Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » Muskala Devi in Galle

17-Januari-2010--Minggu-CerpenMuskala-Devi-in-GalleYASHIMA Merali, nama kecilmu. Guru sekolah dasarmu salah menulis namamu, saat ia tulis itu teringat nama anaknya yang telah meninggal. Sejak itu namu Muskala Devi. Ibumu mengatakan sejak ganti nama, dirimu lebih cerdas seakan ide dewi langit menyertai pikiranmu.

Dewi langit yang dipercaya kakekmu, tapi ayahmu, ibumu dan kau kini memakai cadar dan jubah hitam budaya Arab. Hanya dua matamu yang bercahaya tampak saat kau bicara dan menatap mata setiap yang bicara denganmu.

“Mawardi!” Terdengar suaramu memanggilku. Suaramu merdu seperti suara Dewi Suara yang ada dalam mimpiku saat kecil. Aku sering mengimpikan dewi suara bila tidur di pantai Lhokseumawe saat teman-temanku mencari kepiting merah di tambak yang dikelilingi kebun kelapa. Aku tidak menduga Dewi Suara masa kecilku dapat kujumpai di Galle, Sri Lanka Selatan ini.

“Muskala Devi!” Balasku dengan suara tercekat, masih tertegun memandang matamu dan membayangkan kau memang secantik Dewi Suaraku.

“Kau memandangku seperti tak pernah melihat perempuan,” katanya lirih seraya mengetatkan cadarnya yang digerai angin pantai Galle. Muskala Devi memakai cadar setiap keluar rumah. Ia tak ingin wajah dan tubuhnya dilihat oleh sembarang orang, bukan karena ia merasa terlalu bagus untuk dilihat semabarang orang, bukan pula karena ia terlalu jelek, tapi karena keyakinan saja.

Cadar dan jubah hitam longgar membungkus tubuh coklat pudarnya, sehingga kulit perut dan punggung serta wajahnya tidak tampak seperti para guru perempuan temannya yang lain keyakinan yang berkeyakinan bahwa budaya sari Sri Lanka lebih baik dari budaya jubah dan cadar Arab.

“Memang tidak pernah,” jawabku seraya memandang mata bersinarnya yang tiba-tiba menyipit, tapi masih lebih besar dari mata orang Cina yang terbelalak.

“Ternyata kau suka berdusta,” Muskala Devi masih menyipit.

“Memang baru kali ini kulihat perempuan sepertimu, yang bercadar dan berjubah longgar di antara para perempuan bersari.”

“Di negerimu, ‘kan ada juga?”

Aku mengangguk.

“Perempuan di negeriku, sebagian menjalankan peraturan agama yang kau anut karena takut dikasari petugas atau dimaki-sindir penduduk di sekelilingnya, sementara kau melakukannya dengan bangga di antara perempuan yang perut dan punggungnya terbuka,” aku berkata dalam seraya menoleh laut Galle yang dalamnya belum kuukur, laut yang sebelum perang saudara banyak didatangi oleh pencinta dari timur dan barat.

“Kausuka mana, sepertiku atau seperti perempuan di negerimu?”

“Aku tak tahu, tapi aku dulu suka perempuan Pakistan, berpakaian sepertimu, namanya seperti nama kecilmu, namun takdir mengantarnya ke Canada, sementara aku tetap di negeriku,” aku menengadah. Langit pantai Galle cerah jingga di senja itu.

“Apa kausuka bercinta di pantai terbuka seperti ini, menyatukan perasaan dengan semesta langit dan bumi?” Kutoleh Muskala Devi.

“Apa kaupikir aku seperti gagak yang telanjang?” Muskala Devi menunjuk sepasang gagak yang melintas riak di depan kami dengan sorotan matanya.

“Kau masih mencintai Yashima Merali?” Muskala Devi menghela nafas dalam-dalam seraya memandang laut, aku masih memandang langit.

Aku mengangguk pelan lalu menggeleng, tapi mengangguk lagi.

“Aku telah melupakannya.”

“Apa cintamu sejauh dasar laut itu?” Mata Muskala Devi kembali bersinar di pantai Galle.

Aku diam.

“Maksudku cintamu kepadaku, cinta yang kaukatakan saat kita pertama jumpa, yang biasa dilakukan oleh para lelaki pembual,” Muskala Devi tersenyum mendesis.

“Apa kau tak percaya ucapanku?” Kulirik kaki bersepatu hitam Muskala Devi yang terbenam ke pasir putih. Sepatu buatan India daratan itu ia beli di sebuah toko kecil di Colombo.

Muskala Devi menggeleng. Ia berbalik memunggungi pantai, menghadap kebun kelapa. Batang-batang kelapa setinggi antara lima sampai lima belas meter itu dihubungi tali sabut. Pemanjat kelapa di negeri itu hanya memanjat sebatang kelapa dalam satu kebun. Batang kelapa yang dipanjat telah dibuat tanda dengan melukai batang kelapa agar mudah dipijak.

Setelah memetik buah dan membersihkan tandan dan sabut muda kelapa yang dipanjat, pemanjat kelapa itu menuju batang lain melalui dua utas tali sabut seperti jembatan gantung antara batang kelapa ke batang kelapa.

“Kau orang ke seratus tiga puluh tujuh yang melakukan hal itu padaku.”

“Bagaimana kausikapi itu?”

“Seperti sikapku padamu,” Muskala Devi menarik kaki bersepatu hitamnya dari pasir, lalu meninggalkanku di pantai Galle.

“Nyanyikan aku sebait lagu, wahai dewi suara!” Aku mengejar Muskala Devi, namun setelah beberapa langkah, aku berhenti, dari jauh tampak tiga tentara lelaki menuju pantai yang orang dilarang beramai-ramai itu.

Sebelum pemerintah dan Tamil Elam berdamai, perahu-perahu perang Tamil Elam mendekat ke pantai ini dan menembaki para tentara yang berpatroli. Darah bersimbah di pasir, sebagian disapu riak, sebagian kering. Aku berdamai dengan hatiku dan impian pada dewi suaraku agar darah-darah hatiku tidak bersimbah di pasir putih pantai Galle ini. Aku menuju rombongan pelatih guru dari Fajar Hidayah yang menikmati kelapa muda terlezat di dunia menurut penduduk Galle.

Kutoleh ujung pantai tempat tadi aku dan Muskala Devi. Perempuan langsing setinggi mulutku itu tak tampak lagi, dan malam pun datang. Muskala Devi pulang. Aku lupa menanyakan alamat rumah dan nomor teleponnya, tapi kalau mau menjumpainya pasti kedutaan besar Indonesia di Colombo menyimpan data perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu.

“Sayang sekali, Dewi Suara tidak menyanyikan lagu untukmu, sementara kaucari dia melintasi samudra, menembus awan,” Doddy -komandan pasukan bomba- menyodorkan kelapa muda yang bagian atasnya dipangkas berukir bunga teratai.

Pasukan bomba adalah istilah yang diciptakan secara spontan dalam bus dari Colombo ke Galle tadi pagi untuk perokok.

“Minumlah air kelapa Sang Budha, mungkin besok dewi suara menyanyikan lagu tersyahdu untukmu.” Aku dan sebelas orang rombongan pelatih guru menuju mini bus kedutaan Indonesia untuk Srilanka, menuju Colombo. Komandan pasukan bomba tak bisa merokok dalam bus berpengatur udara. Hanya Doddy dan Apa Maun pasukan bomba. Doddy dan Apa Maun adalah pelatih guru, sementara aku hanya pendamping mereka di antara kepala Fajar Hidayah.

“Kita telah melatih 250 guru di Galle hari ini, besok 250 lagi di Colombo.” Mini bus melaju pelan, meninggalkan pantai Galle dan bayangan Muskala Devi. “Tapi Muskala Devi tidak datang besok.”

***

“Kita akan tukar guru dengan Sri Lanka,” kata Draga, Pembina Fajar Hidayah di pintu pesawat menuju Kuala Lumpur.

“Semoga Muskala Devi ikut dikirim ke Aceh,” sahut Mirdas, suami Draga seraya mengangkat alis ke arahku. Pintu pesawat ditutup gadis petugas berseragam serba merah.

“Ah, masak seeh!” Apa Maun memperagakan tarian khas Sri Lanka.

Aku yang duduk dekat jendela dengan mudah menoleh lapangan dekat ekor pesawat, tampak sesosok perempuan berjubah longgar bercadar hitam. Sosok itu terasa kukenal dekat. Ia mendekati pesawat yang kutumpangi seraya menengadah ke setiap jendela.

Kutempel dahiku ke kaca jendela pesawat. Aku gemetaran. “Muskala Devi!” teriakku, kontan seisi pesawat menolehku. Aku tak peduli. Aku mau keluar, tapi pesawat meulai melaju. Kucoba membuka kaca jendela, tak bisa. Muskala Devi melambai ke arah jendela yang dahiku masih menempel.

“Semoga Muskala Devi memang ikut dikirim ke Aceh,” Kutoleh Mirdas di kananku.[]

Oleh Thayeb Loh Angen

Baca Juga >>

Tags:

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress