Marah

By admin at 21 November, 2009, 10:13 pm

LELAKI itu duduk di rangkang lapuk ditengah-tengah ladang peninggalan orang tuanya yang telah lama pergi meningkan dunia untuk menghadap sang khalik. Lelaki bertubuh besar dan berkulit hitam itu tampak sedang memperhatikan setiap tanaman yang ada di dalam kebun yang tidak terlalu luas itu.

Lelaki berbadan tegap dan berkulit hitam itu adalah teman sepermainanku. Perkerjaan sehari-harinya hanya bertani. Bertani merupakan satu-satunya keahlian yang dimiliki karena semenjak kecil sudah mengguluti perjalannya ini, sehingga pendidikan yang pernah digulutinya hanya sebatas sekolah dasar, dan wajar saja kalau dia kesulitan dalam hal membaca sehingga imformasi yang didapatnya sangat kurang.

Kulihat dia sudah beranjak dari rangkang lapuk itu, rupanya dia mulai melakukan aktivitasnya sebagai petani, langsung saja aku menyapanya. “Hai untuk apa kau siram tanaman itu? Apa nanti tanaman itu tidak akan kedinginan…!.” Spontan saja dia marah dan memaki-maki aku sejadi-jadinya, aku pun tercengang mendengarkan makiannya yang di tujukan kepada ku.

Selesai mendengarkan makiannya, baru aku sadari bahwa ucapanku tadi telah membuat dia tersinggung tetapi kenapa ia harus tersinggung dan marah terhadap diriku? Padahal aku ingin bercanda dengannya. Ku beranikan diri untuk menanyakan perihal kenapa ia mesti marah dan memaki-maki aku dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya

“Hai kawan kenapa kau bisa marah seperti itu terhadap ku?” Kawanku itupun menjawab. “Aku marah karena kau telah mennyakiti aku dan tanaman ku. Apa kamu tidak tahu tanaman itu butuh air untuk ia makan dan aku butuh tanaman itu juga untuk aku makan dan di jual di pasar, yang kemudian dibeli dan di makan oleh orang lain termasuk kamu sendiri nantinya juga memakan sayur-sayuran ini.”

Setelah mendengarkan alasan yang dia sampaikan, akupun langsung meminta maaf dan menyesal atas ucapan ku sendiri. Syukur dia dapat memaafkan aku seraya meminta aku untuk tidak mengulangi lagi ucapan-ucapan yang dapat menyakiti perasaannya dan juga kepada orang lain.

Matahari mulai terbenam yang menandakan waktu magrib akan tiba. Aku pun bergegas untuk segera pulang, belum sampai lima langkah aku berjalan, dia kembali marah kepada ku sambil berkata, “Dasar jelangkung kau.” Tentu saja aku marah karena ia telah menyatakan aku dengan sebutan jelangkung. “Apa perihal kamu menyatakan aku jelangkung? Kamu jangan menghina aku seperti itu.. walau tubuhku kurus seperi ini juga pemberian tuhan..!”

Ingin rasanya aku meninju moncongnya yang monyong itu, namun aku masih bisa meredam emosiku. Kutanyakan kepadanya kenapa kau sebut aku jelangkung? “Karena kau pulang tidak berpamitan. Apa bukan jelangkung namanya!”. Benar juga pikirku, aku datang ketempatnya memang tidak diundang dan setidaknya saat pulang aku harus berpamitan agar tidak di sebut jelangkung. Akupun kembali meminta maaf yang kedua kalinya sambil berpamitan minta pulang.

Sesampai di rumah azan magrib pun berkumandang di mesjid dan menasah yang ada di kampungku, aku pun bersiap-siap untuk menuju ke mesjid untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Selesai shalat magrip akupun tidak langsung pulang kerumah tetapi nongkrong di warung kopi yang tidak jauh dari rumah ku. Hal tersebut memang sudah menjadi kebiasaanku pada setiap harinya.

Nongkrong di warung kopi juga sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian warga kampungku yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani, di warung kopi pun ada orang yang marah-marah hanya karena masalah sepele, kopi pahit pun menjadi alasan untuk bisa marah kepada pemilik warung. Yang anehnya orang bisa marah hanya gara-gara selesai membaca koran lalu bercerita kepada teman sehingga terjadi aksi saling mempertahankan argumen masing-masing. Entah apa yang mereka perdebatkan akupun tidak terlalu menggubrisnya karena takut mereka akan marah padaku.

Hari semakin malam, setelah membayar semua pesananku aku pun segera melangkah pulang untuk beristirahat. Sesampai di rumah aku langsung merebahkan badanku di tempat tidur namun aku tidak dapat langsung tertidur lelap karena pikiranku di hantui oleh orang yang marah-marah tadi, tanpa ku sadari ternyata matahari sudah terbit kembali dan akupun bangun dengan kepala sedikit pening karena tidurku tidak nyenyak.

Selesai mandi dan minum pagi, kulihat dari balik gorden rumah ku yang dekat dengan pantai ternyata di luar sudah banyak orang yang pergi berlibur. Maklum saja karena hari ini hari minggu. Akupun melangkah keluar rumah untuk menikmati hari libur di kampung sendiri.

Kenyamananku untuk menikmati indahnya matahari pagi, lagi-lagi terusik oleh pertengkaran dua bocah laki-laki dan perempuan yang masih ingusan, karena mereka masih kecil aku berani menghampiri mereka dan menanyakan perihal yang menyebabkan mereka bertengkar. Ternyata kedua bocah tersebut saling ejek antara satu sama lainnya.

Bocah laki-laki mengejek bocah perempuan karena sepeda miliknya sudah usang sedangkan bocah perempuan membalas dengan ejekan pakaian yang di kenakaan bocah laki-laki sudah jelek dan robek sehingga pusar si bocah laki-laki nampak keluar. Untuk menghentikan pertengkaran kedua bocah itu maka aku menyuruh mereka pulang dan mereka pun menurutinya.

Dasar bocah sudah mau pulang pun masih mengoceh. “Kamu enak…! Karena orang tuamu kaya bisa pakai baju bagus”! sebut si bocah laki-laki kepada bocah perempuan. “Alhamdulillah moga saja orang tuaku benar-benar bisa jadi kaya,” jawab bocah perempuan, yang sebenarnya orang tuanya itu juga tidak kaya.

Selesai mengurusi pertengkaran kedua bocah tadi, aku pergi untuk menikmati secangkir kopi sambil membaca koran harian yang setiap hari terbit di Aceh. Judul demi judul aku pelototi namun hanya satu judul yang menjadi sorotanku tentang orang kaya yang marah dikatakan kaya.

Judul tersebut telah menyedot perhatianku dan kubaca secara perlahan-lahan agar baris demi baris kalimat yang terdapat di harian tersebut tidak terlewatkan olehku. Sangking kusyuknya aku membaca koran, kopi ku yang sudah dinginpun tidak aku perdulikan lagi bahkan gulanya pun belum aku pecahkan. Ternyata orang yang dikatakan kaya itu dalam berita koran adalah orang yang terpandang dan dihomati saat ini di daerahku.

Akibat dari berita itu pikiranku kembali kacau, sambil berpikir dan bertanya-tanya dalam hati kenapa dia harus marah? Dan sampai-sampai aparat hukum pun harus turun tangan gara-gara di sebut kaya, seharusnya orang tersebut mengucapkan “Alhamdulillah” agar Allah memberinya rezeki yang berlimpah dan bisa menjadi benar-benar kaya!.

Mataku masih tertuju pada berita tersebut, karena aku membacanya berulang-ulang sambil mengaduk kopiku yang sudah dingin sedari tadi. Berita itu mengingatkanku pada bocah perempuan yang dikatakan kaya oleh temanya tetapi bocah itu tidak marah malah dia bersyukur dan berharap agar bisa benar-benar kaya.

Hari semakin siang perut ku sudah mulai terasa lapar. Sebelum pulang kuhabiskan kopiku yang sudah dingin agar tidak mubazir walau sudah dingin kopi tersebut tetap terasa enak dilidahku. Kunikmati kopi itu sampai habis, namun sial bagiku ternyata pada tegukan terakhir ada sesuatu yang aneh di dalam mulutku. Ternyata ada sekitar lima ekor lalat yang sudah mati di dalam gelas kopiku.

Langsung saja aku memarahi lalat yang mati itu, sehingga orang-orang yang ada di warung kopi menertawakan aku, sambil mengucapkan “Dasar gila kamu sama lalat saja bisa marah.” Benar juga pikirku, kenapa harus marah itu kan cuma lalat. Lagiaan lalat itu sudah menerima gajaran akibat meminum kopi yang bukan miliknya, yakni mati dalam adukan kopiku.[]

Oleh Ardian Udayatna

Baca Juga >>

Banner

Categories : Cerpen - 311 views

Comments
Bahagia Arbi 22 November 2009

Ini satu cerpen yg unik danmenarik karena byk org yg suka ngopi mengalaminya…:) Teruskan perjuangan bung Ardian….Regard

Leave a comment