Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Buku » Menguak Tabir Penerbitan Neugara Aceh

Banyak alasan yang muncul mengapa di Aceh kurang buku. Salah satunya adalah ketiadaan mesin cetak di Aceh. Penerbit-penerbit di Aceh, jika hendak menerbitkan buku, mesti menggunakan jasa percetakan luar. Hal ini kemudian menjadi salah satu alasan lain mengapa media cetak di Aceh ikut-ikutan kurang.

Kalaupun sekarang sudah mulai bersaing terbit media cetak (koran/majalah) di Aceh, perkara mesin cetak masih menjadi salah satu kendala sehingga ada koran, buletin, tabloid, atau majalan yang “hidup-mati”. Misalkan saja, Tabloid Suwa, sampai sekarang tidak kelihatan lagi. Demikian juga Koran Aceh Kita, hingga sekarang masih vakum. Belum lagi dengan sejumlah nama koran harian semisal Aceh Pos, Aceh Expres, dan terakhir Raja Pos—dari harian beralih menjadi mingguan.

Semua media-media itu, meskipun alasan pertamanya adalah dana (uang), mesin cetak menjadi pengaruh penting pula. Kemudian, pascatsunami, beberapa majalah yang direncanakan terbit bulanan, juga ikut-ikutan terbit gaya kanker (kantong kering) sehingga terbitnya menanti kanbas (kantong basah). Misalnya, majalah Aceh Magazine, majalah Aceh Kita, Aceh Kini, Aceh Point. Kalaupun majalah-majalah itu terbit, percetakan masih menumpang ke luar Aceh. Satu-satunya saat ini percetakan yang dapat menanggulangi masalah cetak majalah, di Aceh, hanya percetakan PT Aceh Media Grafika milik Harian Serambi Indonesia.

Dengan dalih tidak adanya percetakan yang mampu menampung semua itulah, penerbitan di Aceh kalah saing dengan daerah luar di republik ini. Padahal, dalam lembaran sejarah tercatat bahwa Aceh pernah memiliki percetakan. Percetakan tersebut pertama sekali muncul di Banda Aceh pada tahun 1900 M. Percetakan itu bernama “Kutaraja” yang diusahakan oleh sebuah perusahaan swasta Belanda. Hal ini dapat diketahui dari buku “Kronologis Historis dan Dinamika Budaya Aceh” karangan H. Harun Keuchik Leumiek.

Dalam buku terbitan Majelis Adat Aceh (2008) itu disebutka bahwa di Aceh pernah ada percetakan dengan mesin offset yang dilengkapi sarana pendukung lainnya berupa mesin setting, mesin foto, dan copier sehingga dapat mencetak koran (surat kabar) berukuran 60 x 90 sentimeter, dengan kapasitas 16.000 lembar per jam. Waw… angka yang dahsyat tentunya. Jika masa silam saja dapat mencetak sebanyak itu, bagaimana jika mesin tersebut ada hingga sekarang?

Menurut Keuchik Leumiek, penulis buku setebal 180 halaman itu, percetakan dimaksud pernah diresmikan Meneteri Penerangan RI, Harmoko pada tahun 1983. Mesin cetak itu disebutkan pula pernah mencetak uang kertas sehingga ia dianggap sebagai satu-satunya mesin cetak offset Press Roland Parva paling mutakhir (lihat halaman 17-19).

Semasa percetakan itu masih dapat digunakan, banyak media cetak dihasilkan dari sana. Media cetak (surat kabar) yang pertama dihasilkan dari percetakan tersebut diberi nama “Atjeh Newsblad”, yang dikelola oleh penerbit swasta Belanda. Atjeh Newsblad terbit empat halaman per dua aminggu. Namun kemudian, percetakan yang sudah diakui sebagai percetakan Neugara Aceh masa itu berpindah ke Medan. Bagaimana cerita detailnya? Silahkan baca buku yang sampul depannya bergambar kupiah meukutop dan rincong Aceh tersebut.

Buku yang dieditori oleh Doel CP Allisah itu juga memuat sejumlah pernak-pernik adat dan budaya Aceh. Mulai dari sejumlah benda peninggalan sejarah Aceh yang erat kaitannya dengan adat dan budaya setempat, hingga tata cara adat istiadat di Serambi Makkah. Hal ini dapat dilihat seperti Pinto Aceh di Lamseupeueng, rumah tradisional, atribut makan sirih, Radio Rimba Raya, Loceng Kuno, pakaian adat dan tatacara perkawinan, serta tak ketinggalan tentang Mesjid Raya Baiturrahman. Semua itu ditulis dalam bentuk bahasa jurnalisme bertutur dengan mengandalkan daya reportase atau pengamatan langsung.

Harun Keuchik Leumiek yang saat ini menjadi salah seorang tauke emas di Banda Aceh, menulis semua pernak-pernik tersebut di Harian Analisa yang kemudian didokumentasikan kembali ke dalam bentuk sebuah buku. Karena itu, gaya penulisan dalam buku tersebut tidak lekang dari nada dan gaya penulisan jurnalistik. Tulisan yang didokumentasikan di sana merupakan hasil liputannya sebagai wartawan dalam rentang 1997-2007. Dari reportase 10 tahun itu, lebih kurang terkumpul 62 tulisan, yang sebagian besar bergaya feature (bertutur). Kalaupun ada penulisan jenis strigh news, hanya ada dua buah, yakni pada liputan tentang Pelatihan Pembentukan Peradilan Adat dan Hukum Gampong. Di sini, Keuchik Leumiek menulis tentang hasil wawancaranya dengan Ketua MAA, H. Badruzzaman Ismail. Kemudian, gaya penulisan yang sama terdapat pada “Adat Aceh Telah Terbukti Dapat Menyelesaikan Berbagai Masalah” hasil pidato Gubernur Aceh masa itu, Ir. Azwar Abubakar.

Dari sekian tulisan dalam buku terbitan 2008 itu, kita dapat mengetahui perkembangan serta dinamika adat dan budaya Aceh dari waktu ke waktu (sejak masa penjajahan hingga pascatusnami/2007). Upaya penggalian terhadap sejarah Aceh berdasarkan bukti-bukti peninggalan yang ada dalam kelihaian tutur Keuchik Leumiek membuat pembaca semakin yakin bahwa Aceh adalah negeri modal, negeri yang memiliki banyak kelebihan dari sekian kelebihan negeri lain di Indonesia. Karena itu, mungkin tidak salah kalau Ibu Pertiwi Indonesia enggan melepas Aceh dari negara kesatuan.

Membaca sejumlah bukti sejarah melalui karya Harun Keuchik Leumiek dalam buku ini membuat kita semakin yakin pula akan keperkasaan Aceh yang jikalau tidak hati-hati memaknai sejumlah kata atau kalimat di sini, otak kita akan terdekonstruksi untuk mempertanyakan dari mana asal Indonesia. Di buku ini disebutkan bahwa Aceh merupakan negeri paling tua usianya dibanding daerah-daerah lain di Indonesia (halaman 162). Dengan demikian, dapat dipertanyakan darimana sebenarnya nama Indonesia? Apakah Indonesia berasal dari Aceh? Jika benar, mengapa ibukota RI adalah Jakarta, bukan Aceh? Padahal—sekali lagi—Banda Aceh disebutkan sebagai daerah yang paling tua di Indonesia, yang didirikan oleh Ali Mugayatsyah 804 tahun silam. Karena itu, saya katakan mesti hati-hati menyimak setiap baris kalimat dalam buku ini.

Kendati demikian, buku ini ditulis bukan hendak memancing kembali konflik yang telah reda. Semua yang ditulis di sini berdasarkan reportase yang didukung oleh data dan fakta oleh Harun Keuchik Leumiek. Data dan fakta tersebut salah satunya dibuktikan dari hasil wawancara dirinya sebagai wartawan. Maka, yang ditulis di sini adalah apa adanya, bukan mengada yang apa-apa. Bagi ingin mengetahui pernak-pernik adat dan budaya dalam rentang waktu zaman sejarah hingga zaman pascatsunami, maka buku yang diberi pengantar Pemimpin Redaksi Harian Analisa dan Ketua MAA itu, layak dijadikan salah satu rujukan (kepustakaan). Diulas oleh Herman RN, pengasuh desk TAMADUN Harian Aceh.

Judul Buku : Kronologis Historis dan Dinamika Budaya Aceh

Penulis : H. Harun Keuchik Leumiek

Penerbit : Majelis Adat Aceh (MAA)

Tebal Buku : vii + 182 halaman : 17×24 cm

Cetakan : Pertama, 2008

Baca Juga >>

2 Comments

  1. nshu_86 says:

    wow…saya baru tahu nie, kalau aceh mempunyai sejarah percetakan yang cukup tua. tetapi yang saya inginkan sebagai anak bansa atjeh ialah supaya atjeh ini kembali jaya dalam arti apa yang pernah dimiliki oleh aceh pada masa sekarang dapat dimiliki kembali.saya berharap pemerintah melihat kembali sejarah atjeh yang telah lama terlupakan dan menjadikan dasar pijakan untuk melangkah supaya atjeh ini menjadi maju. gunakan hukum atjeh yang sebenarnya jangan setengah -setengah. dan satu hal jangan lupa dengan al – quran dan hadist karna masa kerajaan atjeh dahulu jaya karna para raja nya menggunakan al-quran dan hadist sebagai dasar pemerintahan dan jangn setengah-setengah

  2. nshu_86 says:

    o’ya toloh di jawab di email saya ya nahrul.hayat@gmail.com yang mana saya ingin nanyak, kalau ingin mengajukan proposal pembukaan perpustakaan gampong?karna saya mau membentuk perpustakaan di gampong saya di wilayah p.beutong.kec.darul imarah.aceh besar

Leave a Reply

© 2009 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress