Novel yang Membius

By admin at 17 January, 2009, 11:10 pm

NOVEL Kafka on The Shore (Labirin Asmara Ibu dan Anak) karya Haruki Murakami memang mampu membius saya sehingga saya sulit melepaskannya. Bahkan, ketika selesai membaca buku itu, saya masih dalam pengaruh biusan, hingga tengah malam cerita itu membawa pikiran saya melayang-layang.

Novel ini memliki dua tokoh utama, Kafka Tamura dan Nakata. Kafka Tamura remaja berusia 15 tahun, yang lari dari rumah karena memberontak terhadap nasibnya. Sedangkan Nakata serorang kakek 60-an yang hilang ingatannya pada tragedi sial saat Perang Dunia II. Ketika itu dia masih sembilan tahun duduk di sekolah dasar. Sejak kehilangan ingatannya, lelaki itu bisa bicara dengan kucing, dan terakhir dengan batu.

Novel ini memiliki beberapa sub-plot yang berjalan pararel, tapi sekaligus juga berdiri terpisah. Kafka dalam bahasa Ceko artinya gagak. Gagak ini nantinya juga muncul sebagai salah satu personifikasi dari sosok Tamura. Kafka lari dari rumah karena ada berbagai persoalan yang mendorongnya untuk melakukan hal itu, terutama karena ketidakcocokan dengan sang ayah, yang sudah berjalan sekian tahun.

Semenjak berusia empat tahun Kafka ditinggalkan oleh ibu dan kakak perempuannya. Dia tinggal bersama ayah, dan memiliki hubungan yang buruk. Pada saat dia masih di sekolah dasar, bapaknya yang merupakan pematung terkenal dunia pernah meramalkan, atau tepatnya mengutuknya, bahwa suatu saat nanti dia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibu kandungnya sendiri.

Kafka Tamura ibarat Oedipus, Raja Thebes, yang mengawini ibu kandungnya. Yang menarik dari cerita ini, pembaca sama sekali tidak akan pernah menyanka setiap kejadian, sebagaimana novel biasa. Alur cerita berliku dan penuh teka-teki, dan tidak akan mampu menebak apa yang akan terjadi.

Saya selalu terperangah terhadap yang saya duga sebelumnya, setiap episode yang sederhana, dan biasa-biasa saja ternyata mengandung kekuatan tak terduga. Tak ada yang bisa menduga, betapa Kafka yang berada di Shikoku, terletak jauh di selatan Tokyo dan terpisah dari daratan oleh lautan, bisa membunuh ayahnya sendiri tanpa disadarinya.

Ternyata Nakata, lelaki tua aneh yang hilang separuh ’bayangannya’ adalah wujud semu dari Kafka. Kafka sama sekali tidak mengenali lelaki tua yang tinggal di sekitar rumahnya, bahkan sampai lelaki itu meninggal. Yang ada cuma keanehan-kenehan yang tidak masuk akal sehari setelah ayahnya tewas, di mana polisi kebingungan dengan ulah Nakata yang bisa menurunkan hujan ikan dan hujan lintah dari langit.

Seusai peristiwa sial itu ingatan dan kemampuan intelektual Nakata mendadak lenyap. Dia menjadi orang yang sangat nyaman berada dalam kesendirian dan segala keterbatasan. Nakata bukan sengaja mengasingkan diri, tapi otomatis terkucil lantaran ketidakmampuannya dalam berbagai hal. Justru di balik segala kekurangan itulah, secara tidak sadar, ia menyimpan banyak sekali kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Tentunya Anda akan berpikir novel ini mirip novel-novel sejenis Herry Poter yang penuh dengan dunia sihir yang tak terjangkau logika. Sangat salah! Sebaliknya, novel ini dibangun dengan logika-logika yang sangat kuat, tentang adanya unsur-unsur tenaga alam, metafisika, spikologi, filsafat yang saling mengikat kuat. Kesan ini segaligus menguatkan betapa piawainya Haruki menceritakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Dalam pelariannya, Kafka bersahabat dengan Oshima, penjaga perpustakaan yang terbelenggu jati diri tak jelas antara berkelamin pria atau wanita. Sedangkan Nona Saeki, kepala perpustakaan Komura berusia sekitar 50-an, yang tenggelam dalam kenangan masa lalu. Kafka jatuh cinta pada perempuan itu yang kemudian diyakini sebagai ibu kandungnya. Anehnya, sang ibu juga jatuh cinta padanya akibat pengaruh kenangan lampau yang begitu kuat.

Sementara Nakata melarikan diri pengejaran polisi setelah membuat heboh kota Tokyo dengan hujan ikan dan hujan lintah di tempat terpisah setelah kematian pematung terkenal. Kakek yang tidak mengerti kehidupan modern dan tidak bisa membaca itu bertemu Hoshino, supir truk mebel yang nyaris “dangkal’ dalam semua aspek kehidupannya. Hoshino pula yang kemudian yang secara tak sadar rela meninggalkan pekerjaannya, dan menuntunnya kakek itu untuk menemukan batu masuk di sebuah kuil. Sedikit-demi sedikit rahasia mulai terungkap ketika kedua oran g itu mendatangi pustaka Komura. Tapi Kafka tidak ada lagi di sana, karena dia bersembunyi di sebuah penginapan terpencil di dekat hutan yang pernah menyesatkan dua tentara Jepang yang pernah latihan perang di hutan itu.

Novel beraliran surealis ini banyak sekali metafora yang jelas di luar logika umum. Namun, cara penuturannya sangat ringan dan sederhana. Tidak ada ledak-ladakan, sebagaimana novel yang umumnya begitu diminati pembaca di daerah kita. Kesederhanaan itulah yang ternyata adalah kematangan seorang penutur ulung yang menghasilkan novel-novel berkualitas tingkat dunia. Penulisan gaya ringan itu pula yang membuat mudah untuk mengikuti cerita yang begitu rumit itu. Pembaca akan cepat memahami setiap kandungan cerita, meskipun terkadang perlu memikirkan tentang beberapa soal dalam dialog yang mengandung filsafat. Cuma saja akan semakin lebih mudah jika seseorang pembaca memahami alam metafisika dan segala hal yang berkaitan dengan itu.

Dalam Kafka on The Shore ini cuma satu hal yang menganjal diri saya, yaitu tentang judul edisi Indonesianya; Labirin Asmara Ibu dan Anak. Bagi saya begitu klise yang mendekati novel sangat pop. Saya pikir penerjemahnya kebingungan mendapatkan judul yang tepat sesuai selera Ind onesia. Tapi menurut saya akan sangat tepat berjudul Kafka di Tepi Pantai, sesuai judul sebuah lukisan yang kemudian menjadi benang merah yang menghubungkan semua cerita itu.

Lepas dari itu Haruki Murakami memang patut diacungkan jempol, dan saya tidak terkejut ketika namanya, disebut-sebut sebagai nominasi hadiah Nobel. Dia merupakan penulis Jepang kontemporer yang sangat terkenal. Telah meraih banyak penghargaan di dunia kepenulisan, antara lain Yomiuri Literary Prize (1995); Kuwabara Takeo Academic Award (1998); Frans O’Connor International Short Story Award (Irlandia–2006); Franz Kafka Prize (Cekoslovakia–2006); dan Kiriyama Prize 2007, sebuah penghargaan untuk penulis unggul di kawasan Pasifik dan Asia Selatan. Diulas Arafat Nur

Baca Juga >>

Banner

Categories : Buku - 537 views

Comments
mufita rachmawati 7 February 2010

bisakah saya membeli buku tersebut?karena saya tertarik dan saya ingin membacanya

Leave a comment