Musisi Mengejar Kemapanan

By admin at 21 November, 2009, 10:06 pm

MUSIK seringkali dimaknai semata sebagai media hiburan. Tempat manusia melarikan diri dari realita yang menekan. Sebuah dunia yang asing, dunia mimpi, tempat berlabuhnya jiwa-jiwa yang letih dari kenyataan hidup.

Orang lupa bahwa sebelum teknologi mendominasi media seni ini, musik telah menjadi bagian yang lekat dengan berbagai aktifitas penting dalam hidup manusia. Ada masa dimana musik dan kehidupan sosial adalah hal yang tak terpisahkan. Seorang musisi biasanya masa depannya tidak menentu.

Bila tidak bisa menembus pasar musik, mereka akan menjadi pemusik “kalengan”. Banyak hal yang akan terjadi kemudian. Salah satunya, hal yang paling dekat dengan realita sekarang ini adalah ketika seorang pemusik yang tidak berpenghasilan tetap akan tidak disenangi oleh keluarga, calon mertua ataupun masyarakat umum.

Hal ini merupakan sebuah fenomena, karena seorang pemuda yang memilih musik sebagai jalan hidupnya acap kali dikaitkan dengan hal-hal negatif. Padahal, secara pandangan positif, musik memiliki peranan penting dalam tatanan kehidupan sosial. Musik berperan sebagai  pendamping seseorang dalam menjalani hidupnya. Musik bisa menjadi tempat pelarian diri dari relalitas sosial yang menekan batin. Musik juga bisa menjadi media penting untuk berinteraksi antar sesama.

Dengan bermusik, kita juga bisa disatukan oleh warna dan kebudayaan yang berbeda. Dalam musik itu kita bisa melihat realita sosial yang semakin tidak jelas saja. Setidaknya itu gambaran yang didapatkan dalam film dokumenter yang diputar di Episentrum Ulee Kareng, Jumat (20/11). Film yang berjudul Musisi Mencari Status menjelaskan tentang seorang pemuda yang berprofesi sebagai musisi. Menjadi seorang musisi masih dinilai orang sebagai pilihan yang tidak mapan, apalagi bagi orangtua atau calon mertua yang hanya terpaku pada kekurangannya. Meskipun menjabat anggota tetap band Tani Maju, Leo akhirnya melakoni ‘kerja sambilan’ sebagai guru, justru setelah perjalanan asmaranya kandas.

Peter Heller dalam filmnya yang berjudul Platlln Umtata menampilkan gambar dan suara hasil pertemuan musisi Bavaria dengan dunia bunyi beraneka ragam Afrika Selatan: sebuah perjalanan melalui keributan townships kota besar dimana manusia dari berbagai budaya dan dengan berbagai latar belakang musik saling berhubungan. Tarian dan persentuhan timbal balik. Tapi juga pelarian ke Afrika dibangun atas klise dan ruang-ruang kerinduan kita: melalui taman nasional dengan binatang liar besar, ke padang rumput luas dan padang pasir yang mengagumkan. Menemukan pemandangan yang indah.

Setelah pemutaran dua film tersebut, dilanjutkan dengan diskusi berrsama Ari Pahlawi bin Jauhari Ishak S.Sn., M.A. yang fokus kajiannya tentang “Musik, jendela melihat realita sosial” di Episentrum Ulee Kareng, Aceh. Ari Pahlawi yang merupakan Dosen musik di FKIP Kesenian Unsyiah mengatakan bahwa; “Musik bukan sebuah bahasa universal. Menurutnya, musik itu merupakan fenomeman universal. Kadang orang sering salah memaknai hakikat musik pada dasarnya sehingga bisa membikin orang bisa berpikir negatif terhadap seorang musisi”.

“Musik itu sangat berkaitan dengan waktu. Musik itu memiliki karakter seperti matahari. Dia akan tetap ada sampai kapanpun. Jika pada manusia, musik itu adalah hati yang akan mengontrol ritme emosi seseorang. Jadi, siapapun boleh bermusik. Namun, dalam proses bermusik, ada hal yang harus ditempuh. Hal-hal itu disebut dengan proses memindahkan realita yang kita hadapi dalam hidup ini. Pastinya, untuk mendukung itu semua, kita harus mengatahui paling tidak dasar-dasar tentang teori bermusik.” Lanjut pria yang pada 1994-2000 mendalami studi musik di ISI Yogyakarta ini.

Ari Pahlawi yang meraih gelar master musik di Asian Studies Department focusing on Ethnomusicology in University of Hawaii at Manoa pada tahun 2009 ini mengharapkan ada sebuah perhatian dari lembaga-lembaga kesenian untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni bermusik. Hal ini bisa berupa pengajaran musik sebagai ekstrakulikuler di sekolah-sekolah ataupun bentuk pelatihan lainnya.

“Jika kita mau mengenal sebuah jati diri. Maka kita harus mengenal diri dari hal yang paling dasar. Untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap musik, yang perlu kita lakukan adalah mengenalnya. Mengenal bagaimana cara dia bertutur dan mengenal bagaimana dia menjadi bagian penting dari dalam diri kita. Percayalah, musik itu sangat dekat dengan kita. Dan dengan musik, kita bisa merubah cara hidup yang kita inginkan,” jelas pria yang memimipin Aceh Guitar Orchestra ini.

Episentrum Ulee Kareng (sebuah ruang kesenian swasta pertama di Aceh) bekerjasama dengan INDOC (sebuah lembaga pengembangan film dokumenter) serta didukung oleh Radio Antero, Annida Online dan Harian Aceh secara konsens akan memutar film-film dokumenter karya sineas dunia dan nusantara yang betajuk Episerntrum ScreenDoc! Regular di Minima Theater Episentrum Ulee Kareng, Aceh.

Kegiatan ini akan berlangsung selama beberapa jam per bulan dan terbuka bagi mahasiswa, akademisi, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, praktisi dan peminat film, anggota badan pemerintahan serta masyarakat umum. Lebih asiknya, setiap selesai pemutaran film segera dilanjutkan dengan diskusi bersama pakar-pakar utama di bidang yang menjadi isu film tersebut.

Oleh Akmal M Roem

Baca Juga >>

Banner

Categories : Artikel - 247 views


No comments yet.

Leave a comment