Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Tajuk Harian Aceh » Mewahnya Rasa Aman di Aceh

Konflik bersenjata berkepanjangan, masih menyisakan luka yang hampir tak berujung. Bahkan, selama tiga tahun memaklumkan perdamaian pun, di Aceh masih saja diguncang kejadian tegang dan memilukan. Kekerasan bersenjata api, temuan granat dan bom rakitan serta pembunuhan sadis, secara legal, kini memang telah dimaknai sebagai tindak pidana kriminalitas. Proses penyelidikan, penyidikan dan penanganan kasusnya dilakukan pula dengan alas hukum biasa.

Petinggi keamanan, menyebutkan wilayah Aceh sebagai kawasan yang aman, tapi masyarakat masih tetap saja merasa was-was. Secara kuantitas, barangkali tindak kriminal di Aceh tak lebih buruk dari daerah lain di Indonesia. Namun, dari segi kualitas perbuatan pidana diakui masih tinggi dan pelaku kejahatan kerap memakai senjata mematikan. Kecemasan, masih dirasakan masyarakat Aceh.

Contohnya, pekan ini, bom rakitan telah menelan korban yang tengah mengais rezeki, di Paya Bakong, Aceh Utara. Menjelang tengah malam, Selasa lalu, enam warga desa setempat terkapar. Mereka dihantam serpihan-serpihan bom rakitan yang meledak dari drum berisi bom yang dicor semen. Diduga, bom tersebut merupakan bagian dari sisa-sisa peninggalan masa konflik dulu. Para pemulung besi bekas tersebut tak paham, bila drum tersebut dapat mencelakai tubuh mereka.

Keenam korban mengalami luka-luka serius. Satu di antara mereka harus diamputasi kakinya. Tak ada korban jiwa, dalam insiden ledakan bom Paya Bakong. Menurut pihak kepolisian, bom yang meledak berbobot sekitar 30 kilogram dan serpihannya dapat mencapai radius 200 meter.

Di lokasi sama, juga ditemukan dua bom lainnya, dengan bobot serupa dan masih aktif. Kedua bom tersebut sudah dapat dievakuasi aparat kepolisian. Tapi, ancaman serius masih membayangi lokasi kejadian di Paya Bakong. Karena, bom seberat 1,5 ton, dengan daya ledak dahsyat dan serpihannya diperkirakan mampu menjangkau radius satu kilometer lebih, dapat mengancam masyarakat yang bermukim hanya sekitar 50 meter dari lokasi temuan bom tersebut.

Kita sangat prihatin mendengar kejadian seperti ini, yang selalu menimpa rakyat kecil. Kita yakin, aparat keamanan sudah berupaya sesungguh hati untuk menemukan ranjau-ranjau berbahaya, yang menjadi sisa-sisa sebelum memorandum damai diteken. Namun, upaya tersebut, barangkali masih dirasakan belum cukup memuaskan masyarakat. Kita yakin, masih sangat banyak bom atau ‘peninggalan’ berbahaya dari masa konflik yang bertebaran di seluruh bumi Aceh.

Barang kali, pihak kepolisian dan aparat yang berwenang lainnya dapat menyampaikan tips-tips tertentu kepada masyarakat. Terutama, melatih mereka agar memiliki pengetahuan minimal, untuk mengenali barang-barang berbahaya di sekitar mereka. Misalnya, apa yang harus dilakukan masyarakat bila menemukan benda aneh seperti bom di lingkungannya. Bagaimana ciri-ciri khusus benda mematikan itu? Kapan mereka perlu melaporkan ke pihak keamanan setempat? Atau, cukup diselesaikan aparat suatu gampong yang sudah dilatih sebelumnya mengenali barang-barang berbahaya tersebut.

Kejadian di Paya Bakong mengingatkan kita pada laporan ancaman bom di Banda Aceh. Setelah para penjinak bom menyusuri jembatan yang dikabarkan menyimpan bom, ternyata tak ditemukan apa-apa. Diperkirakan, waktu itu, bom tersebut sudah menyatu dengan jembatan yang disemen dengan ketebalan tertentu. Kabarnya, bom yang sudah dicor dalam semen tak berbahaya lagi. Nah, setebal apa semen itu dicor dan bagaimana meyakini bahwa suatu ancaman bom sebenarnya tak perlu dikuatirkan?

Temuan alat peledak seperti di Paya Bakong, bukanlah yang pertama. Awal bulan ini, kita mendengar ada warga desa Blang Mane, Bireun menemukan granat pelontar di kebunnya. Untungnya, granat yang masih aktif itu tak meledak dan dapat diserahkan ke aparat kepolisian setempat.

Akhir Maret lalu kita mendengar pula tiga temuan bom rakitan di pinggiran kota Banda Aceh. Semua bom yang masih bersumbu di bawah jembatan lintasan Tungkop-Blang Bintang itu diyakini merupakan benda peninggalan buruk zaman konflik bersenjata juga. Berbagai temuan bom atau peluru dan alat-alat untuk berperang itu tentu menyebabkan rasa aman masih menjadi barang mewah di Aceh. Wallahualam. []

Baca Juga >>

  1. Aulia says:

    Semua kemewahan berpulang pada orang juga,
    hudep mangat bak po nyan keuh bahagia donya akherat!

Leave a Reply

© 2008 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress