Menduga-duga Motif Teror

By admin at 24 November, 2009, 11:57 pm

Aksi teror terhadap pekerja asing kembali terjadi, khususnya aksi kekerasan dengan menggunakan senjata api. Kali ini sasaranya kediaman warga asal Amerika Serikat (AS) di Jalan Meulu Kompleks Perumahan Dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang diberondong sekelompok orang bersenjata api. Rumah tersebut ditempati Michelle Ahmed dan Sarah Willis. Keduanya dosen asal AS yang mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Pusat Bahasa Unsyiah.

Bila di zaman konflik aksi kekerasan bersenjata dengan kelompok yang bertikai cukup terang dan jelas, tapi teror terhadap warga asing ini belum jelas. Kita tunggu aksi kepolisian untuk membuka tabir, agar masyarakat tidak menduga duga.

Memang, cukup banyak aksi bersenjata api pascakonflik di Aceh. Sebagian berkaitan dengan politik, sebagian bermotif uang, dan sebagian besar tidak terungkap. Aksi bak film laga tampaknya sudah menjadi kegemaran dan terbiasa dalam masyarakat yang sedang dalam masa tidak menentu ini.

Aksi kekerasan tentu tidak hanya terjadi di Aceh, tapi juga kini terjadi di mana mana. Bahkan di ibukota Jakarta. Bedanya, aksi di Aceh kerap kali berhubungan, atau dihubung-hubungkan dengan konflik. Entah benar atau tidak, kita hanya bisa tahu sebagian, sebagian besar—sekali lagi—, termasuk yang kemarin, hanya bisa menduga duga.

Rakyat mulai melihat tidak adanya rasa keamanan, dan pelaksanaan hukum juga belum sepenuhnya meyakinkan. Entah sampai kapan kita harus bersabar. Sementara kekerasan terus menebar sayapnya, dari mereka yang terjepit hingga depresi karena tekanan ekonomi hingga persoalan moral.

Sebuah perubahan yang luarbiasa seperti MoU Helsinki dan pilkada yang menghasilkan sesuatu yang sebenarnya “revolusioner” pun, ternyata kurang memenuhi harapan. Kita tidak memiliki psikolog atau kriminolog, yang setidaknya bisa meraba psikologi massa di Aceh mengapa ini berketerusan? Karena tidak terpenuhinya harapan? Tekanan hidup atau hanya dendam kriminal biasa atau dendam politik? Kita hanya bisa menduga duga. Yang jelas kekerasan seolah begitu mudah dilontarkan mereka yang belum menurunkan wajah bengisnya.

Bila di negeri yang beradab dan masih punya malu seperti Jepang misalnya, tekanan hidup dan depresi biasanya berakhir dengan bunuh diri. Apakah di negeri ini tekanan psikis pribadi dan kelompok justru berakhir dengan menekan hingga menghabisi orang lain. Tanpa merasa bersalah, tanpa takut apalagi malu. Karena kita semua telah terbiasa dan mungkin juga menyimpan perangai hampir sama. Hanya kebetulan beda nasib dan kedudukan saja. Naluri dan logika berfikir dalam menjalani hidup tampaknya hampir sama.

Apakah kita masih memimpikan demokrasi atau berbisik otoritarian yang adil sesuai dengan logika hidup bangsa ini? Entahlah, pesta demokrasi bisa memberi harapan dengan kapabilitas dan kapasitas orang yang dipilih penuh duga dugaan. Hasilnya juga menduga duga. Di negeri ini, menduga duga memang paling enak, termasuk selalu diajak menduga-duga motif teror terhadap pekerja asing yang terus terjadi di Aceh.[]

Baca Juga >>

Banner

Categories : Tajuk Harian Aceh - 213 views


No comments yet.

Leave a comment