari pipa lubang berkarat
bergantung diantara langit dan bumi

Insan Ingat pada badan
lupakan bayang
insan adalah boneka Tuhan
kan pasti kembali padanya.

SUPI

Dalam diam
tersenyum
dalam Diam
marah
dalam diam
berbicara
bekerja
diam bertindak
dalam diam
sebenarnya dia hidup

Mahyani Linge

ACEHKU MALANG

Ketika rakyat tidak lagi percaya
pemimpin tidak lagi amanah
pengusaha semakin serakah
terkalung simbol dalam Seuramoee Mekah
berkabung dan tak lagi merekah

Kejayaan tinggal sejarah
tercatat terlukis jadi ilusi
membuai  mimpi-mimpi
dalam cerita tanpa bukti

Karena kearifan lokal telah terbunuh
dalam kabut kelabu yang diperkosa
oleh   balada Belanda dan  konflik
mengusik membuat hidup semakin terjepit
tergeser ke-Aceh-an
jauh dari identitasnya
(Banda Aceh  30 November 2009)

NANGGROE YANG HILANG

Peluru yang terkalung untuk nanggroe
berbuah bunga rampai penderitaan
tapi ada mentari di kalbu
terbesit di lubuk hati
jadi solidaritas yang kuat terpatri
setelah itu usai dunia pun berganti
dengan penanda tanganan mou Helsinki
tapi Aceh tidak lagi berseri
hati nanggroe terbunuh
dalam gemilang uang
kita tidak bersatu lagi
(Banda Aceh  30 November 2009)

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress