KOMPETISI Miss Landmine atau Putri Ranjau, tahun ini untuk kedua kalinya, memancing emosi berbeda. Tapi seniman Norwegia Morten Traavik, yang punya ide menggabungkan kontes kecantikan dan kengerian yang ditimbulkan ranjau, tahu cara menggunakan metode ‘menantang’ untuk menguak persoalan dunia.
Kisah sedih para korban ranjau di Angola – di mana lebih dari 80.000 orang jadi korban ranjau selepas 20 perang saudara – menginspirasinya untuk mengadakan proyek ini. Sebuah kontes kecantikan, bernama ‘Putri Ranjau Angola 2007′, adalah hasilnya. Kontes ini berhadiah utama kaki palsu dari emas. “Ini cuma trik teatrikal lama yang saya gunakan,” katanya waktu itu. “Trik ‘tabrakan’: gunakan dua oposisi, dua hal yang saling berlawanan – sebuah kontes kecantikan dan perempuan yang pernah terluka parah karena ranjau. Sebuah muslihat, ya, tapi toh itu berhasil.” Semuanya demi seni dan demi para korban ranjau, kata Traavik.
Walaupun dikritik banyak pihak (salah satunya dari kelompok feminis Norwegia yang mengatakan bahwa kontes kecantikan adalah penghinaan bagi perempuan), pemilihan Putri Ranjau 2007 di Angola membuahkan kesuksesan besar bagi Traavik dan para korban ranjau. Publisitas internasional mengenai kontes ini membuat para partisipan akhirnya merasa bahwa mereka diakui sebagai korban perang yang hamper terlupakan.(rnw/mhy)