Mereka yang Terasing di Negeri Sendiri

By admin at 31 January, 2010, 6:27 pm

DI belahan bumi manapun, perang memang menyisakan luka dan penderitaan yang begitu mendalam. Baik itu bagi masing-masing pihak yang bertikai maupun bagi masyarakat sipil yang ada  di antara keduanya.

Peperangan yang berkepanjangan di Gaza telah  mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Dampak  kerugian materi maupun nonmateri sangat dirasakan oleh masyarakat Gaza yang seperti terpasung di negeri sendiri. Pekerjaan apapun sepertinya menjadi sebuah ancaman bagi jiwa penduduk Gaza. Aktivitas menjadi sangat terbatas sehingga kehidupan merea sungguh menderita.

Korban perang sungguh tidak mengenal batas usia. Itulah yang di alami oleh anak Hamdi, Maria, seorang anak perempuan yang baru berusia sekitar enam tahun, kini harus mengalami cacat fisik seumur hidup. Itu disebabkan oleh perang. Perang yang membuat Maria menjadi cacat permanen. Namun, maria tidak pernah sadar bahwa penyakit yang kini merenggut kebahagiaannya itu tak akan pernah bisa disembuhkan lagi.

Kini, Maria kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya karena kaki dan tangannya sudah tidak bisa lagi berfungsi, bahkan untuk bernafas saja Maria harus menggunakan alat bantu. Keseharian Hamdi, bapak Maria, menghabiskan waktunya di sebuah rumah sakit anak di Israel untuk merawat Maria, sang buah hati. Hamdi begitu menyayangi Maria. Ia tidak pernah meninggalkan Maria sedikitpun. Sepertinya, waktu Hamdi sekarang hanya untuk memperhatikan anaknya.

Kaki dan tangan Maria cacat akibat kena serpihan bom tentara Israel yang dijatuhkkan ke sebuah mobil  Mujahid Islam. Mobil itu berada tepat di depan mobil yang Hamdi dan keluarganya tumpangi. Akibatnya, Hamdi harus merelakan istri dan pamannya pergi untuk selama-lamanya.

Kesedihan  yang  menimpanya tidak melalaikan Hamdi  sebagai seorang ayah untuk merawat Maria. Hamdi dengan sabar mengurus Maria, menyuapi makan, mengikat rambut, dan mengecat kuku dikerjakan  dengan sangat telaten.  Sesekali Maria juga dibawa ke luar rumah sakit sekedar menghirup udara bebas menghindari kesumpekan rumah sakit. Sebagai warga sipil biasa, Hamdi termasuk beruntung karena pemerintah Israel mau bertanggung jawab dengan menanggung perawatan anaknya Maria untuk sementara waktu. Namun, tak urung Hamdi juga meneteskan air mata,  merisaukan masa depan dirinya dan Maria.

Masa depan yang sangat suram menjadi sebuah  beban psikologis tersendiri  bagi korban perang.  Perang yang berkepanjangan benar-benar membunuh harapan  untuk menatap masa depan  dengan kepala tegak. Keputusasaan kerap melanda kaum laki-laki di Gaza, peperangan yang berkepanjangan dan tidak tahu kapan akan berakhir  benar-benar memperburuk keadaan yang ada.

Di masa perang perekonomian  sulit berkembang, memaksa kaum laki-laki mencari pekerjaan di luar kota. Walaupun perang  sebagai  kepala keluarga, kaum laki-laki di Gaza sangat bertanggung jawab  pada keluarga. Meskipun  untuk menghidupi anak isteri mereka harus  rela bekerja di luar kota dengan upah tak seberapa. Berbulan-bulan kaum laki-laki  meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta. Kerja menjadi buruh di pabrik batu bara, menjadi kuli bangunan adalah pilihan pekerjaan  di masa perang. Perang benar-benar mempersempit pilihan, hidup.

Tak jarang mereka juga harus mengalami kekerasan fisik dari pihak yang bertikai. Makanan yang basi,  tempat tinggal yang tidak layak huni bukan menjadi sebuah hambatan bagi para laki-laki di Gaza pada masa perang untuk sekedar bertahan hidup. Di musim dingin mereka tidak dapat tidur karena kedinginan sedangkan di musim panas nyamuk-nyamuk ganas siap memangsa.

Itulah sedikit kondisi yang tergambarkan dalam film documenter Hamdi and Maria yang merupakan karya Timor Britva (Israel, 2007). Satu hal yang pasti bahwa  Pelanggaran HAM yang terjadi di masa perang sangat besar dan dapat menimpa siapa saja.Inilah garis besar  film Hamdi  dan Maria dan film Orang Asing di Negeri Sendiri, yang diputarkan di Episentrum Ulee Kareng dalam acara ScreenDoc! Regular 2009,  kerjasama Episentrum Ulee Kareng dan INDOC dan didukung oleh Radio Antero, Harian Aceh, dan  Aceh Forum Community.

Film yang akan diputarkan pada hari Jumat, 22 Januari 2010 ini merupakan film penutup bagi program ScreenDoc! Regular 2009 yaitu Bade Tan Reuda, Hamdi dan Maria serta Stranger in Motherland (Orang Asing di Negeri Sendiri).[]

Judul : Hamdani and Maria | Karya : Timor Britva (Israel, 2007) | Katagori : Film Dokumenter

Oleh Hidayana dan Akmal M Roem

Baca Juga >>

Banner

Categories : Resensi Film - 133 views


Trackbacks & Pingbacks

Comments
Leave a comment