KITA sadar, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Aceh masih rendah. Untuk memperbaiki kondisi ini, kita perlu mengubah sistem yang berlaku di dunia pendidikan dan pemerintahan. Tapi melihat yang terjadi, itu tidak mungkin dalam beberapa tahun ini.
Selain minimnya lembaga pendidikan bermutu, rendahnya SDM generasi Aceh juga disebabkan konflik berkepanjangan. Konflik telah memicu mental korup dan menghilangkan moral sebagian orang. Mental korup alias mental pencuri beberapa pejabat di Aceh mengakibatkan kian rendahnya SDM generasi.
Korupsi atau pencurian uang rakyat mengakibatkan ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga yang tertindas bisa menambah angka putus sekolah. Namun dalam beberapa profil ada juga anak yang tidak sekolah tinggi bisa sesukses bahkan lebih sukses dari yang sekolah tinggi. Ini adalah pengecualian.
Di Indonesia, sekolah formal masih menerapkan gaya kaku dan paradigma menjual ijazah untuk mendapatkan pekerjaan seperti PNS masih jadi mitos terbesar. Paradigma ini peninggalan Belanda yang ingin terus membuat penduduk Indonesia yang pengikut dan tidak bisa berpikir walau otaknya cemerlang. Sehingga, orang-orang yang berpendidikan tinggi bahkan profesor sekalipun hanya menginginkan hidupnya jadi budak penguasa alias PNS. Ini bisa disebut ketiadaan SDM dalam versi tingkat menegah atas. Yaitu, tiada SDM bukan karena tak punya pendidikan tapi pendidikan itu tidak bisa membuatnya ber-SDM sehingga hanya jadi pekerja biasa.
Masyarakat yang berpikiran brilian harus membantu pemerintah untuk membuat program yang bisa memajukan Aceh. Kita harus memusatkan pendidikan baik formal maupun nonformal pada usaha pembelajaran di bidang keterampilan lokal. Keterampilan itu bisa secara sendiri maupun terkelompok.
Kita harus mampu mengoptimalkan kemampuan masyarakat yang selam ini terabaikan karena konflik. Kita harus menciptakan masyarakat yang lebih produktif dan efisien. Caranya, kita harus meyakinkan pemerintah untuk membuat program yang menyentuh tingkat bawah.
Pendidikan nonformal di luar sekolah harus lebih berorientasi dengan pasar yang hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung gunanya. Pengembangan pendidikan nonformal di luar sekolah benar-benar difokuskan untuk memberdayakan masyarakat. Dengan adanya ini, kita orang Aceh mampu membaca dan merebut peluang dalam persaingan dari luar.
Untuk melestarikan perubahan yang baik ini, kita perlu memusatkan perhatian pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan berkelanjutan. Kita harus mengajukan program pada pemerintah agar mampu membentuk SDM yang berdaya saing tinggi. Kita harus meneruskan yang baik dari hasil kerja periode lalu dan membuat yang lebih baik kini.
Kita punya tanggungjawab pada generasi mendatang dan masyarakat kini. Aceh baru bisa maju bila masyarakat dan pemerintah sejalan dalam kerja demi generasi. Namun untuk merealisasikan ini, kita orang Aceh harus berani menyingkirkan orang-orang yang tidak bermoral, yang suka mencuri uang rakyat dari jabatannya. Seperti di China yang membunuh pencuri uang rakyat atau koruptor, maka Aceh hanya bisa maju bila itu dilakukan. Hidup hanya untuk orang yang berani.[]