Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Tajuk Harian Aceh » Merazia Senjata di Masa Damai

Tindak kriminalitas di Aceh tak terlihat tanda-tanda menurun. Bahkan, peristiwa penculikan yang belakangan ini terjadi cenderung mencemaskan warga. Polda mencatat enam kasus penculikan terjadi di berbagai daerah di Aceh. Tiga dari enam kasus penculikan itu, pelakunya sudah ditangkap. Sisanya, masih dalam pengejaran petugas.

Dalam menggagalkan penculikan terhadap Muhklis Gayo, misalnya. Polisi baru menahan dua tersangka pelaku. Sedang untuk menangkap empat tersangka penculik lainnya Kapolda Aceh Irjen (Pol) Rismawan mengultimatum jajarannya untuk menangkap mereka, paling lambat akhir Maret ini.

Meski begitu, upaya polisi mengungkap tindak kejahatan dengan kekerasan dan bersenjata api di Aceh, belakangan ini diapresiasi cukup baik oleh banyak kalangan. Terutama, ketika Polda NAD mampu menyingkap insiden Atu Lintang, Aceh Tengah. Pihak kepolisian dapat melokalisir insiden itu di ranah kriminal.

Pihak-pihak terkait juga mampu menahan diri. Memberi kesempatan agar polisi dapat mengungkap insiden itu. Gubernur Irwandi dengan tegas mengatakan, bahwa aparat dia satu-satunya untuk menyelidik masalah itu adalah Polri. KPA juga memberi memuji kinerja polisi. Sikap masyarakat yang bertikai juga dipuji. Mereka mampu menahan diri.

Kapolda juga memerintahkan Kapolres Bireuen AKBP T Saladin untuk segera menghalang potensi konflik usai insiden Atu Lintang. Karena itu, pada Senin (10/3), jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA) bersama unsur Pembela Tanah Air (Peta) dan Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab) di Kabupaten Bireuen, difasilitasi Kapolres menyampaikan penyataan bersama. Mereka bertekad mempertahankan suasana kondusif, serta menghindari segala bentuk provokasi yang berpotensi menodai perdamaian.

Sikap dan upaya Pemerintah Aceh, Kepolisian dan KPA, sangat melegakan hati. Tapi, belum tuntas satu kasus diselesaikan, menyusul pula kasus lain yang tak kalah seriusnya. Parahnya, tindak kriminal itu dilakukan dengan senjata api pula. Dari dua pelaku penculik Mukhlis Gayo yang sudah ditangkap, petugas menyita dua pucuk senjata api. “Ini menunjukkan bahwa masih ada senjata api yang beredar secara liar di tengah masyarakat,” tutur Kapolda.

Untuk mencari senjata api ilegal itu, Kapolda membentuk tim penertiban  senjata api. April mendatang rumah-rumah penduduk yang dicurigai menyimpan senjata api ilegal akan digeladah. Termasuk senjata berizin resmi yang dimiliki anggota masyarakat tertentu, akan ditarik semua. Rismawan menyebutkan dalam operasi itu polisi akan bekerja sama dengan TNI.

Ihwal senjata api ini memang pelik. Seusai senjata milik eks GAM dihancurkan Aceh Monitoring Mission (AMM), banyak pihak yang curiga bahwa masih ada senjata yang disimpan dan tidak diserahkan. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik senjata-senjata ilegal itu. Bahkan, ada imbauan yang ditandatangani Gubernur Irwandi Yusuf, Pangdam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Supiadin AS, Kapolda NAD Irjen (Pol) Rismawan dan Kepala Kejaksaan Tinggi A. Djalil Mansyur.

Dalam imbauan disebutkan, mereka yang menyerahkan senjata api atau bahan peledak dalam batas waktu yang telah ditentukan, tidak akan diproses hukum. Kecuali, tertangkap dalam razia senjata yang digelar aparat kepolisian. Tapi imbauan Muspida Aceh itu belum banyak membuahkan hasil. Masih banyak kasus kriminal bersenjata api yang terjadi usai imbauan itu ditebar ke seluruh pelosok Aceh.

Mungkinkah karena alasan itu Kapolda memutuskan untuk menggelar operasi menjemput senjata api ke masyarakat? Kita belum tahu, bagaimana cara kerja petugas mendatangi rumah-rumah warga. Apalagi, ketika Polri memperbanyak razia di jalan umum bersama TNI.

Dengan meningkatnya frekuensi sweeping (razia), kita inginkan masyarakat justru tidak gelisah. Mereka yang trauma digeledah seperti masa konflik dulu, janganlah dipicu emosinya untuk menderita ketakutan serupa sekarang ini. Pihak kepolisian perlu mencari model dan cara yang tepat, untuk tetap dapat merazia senjata api, tapi hak-hak masyarakat untuk merasa aman juga dipelihara. Jangan sampai niat baik pihak kepolisian dan TNI, justru menyulut kepanikan baru dalam masyarakat, di masa damai ini.[]

Baca Juga >>

  1. mansur shah says:

    Razia senjata di Aceh.
    Itulah kalimat dan yang akan terjadi di bumi Aceh, lebih kurang, macam sebuah operasi juga.
    Acheh, tak lepas daripada operasi operasi sedemikian, bahkan sudah terlewati dan akan datang lagi yang lebih besar.
    Sepatutnya…julukan yang sepantasnya buat Atjeh adalah ‘Aceh negeri operasi’ itu mungkin adalah sangat sesuai.
    …perlu semua ingat, Aceh tidak akan pernah terlepas daripada operasi operasi itu sampai bila bila, kecuali…! Terlepas dan mardeka. Insya allah.
    Salam buat negeri operasi.

  2. Aulia says:

    Semua harus bergerak, memberantas SENPI (senjata api) biar rakyat aman.

    Aleh pakoen roh meupeugah bahsa Indo nyoe??????.

Leave a Reply

© 2008 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress