Orang tak dikenal atau OTK justru hingga kini masih menjadi sosok yang paling terkenal di Aceh. Setiap aksi kriminalitas yang tidak terungkap selalu disebutkan pelakunya adalah OTK, seperti dalam kasus penembakan Kepala Perwakilan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) atau Palang Merah Jerman, Erhard Bauer.
Bauer ditembak OTK dengan menggunakan senjata laras pendek saat mobil yang ditumpanginya melintas di Jalan Sukarno-Hatta Lampeneurut, Aceh Besar. Sebelum diterbang ke Singapura, Bauer yang mengalami luka tembak di lengan, pangkal lengan bagian kanan, dan perut, sempat dibawa ke RS Meuraxa dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.
Meski Aceh telah memasuki era damai, sosok OTK masih bagaikan hantu di siang bolong. Muncul di mana saja, kapan saja, bagaikan bahasa minuman Coca Cola. Pada masa konflik, orang-orang upahan dari Jakarta datang ke Aceh untuk membakar sekolah. Mereka menyamar bagaikan hantu malam. Siapa bekingnya? Wallahu alam, walau kedapatan indikasi kuat ada mantan orang penting di balik layar. Bukti bagaimana? Karena ada pemuda yang melapor kalau dia mau membakar sekolah di Aceh, diberi upah Rp100 juta.
Saat konflik, isu fitnah juga merajalela. Ada isu air PAM diracun sehingga masyarakat ketakutan minum air. Adapun aksi culik menculik tampaknya merupakan modus operandi yang dijalankan pihak yang berkonflik. Setelah Aceh Damai yang diteken dalam kesepakatan MoU Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia, tampak peredaan ketegangan yang cukup signifikan. Masyarakat sudah berani keluar rumah di malam hari. Restoran, kafe-kafe baru bermunculan di malam hari menanti rejeki pengunjung. Perjalanan Banda Aceh ke Medan menjadi ramai kembali lewat bus penumpang umum. Pajak nanggroe terhenti.
Tetapi, masalah baru muncul di era damai. Angkatan tenaga kerja baru menjadi bom waktu yang rawan. Sementara itu, anggaran pembangunan Aceh terbilang cukup besar dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Namun, masalah-masalah penangan konflik masih berlanjut, dan belum terselesaikan secara cepat dan tuntas. Lapangan kerja, angkatan pengangguran merupakan crusial point untuk cepat keluar dari masalah ekonomi Aceh. Sebab, kemungkinan besar, hal ini pula yang menyebabkan OTK masih berkeliaran di Aceh.
Akhirnya, kita kembali berharap kepada polisi agar dapat meningkatkan disiplin dan profesionalismenya. Pembekalan mengenai hukum harus sering diberikan dalam apel-apel pagi di seluruh jajaran. Dengan kerjasama yang baik dan terarah ini tentu keadaan Aceh yang aman dan sejahtera dapat kita rasakan bersama.
Marilah kita balik ungkapan, kejarlah OTK di manapun dia berada. Jangan biarkan dia beraksi. Mari kita imbau masyarakat untuk memburu OTK dengan dibantu polisi, di mana dan kapan saja.*