Serangan virus influenza A-H1N1 atau beken dengan sebutan flu babi makin meluas di Tanah Air, termasuk Aceh. Padatnya arus lalu lintas di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Balang Bintang, sangat rawan terjadinya penularan virus mematikan itu.
Seperti pemberitaan kemarin, Aceh sedang memperkuat beberapa rumah sakit menghadapi meningkatnya pasien flu babi. Kasus-kasus H1N1 dikhawatirkan akan membanjiri ruang-ruang rumah sakit di Aceh selama musim hujan ini.
Kini Pemerintah Aceh menetapkan empat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagai rujukan regional untuk perawatan pasien yang diduga (suspect) tertular virus flu babi (H1N1) di Aceh. Sementara itu, dua pasien positif influenza A atau flu babi saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUZA Banda Aceh.
Wabah flu ini memang sangat rentan menyerang siapa saja. Pasalnya, virus H1N1 menyebar melalui manusia bukannya melalui hewan seperti flu burung atau ‘avian flu’ yang menyebar sesama burung.
Memang, semula hanya hewan babi yang menjadi tersangka utama dalam kasus ledakan virus H1N1. Namun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa virus ini telah bermutasi menjadi virus liar yang dapat menular dari manusia ke manusia. Karena di dalam tubuh babi, virus flu dari berbagai tipe dan varian dapat tumbuh subur dan saling bercampur, sehingga melahirkan jenis virus baru.
Flu babi adalah penyakit saluran pernafasan pada ternak babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Pada saat ini, virus influenza tipe A yang telah diisolasi dari babi adalah H1N1, H1N2, H3, N2 dan H3N1. Cara penularan flu babi, yaitu bisa melalui udara dan kontak langsung dengan penderita dengan masa inkubasinya 3-5 hari.
Sebagaimana flu biasa, penyakit flu babi membuat penderitanya mengalami demam tinggi, lesu, nyeri tenggorokan, nafas cepat atau sesak nafas.
Meski begitu, menurut Faisal Yunus, pakar pulmonologi dan pernapasan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), virus babi klasik (virus tipe A H1N1) yang diisolasi pertama kali pada 1930 memiliki kelemahan, yaitu akan mati jika dipanaskan pada 700 derajat Celsius, disiram alkohol 70 persen, lisol 5 persen, disiram zat pemutih, dan dapat hidup hanya dua jam di luar tubuh. Disebutkannya, cara-cara penularan virus flu babi antarmanusia melalui droplet (semprotan cairan halus) dari bersin dan batuk, kontak langsung, kontak tidak langsung (peralatan yang tercemar), serta tidak menular lewat makan daging babi yang dimasak.
Di balik semua itu, tentunya fenomena ini menjadi kekhawatiran kita semua. Apalagi hingga kini masih lemahnya pengawasan orang masuk di pintu resmi pelabuhan dan bandara di Aceh. Bahkan, Bandara SIM yang menjadi pintu masuk utama (internasional) di Aceh belum memiliki alat pemantau suhu tubuh (termoscanner).