SEORANG ibu di Banda Aceh, mengatakan ingin berhaji (kembali) dan siap membayar asal bisa diberangkatkan pada musim haji tahun 2008 mendatang. “Masa saya harus menunggu hingga tahun 2012. Bisa diurus tidak?” tanyanya penuh harap.Tentu saja tidak adil menomorsatukan ibu ini, sementara ribuan orang lain menunggu, bahkan kebanyakan menunggu untuk keberangkatan pertamakalinya menunaikan rukun Islam ke lima ini. Sama tidak adilnya dengan cara pemerintah menetapkan kuota haji bagi daerah ini. Setidaknya demikianlah ungkapan Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Nanggroe Aceh Darussalam, Haji A Rahman TB. “Sistim kuota berdasarkan jumlah penduduk rasanya tidak adil bagi Aceh. Kami akan memperjuangkan sistem kuota khusus bagi Aceh, mengingat minat menunaikan ibadah haji saat ini cukup tinggi di Aceh,” tutur H. A Rahman TB.
Menurut Rahman, kuota haji Aceh sudah penuh sampai 2011. “Daftar tunggunya mencapai 14 ribu orang,” ungkapnya. Padahal, kuota haji Aceh setiap tahun hanya 4.281 orang, termasuk petugas haji, atau sejumlah 12-14 kelompok terbang dari Embarkasi haji Sultan Iskandarmuda. IPHI mengaku akan segera mendesak Jakarta. Bila dikabulkan, tentu kabar sangat bagus bagi para calon jamaah haji Aceh yang peminatnya kini membludak. Penambahan minat dari tahun ke tahun, tentu saja tidak terlepas dari meningkatnya perekonomian daerah ini, setidaknya peredaran uang di daerah yang hampir tiga tahun ini dikenal dunia lebih dekat akibat bencana tsunami 26 Desember 2004, yang kebetulan terjadi bertepatan dengan musim haji.
Namun, sebelum pemerintah pusat mengabulkan permintaan IPHI, ada baiknya skala prioritas ditetapkan daerah. Misalnya calon jamaah yang sudah berkali kali naik haji, memberi kesempatan atau lebih bersabar mengutamakan mereka yang baru pertama kalinya berhaji. Ingatlah kisah sufi di masa as-Syibli. Konon seorang calon haji di Jazirah Persia, tukang sepatu yang mengumpulkan uang sen demi sen untuk berhaji. Namun, niatnya batal akibat hatinya trenyuh menemukan seorang janda tetangga yang memasak pasir untuk anaknya. Si Ibu, janda miskin itu, memenuhi permintaan anaknya menanak nasi dengan terus menggoreng pasir, seolah olah memasak. Ia berdendang sambil menidurkan anaknya yang terus menangis karena lapar. Singkatnya, seluruh uang bakal perjalanan haji disumbangkan pada si ibu dan anak anaknya. Konon di hari kemudian, sang pemurah itu mendapat ganjaran berganda ganda ganjaran pahala haji.
Pesan moral tidakkah lagi berguna di zaman seperti ini. Di mana orang orang lebih realis, termasuk para spiritualis calon haji yang lebih memuliakan perjalanan kepentingan “spiritual pribadinya” ketimbang menjadi seorang pemurah. Padahal haji sudah jelas, untuk apa memperhatikan si miskin. Apalagi, di zaman ini si miskin lekat dengan kemiskinan moralitas. Padahal, seringkali pula terjadi sebaliknya. Entahlah.
Hal lain yang perlu di urus bila kuota bertambah adalah kapasitas embarkasi yang harus ditingkatkan. Entah ini tugas IPHI, Departemen agama (Yang kebetulan sekarang kakanwil Acehnya dijabat Ketua IPHI), atau Departemen Perhubungan. Yang jelas, satu Airbus A-330 milik Garuda sudah tentu tidak lagi memadai. Bayangkan saja bila satu kloter hanya mampu mengangkut 320 jamaah. Berapa kloter seandainya pemerintah pusat memberi kuota dua kali lipat dari sekarang? Bisa bisa kloter terakhir tiba persis wukuf di Arafah. Atau bahkan sesudahnya.
Rangkaian yang perlu diurus tentu saja panjang landasan Sultan Iskandarmuda tidak boleh lagi 2500 meter. Boeing 747, atau Airbus A-380 yang mampu menerbangkan 500 hingga 1000 jamaah sekali terbang memerlukan panjang landasan pacu di atas 3000 meter. Memang, pekerjaan pemanjangan landasan pacu sedang dikerjakan saat ini, bersamaan pembangunan terminal bandara. Tapi belum tahu kapan selesainya. Berharap atau doronglah agar lebih cepat, bersamaan dengan dipenuhinya permintaan IPHI (semoga).
Asal saja—lagi lagi—permintaan itu bukan sekadar kerakusan atau sifat ingin unjuk kemampuan finansial semata. Tapi murni tujuan ibadah. Bagi anda yang masih menjadi mimpi dan terkendala akibat jatah kuota, setidaknya boleh mencoba mencari janda—maksudnya janda seperti kisah di zaman as-Syibli. Hati bersih dan suci, ikhlas di atas segalanya. Jadilah manusia suci, walau berhaji atau belum sama sekali. Setidaknya, anda akan jadi tauladan kami dalam meniti hidup di zaman yang penuh pameran minat minat duniawi ini. Kadang bisa berbalut semangat spiritualis. Andalah yang paling tahu isi hati sendiri. Wallahualam bissawab.[]