Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » Mahligai Ternoda

Ilustrari: Tauris Musatafa

Ilustrari: Tauris Musatafa

NISA, itulah namaku. Ibu dua anak dari suami yang hidup penuh kesederhanaan. Kami bahagia meski jauh dari kesan mewah. Dari dulu ketika kami masih tinggal di tepi pantai, lusinan janji telah terucap untuk saling setia.

Hari-hari aku larut dalam lamunan silam. Kedua anakkku menghampiri memberitahuku bahwa azan sudah dikumandangkan. Usai menghadap Illahi, kami makan bersama. Suamiku kemudian mengajak kedua anak kami untuk pergi memancin di kolam yang tak jauh dari rumah.

Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, aku berdiri di teras melihat anak dan suamiku sabar menunggu pancingan. Tiba-tiba ayah anakku itu tergelincir dan jatuh ke kolam, aku berteriak berlari membantunya ke luar dari kolam. Ketika tangan kuulurkan untuk membantunya naik ke pematang, ia sengaja menarikku ke koman, aku jatuh basah kuyup, tercebur bersamanya. Anak-anakku tertawa melihat kami. Setelah itu kami kembali memancing sampai senja. Kami pulang dengan hasil tangkapan yang cukup untuk sehari makan

Esok harinya, seperti biasa aku pergi ke ladang, sedangkan suamiku pergi mencari pekerjaan meski pekerjaanya tak menentu. Kami bersyukur karena setiap harinya suamiku memperoleh uang untuk kebutuhan, meski hanya cukup untuk sehari. Hari itu ia membawa kabar gembira, diterima bekerja  sebagai seorang buruh bangunan.

Berangsung kehidupan kami berubah, sampai kami bisa membangun rumah dan menyekolahkan dua anak kami. Seminggu kemudian, kami sekeluarga menuju ke rumah mertuaku yang sedang sakit. Meski aku tahu, mertuaku tidak senang akan kehadiranku karena aku bukan berasal dari keluarga berada. Sudah sebulan kami di sana. Setelah kondisi mertuaku sehat, kami kembali ke kampung.

Seperti biasa aku mengantar kedua anakku berangkat sekolah, dan suamiku berangkat kerja. Tapi sesampai di rumah, suamiku pulang dengan badan yang lesu dan raut wajah yang penuh kekesalan. Aku heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada suamiku? Ketika aku bertanya, dia hanya terdiam, dan tak menggubris pertanyaanku.

Belakangan ini, suamiku sering pulang telat, seakan-akan, dia seorang pengusaha yang besar, bahkan dia pernah tidak pulang kerumah saat kubertanya, dia selalu menjawab banyak pekerjaan. Rasa penasaran terus menggelayuti pikiranku. Biasanya dia selalu pamit ketika berangkat kerja. Mendengar perkataan suamiku, anakku bertambah semangat pergi ke sekolah. Tapi kini kata-kata itu tak pernah diucapkannya lagi. Aku mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Suatu hari aku memergoki langkah suamiku menuju tempat kerjanya. Di seberang desaku, Totor Ines, alangkah tersentaknya hati ini melihat suamiku pergi bersama seorang wanita yang masih remaja. Lalu aku pun membuntutinya ke mana mereka pergi. Akhirnya aku mengetahui siapa sebenarnya wanita itu, meski hati terasa teriris sembilu menggores jantungku untuk menerima semua kenyataan ini, aku tetap tegar dan menutupi kejadian ini agar kedua anakku tidak mengetahuinya. Ternyata wanita itu, adalah kekasihnya.

Lalu, aku menuju rumah seraya menjemput anakku dari sekolahnya. Setelah aku sampai ke rumah, aku tak sanggup menahan linangan air mata dan akhirnya air mata itu mengalir deras menggenangi pipiku. Betapa teganya suamiku yang telah mengingkari janji yang pernah terucap dahulu.

Tapi kini, semua harapanku musnah sudah untuk menjadi ibu yang baik di mata kedua anakku. Setelah berpikir panjang, aku pun bercerai dan berpisah dengan anak-anakku, walaupun berat rasanya untuk mengayunkan langkah kaki dan pergi meninggalkan kedua anakku, dalam ayunan kaki yang kulangkahkan dunia pun terasa gelap menyertai kepergianku.

Tapi yang lebih menyayat hati, suamiku rela menjual rumah dan kebun dari hasil jerih kami demi wanita itu. Aku pun pergi, meski isak dan tangis mereka mengiringi kepergianku. Aku tak sanggup menahan air mata. Pedih rasanya ketika kejadian itu merenggut semua kebahagiaanku. Seandainya datang malaikat pencabut nyawa di kala itu aku rela pergi bersamanya. Aku merasa tidak ada artinya hidupku di dunia ini. Tapi aku menyadari mungkin ini takdir dan suratan hidupku. Dan pada kejadian ini aku mendapat satu pegangan hidup, bahwa cinta tak ada yang kekal dan abadi kecuali cinta Tuhan terhadap hambanya. Semoga suatu saat nanti aku bisa hidup seperti dahulu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Aku teringat pada satu nyanyian, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku juga teringat pepatah dahulu.Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Inilah dendang yang menguatkan langkahku untuk meninggalkan tanah dingin ini. Aku akan meninggalkan kenangan buruk seiring kepergianku untuk menuju kehidupan baru nantinya. Good bey tanoh Gayo, bisikku seakan mengucapkan selamat tinggal yang sedalam-dalamnya.

(Gayo, Oktober 2009)

Oleh Farida Gayo.

Baca Juga >>

2 Comments

  1. Bahagia Arbi says:

    Cerita yg manis bu farida…..

  2. Evie says:

    Cerita yg bagus…membangkitkan semangat untuk hidup dan berjuang…Seharusnya begitulah perempuan…jangan hanya menangisi nasib…dan tak melakukan apa2…Perempuan harus hebat…

Leave a Reply

© 2009 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress