Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » LELAKI SENJA

Cerpen: Mahdi Idris

ORANG-ORANG menyebutnya lelaki senja. Tak ada yang tahu dari mana asalnya, tentang siapa dirinya. Orang-orang membatin dalam hati, tapi sungkan bertanya pada lelaki itu. Padahal wajahnya tak seseram yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, biasa-biasa saja, berpakaian rapi, baju putih, peci hitam, sarung merah petak-petak bercampur kecoklatan. Ia seperti sosok sang sufi, membungkuk ketika melewati beberapa orang yang sedang duduk.

Sore itu aku melihatnya, ia sedang membasuh muka dibak air mesjid kami, lalu kudekatinya, ingin melihat dengan jelas si lelaki itu. Sebab dulu aku hanya mendengar dari orang-orang kampungku bahwa mesjid kami sering di datangi si lelaki senja. Dan balai mesjid sering menjadi tempat istirahatnya dari pagi sampai matahari terbenam. Sekarang rupanya ia ingin melanjutkan perjalanan seperti yang dilakukan entah berapa lama sudah dimulainya, tanpa membuang waktu aku menyapanya.

”Assalamu’alaikum!”

”Wa’alaikum salam!” Jawabnya pelan setengah berbisik.

”Teungku dari mana? Tanyaku.

”Enggak tahu.” Jawabannya begitu enteng. Iapun tak melihat kearahku.
Ia terus membasuh kaki, dan meninggalkanku yang terpaku bagai batu.
Akupun sadar, bahwa senja hampir tiba, kelelawar mulai keluar dari sarang terbang melintasi langit diatas kepalaku, tak lama kemudian tubuh lelaki itu telah hilang dibalik tikungan jalan yang berdebu, ia lenyab bagai ditelan bumi.

Seusai maghrib seperti biasa aku mengajari adik kecilku membaca Al-Qur’an atau pengenalan huruf Hijayyah dengan ejaan kalimat, tiba-tiba kudengar ketukan pintu dan orang memberi salam dari luar
”Alaikumussalam,” jawabku.

Lalu aku bangkit, tak sengaja ekor kucing terinjak ”ngeauw” kucing meraung kesakitan.

”Emi, kalo lagi diajarin baca Al-Qur’an jangan suka ngeong nanti jadi kucing benaran, tau !” Bentak Ibuku dari dapur.
”ha ha ha!” adikku tertawa.

”bukan ngeong aku bu, tuh abang nginjak ekor kucing” Jawab adikku dengan geram. Wajar saja ibuku bilang ngeong adik karena dia suka sekali ngeongan kucing, akupun senyum kecut, dasar nama adikku Suheimi panggilannya Emi, kadang-kadang dipanggilnya Mi, berarti kalau diartikan dari bahasa Aceh menjadi Indonesia-nya ”kucing”.

”Hm, mhm!” orang diluar itu berdehem, sepertinya tak sabar menunggu, lalu pintu kubuka. “Silakan masuk pak! Kataku, mempersilahkannya masuk kerumah.

“Trima kasih, Dek!” Jawabnya dengan sopan.

Kemudian laki-laki muda itu duduk pada sofa sebelah kananku.
”Ada yang bisa saya bantu, Pak?”Tanyaku padanya mengawali pembicaraan kami.

”Gini dek, apakah adik yang berjumpa sama seorang laki-laki berbaju putih tadi sore di mesjid sebelah rumah ini?”

”Iya, Pak. Memangnya kenapa, Pak?”sahutku dengan suara gemetar, dan pikiranku mulai kacau, jangan-jangan itu. Akupun tak tahu harus bagaimana, pikiranku terbang kemana-mana, siapa laki-laki yang kujumpai tadi sore? Dan apa hubungannya dengan laki-laki muda yang sedang duduk dihadapanku sekarang. Kurasa laki-laki tadi sore itu bukan penjahat, menurutku kelihatannya ia hanya orang kurang waras, buktinya setelah kutanya darimana dia, ia hanya mengatakan ”tidak tau”. Itulah namanya tidak waras, kalau orang waras pasti tahu apa yang harus dijawab.

Mungkinkah dia pura-pura gila? Seperti kejadian beberapa bulan lalu di bis, ketika razia polisi ada seorang laki yang ngaur ngomongnya, polisipun menggeledahnya ternyata ia pengedar ganja, dan polisi memboyongkan ke pos dan sampai disana ia lebih gila lagi dan mengamuk, agar polisi mengira ia sakit jiwa, dan dilepaskan dari jeratan hukum pidana.

Tapi lelaki tadi sore itu bukan pengedar ganja, akupun tidak tahu juga siapa dia. Dan laki-laki dihadapanku sekarang itu bukan polisi, kalaupun polisi tidak mungkin mimiknya seperti orang linglung. Apa ada sekarang polisi linglung, jalan-jalan disenja hari tanpa perkenalan lebih dahulu atau menunjukkan surat perintah dari komandannya, itupun rasanya tidak, ini sekali lagi membuat batinku ragu atau tidak menduga sama sekali.
Kami sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing, tak ada yang keluar dari mulut, selain desah nafas menyesakkan dada, tiba-tiba ia mengangkat kepala menghadapku, mengawali pembicaraannya.
”Sebenarnya dik, laki-laki tadi sore abang saya.”

”Jadi, kok tahu saya yang jumpa ama dia?” tanyaku, kupotong pembicaraannya.

”Karena sebelu kemari saya tanya ama orang-orang diwarung dekat mesjid, apakah mereka melihat seorang laki-laki dengan ciri-ciri seperti di foto ini, iya kata mereka dan adiklah yang langsung bertemu dengannya,” sambil menyodorkan selembar foto warna kepadaku, dan aku manggut-manggut membenarkannya.

Tiba-tiba ibuku datang dengan sebuah nampan berisi dua gelas teh hangat. Dan mempersilahkan kami untuk minum sambil tersenyum menampakkan keramahannya, ternyata ibu tahu bahwa malam itu kedatangan tamu, dan sudah kebiasaannya ibu selalu menghidangi minuman walau segelas the bila datang tamu kerumah kami. Kemudian ibu kembali kedapur sambil mengajak adikku untuk sarapan malam.
”Silakan diminum tehnya,” ajakku pada lelaki muda itu.

”Terima kasih, Dik” sahutnya pelan.

Dari wajahnya kelihatan ia begitu cemas, tapi dibalik itu ia menampakkan ketegaran dalam menghadapi permasalahannya. Walaupun demikian keingintahuanku tetap menggebu tentang abangnya yang menjadi lelaki senja itu.

Tanpa kupinta kemudian laki-laki muda itu menceritakan sebab-musabab yang terjadi pada abangnya; silelaki senja, peristiwa itu telah terjadi sepuluh tahun silam. Suatu sore hujan gerimis turun perlahan basahi bumi. Segerombolan laki-laki berpakaian loreng masuk kerumah abangnya. Mereka memanggil penghuni rumah dengan nada kasar ; bahasa Indonesia yang kental.

” Aziz, keluar kau! ” panggil salah seorang di antara mereka.

”Kalau tidak mau keluar, rumah ini kami bakar biar mampus kau sekalian!” laki-laki itu mulai mengancam, sambil menendang pintu. Kemudian Bang Aziz keluar dengan muka pucat pasi, namun ia begitu tegar menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

”Di mana bajingan yang yang kau sembunyikan kemarin?”

”Maaf, Pak, saya tidak menyembunyikan siapa-siapa di rumah ini ”.

”Hei? Jangan sok suci kau ya!” kepala geromblan itu ngamuk, tak pelak lagi tinju melayang kewajah Aziz, darah segar memuncrat dari hidungnya. Namun bang Aziz tak merasa apapun walaupun tubuhnya mulai sempoyongan, lalu tubuhnya jatuh, ia pingsan ketika itu.
Dengan bebas gerembolan laki-laki loreng itu masuk menerobos rumah Aziz, dijambak rambut istrinya, ditendang anaknya yang masih berumur empat tahun, tangis histeris terdengar dari dalam rumah memecah keheningan sejenak dalam insiden itu. Rumah-rumah di sekitarnya semua tertutup, tak ada yang berani menampakkan batang hidung sekalipun. Mereka akan tahu akibatnya bila gerombolan laki-laki berbaju loreng itu mengamuk, seperti yang terjadi sebelumnya ; beberapa hari yang lalu dikampung mereka.

Kemudian Bang Aziz siuman, ketika kedua tangan dan matanya diikat oleh kepala gerombolan itu, begitu pula istrinya, dan anak merekapun tak luput dari kekejaman mereka. Lalu mereka bertiga dinaikkan ke truk berwarna hitam, dan truk itu melaju cepat bagai kesetanan, hanya tebaran debu yang mengepul dibelakang, sampai sekarang anak dan istri Bang Aziz tak ada yang tahu, entah bagaimana nasib mereka. Dua selang selang beberapa bulan kemudian hanya Bang Aziz yang kembali dengan besak luka diwajah , tangan dan kaki, pakaiannya compang-camping.
Ketika itu kami langsung mendekatinya, memeluk dan menciumnya berkali-kali, tapi dia tak berkata apa-apa. Hanya diam tak ingin bicara, lalu kami tanya dimana istri dan anaknya, iapun diam berdiri seperti patung hanya desah nafasnya yang terdengar pelan.
Mulai saat itulah Bang Aziz sudah tak waras lagi, sungguh ia tak mengerti apa-apa, makanpun ia sering pula lupa, setelah kami tahu keadaannya seperti itu, lalu ayah membawanya kerumah kami yang letaknya disebelah kampung tinggalnya.

Hari-hari yang dilaluinya sangat menyedihkan. Ia hanya termenung, setiap kali kami tanya ia hanya diam, dan ditatapnya kami dengan tatapan hampa, tapi ada satu hal yang aneh darinya. Ia tak pernah tersenyum dan menagis.

Tepat setelah azan asar, ayah kami pulang dari sawah bersama ibu didapatnya rumah kami kosong dan sepi, Bang Aziz yang selalu dirumah pun telah pergi. Hanya tiga baju dan celananya yang tertinggal dikamarnya. Semenjak sore itu orang tua dan kami dua anak laki mulai gelisah disertai cemas, dengan berbekal selembar foto kami mencari Bang Aziz, tapi nihil dan sia-sia Bang Aziz tak pernah kami temukan, pencariannya tetap kami lakukan sampai saat ini. Dan fotonya kami perbanyak dan mengirimnya keberbagai media di Aceh untuk dimuat diberita orang hilang, tapi hasilnya tetap sama saja.

Mendengar kisah lelaki senja itu aku begitu terharu, mataku berkaca-kaca, tapi laki-laki muda yang bercerita dihadapanku, seperti nya tak terasa apa-apa, entahkah ia telah akrab dengan air mata? Mungkin iya, sehingga matanya telah mengering tak mampu lagi mengeluarkan tetesan air mata.

Jarum jam menunjukkan pukul 00.10 Malam. Laki-laki muda itu minta pamit, tiba-tiba kudengar suara seorang laki-laki memanggilku dari luar rumah.

”Aldi… Aldi, tolong keluar sebentar, di..!?” seperti panggilan orang ketakutan, lalu aku keluar dengan laki-laki muda itu.

”Oooo…. Pak Karim, ada apa, Pak?” Tanyaku penasaran
”Tu Aldi, laki-laki yang jumpa ama kamu tadi sore? Jawab pak Karim sambil menunjuk kearah kerumunan orang banyak di depan mesjid yang tak jauh dari rumahku, dibawah keremangan cahaya lampu.
”Bang Aziz?” Kudengar kata laki-laki muda disampingku.

”Kenapa dia pak?” Tanyaku.
”Dia… ddi… dia…tertabrak, Di…di…” jawab Pak Karim dengan terbata-bata.

Kemudian kulihat laki-laki muda disampingku mulai shock berat, dan nafasnya terengah-rengah seperti orang kecapekan mengangkat benda berat, namun ia masih sadar diri, lalu kurangkul tubuhnya, dan kubisikkan; Sabarlah bang, semua ini kehendak dan takdir-Nya.” Lalu kami berjalan mengikuti Pak Karim.

Kulihat wajah lelaki senja itu begitu berseri, ia tersenyum. Lalu kupegang dada dan urat nadinya. Ternyata ia tak bernyawa lagi telah pergi kehadirat ’Azza wajalla. Laki-laki muda disampingku merangkul tubuhnya yang berlumur darah, seakan ia tak mau melepaskannya, menumpahkan rasa rindu yang sekian lama terpendam, kerinduan yang tiada tara, kerinduan sang adik kepada kakaknya. Namun kerinduannya hanya pada batas senja, segalakan sirna, lenyap bersama takdir dan kehendak yang Maha Esa.

Tak lama kemudian kepala Desa dan Tgk. Imum datang dan kami membawa jenazah lelaki senja untuk disucikan dibalai mesjid tempat istirahatnya tadi sore. Setelah penyucian selesai, jenazah diantar dengan Ambulance Puskesmas Desa kami ketempat tinggalnya diluar Kecamatan kami, mengingat jenazah harus dikebumikan esok harinya dengan secepat mungkin.

Malam itu aku tak mampu memejamkan mata, wajah lelaki senja selalu membayangiku, dan kisahnya begitu melekat dalam ingatanku. Lalu aku bangun menuju ruang tamu, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dengan terpaksa kubaringkan tubuh. Kupejamkan mata tapi bayangan lelaki senja tetap bermain dipelupuk mata, antara tidur dan terjaga kulihat lelaki senja tersenyum dan melambai tangan, lalu ia berkata; ”Aku takkan pernah hadir kembali seperti senja sedia kala.”
* Tanah Luas, 11 Pebruari 2009

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2009 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress