Ketika kita menghadapi sebuah puisi atau karya sastra sejenisnya, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran/makna atau struktur pengertian yang hendak disampaikan penyair.
Banyak puisi atau sajak yang dapat berbicara sendiri. Saya mencoba mengapresiasi sebuah karya penyair kita, Wiratmadinata, kiranya dapat memperdalam pengertian kita tentang gagasan yang ingin disampaikan oleh si penyair, dalami Sajak yang Terbunuh Kesunyian
Bayangkan kau terlempar jauh
Diantara pokok-pokok sunyi
Gemerisik, desir dan angin mati
Membeku di titik nadir bumi.
Kau memburu semua kenangan
Semua bayangan dan harapan
Yang kau tangkap atau kau tinggalkan
Berlabuh dalam secangkir kopi pagi.
Lalu kau bayangkan ladang kopi
Serta beberapa anak nakal,
Yang pernah ngompol bersama
Dan juga sebuah lagu cinta.
Tapi tidak. Ternyata tidak juga.
Tak ada yang kuasa berbagi
Karena kenangan dan kesunyian
Telah bersekutu untuk membunuhmu.
(Wiratmadinata)
Secara estetik, puisi/sajak memiliki unsur-unsur berikut; diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi dan tata wajah. (Herman J. Waluyo,1991). Dengan pendekatan unsur – unsur tersebut kiranya kita akan menemukan “jejak pembunuhan dalam Sajak yang Terbunuh Kesunyian” yang kita maksud. Berikut ulasannya.
Diksi
Penggunaan diksi pada puisi karya Wiratmadinata di atas telah sesuai pada tempatnya. Diksi tersebut menunjukkan kuantitas perbendaharaan kata dan sekaligus menghadirkan kata-kata yang berdaya sugesti. Seperti pemilihan kata ‘terlempar jauh’……/…….’pokok-pokok sunyi’/……..’angin mati’/……’di titik nadir bumi’/
Kata-kata tersebut sengaja dipilih dan dikonsentrasikan si penyair secara estetis, konstruktif dan terstruktur untuk menimbulkan kesan dalam menyampaikan pesannya. Ungkapan terlempar jauh memperkuat imaji pembaca/penikmat, yang diminta untuk membayangkan. Hingga gemericik, desir dan angin mati / membeku……../ kalimat tersebut dihadirkan guna menampilkan suasana kehidupan/kenyataan yang begitu asing, begitu jauh, begitu menegangkan dan membeku pada ujung usia dan kapasitas bumi; yang melambangkan tempat berpijak, keberadaan dan eksistensi si ‘engkau,’ dan juga mewakili tempat penciptaan sajak tersebut.
Pada bait kedua si penyair mulai merenggangkan diksinya dengan menggunakan kata-kata umum, tetapi tetap menimbulkan kesan konotatif (di benak kita) sebagai konsekuensi puisi/sajak yang ia ciptakan. Yang ditutup dengan ‘berlabuhnya si engkau (Juga sejarah, pengalaman dan harapannya) dalam secangkir kopi pagi’.
Sedangkan pada bait ketiga penyair kembali mengajak si engkau membayangkan ladang kopi, sembari menampilkan beberapa anak nakal yang pernah ngompol bersama. Ungkapan ngompol bersama sebagai penanda keluar dari kelaziman, ungkapan khas penyair, atau usaha untuk pemberian makna baru; si engkau membayangkan perubahan dan harapan. Itu semua bagian dari setting/back ground pembunuhan yang akan terjadi lalu disempurnakan dengan, Dan sebuah lagu cinta (akhir bait ketiga sampai awal bait keempat)
Pengimajian
Penyair sangat berhasil dari sudut pengimajian, yang berfungsi memperjelas dan menjernihkan pesan penyair. Tapi itu tidak dilakukannya. Dalam sajak di atas imaji bersanding dengan kualitas abstrak yang dihadirkan sang penyair. Menurut hemat saya inilah daya lebih kreativitas yang ditampilkan Wiratmadinata.
Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata yang konkret dan khas. Secara lazim ada tiga macam imaji. Pertama, imaji visual. Kedua, imaji auditif. Ketiga, imaji taktil (cita rasa). Pada puisi Wiratmadinata di atas, ia telah mengetengahkan beragam imaji yang dimaksud. Kecuali desir, angin dan lagu cinta; Setiap bait dipadati dengan imaji visual dan imaji taktil, seperti;
/Kau memburu semua kenangan /Semua bayangan dan harapan/Yang kau tangkap atau kau tinggalkan/
Dan imaji visual maupun taktil tersebut digunakan efektif dan efisien (meskipun dalam bentuk yang umum; agar pembunuhan yang dimaksud memang berlangsung serta merta/tanpa disadari) melalui ungkapan;
“Karena kenangan dan kesunyian
Telah bersekutu untuk membunuhmu”.
Pada akhir bait ini, yang menjadi klimaks dari tema yang diangkat, si penyair tidak memisualkan (menunjukkan gambaran) pembunuhan tersebut. Mungkin pembaca dianggap mampu (karena umum terjadi) melanjutkan citra pembunuhan itu. Sedang imaji auditif tampak tidak digarap secara detil agar tergambar sunyi dan hampa yang benar-benar beku!
Kata Konkret
Kata konkret digunakan untuk memperkuat daya bayang (membangkitkan imaji). Dengan kata yang diperkonkret pembaca lebih dapat untuk melihat, mendengarkan atau merasakan apa yang dilukiskan oleh penyair. Sehingga pembaca semakin terlibat penuh secara lahir dan batin..
Dalam sajak wiratmadinata ini, untuk menggambarkan suasana sunyi yang mencekam, kental dan padu, maka penyair menggunakan kata-kata; Gemericik, desir dan angin mati/Membeku di titik nadir bumi. Untuk memperkuat usaha perburuan/pergulatan ‘si engkau’ akan kenangan, bayangan dan harapan, penyair mempertegas imaji tersebut dengan /Yang kau tangkap atau kau tinggalkan/Berlabuh dalam secangkir kopi pagi/
Guna meneguhkan sugesti sunyi bagi ‘si engkau’, yang berlabuh dengan segenap beban sejarah dan harapannya, penyair kembali mengajaknya pergi semakin jauh, ke ladang kopi (agar sekalian saja berlabuh di ladang; jangan cuma di dalam cangkir), sampai akhir bait ketiga.
Pada bait keempat, tapi tidak, ternyata tidak juga; Kalimat tersebut mempertegas kenyataan bahwa ‘si engkau’ tak akan bisa lari lagi dari pembunuhan yang akan segera terjadi! Maka beberapa anak nakal, yang pernah ngompol bersama/ Dan juga lagu cinta; Dan dipertegas lagi, Tak ada yang kuasa berbagi; dalam hal keramaian, keriangan dan kepolosan, atau semacam harapan baru.
Adapun yang ingin ditunjukkan oleh penyair adalah, bahwa pengalaman, persepsi (‘kenangan’) dan keterasingan diri, disorientasi – sebagai gejala penyakit jiwa di abad serba canggih- (‘kesunyian’), benar-benar dapat ‘membunuh’, memalingkan setiap orang dari kehidupan, realitas dan kemanusiaannya yang fitri, hingga terbitlah kesia-siaan.
Majas
Penggunaan majas pada sajak di atas terkesan begitu intens dan terkonsentrasi dengan baik. Majas digunakan agar menimbulkan arti yang lebih kaya dan beragam. Dengan menggunakan majas yang tepat penyair menunjukkan tingkat kebahasaan dan pergulatan pengalaman (priode kepenyairan) yang dalam/panjang.
Majas erat kaitannya dengan kiasan dan perlambangan. Keduanya berfungsi menguatkan efek sugestif dan artistik . Dalam sajak ini penyair lebih dominan menggunakan lambang suasana dan benda dari pada lambang bunyi dan warna. Hal itu berguna untuk membangun karekter batin suatu puisi/sajak yang sedang diciptakan. Bentuk kiasan dalam sajak di atas meliputi; Metafora, hiperbola, dan ironi; yang berfungsi untuk kritik dan sindiran. /Tak ada yang kuasa berbagi/ Karena kenangan dan kesunyian/ Telah bersekutu untuk membunuhmu.
Selanjutnya dapatlah kita maknai bahwa sajak ini ingin menggambarkan kepada kita tentang sinisme (suatu ironi), kehampaan, kesia-siaan dan sedikit duka. Saat dimana sang penyair (pada kondisi tertentu) tak sanggup lagi mesti berbuat apa-apa.
Sintesis
Sajak ini beraliran imajis yang berpadu dengan abstrak. Penyair sangat berhasil dalam hal-hal berikut; Pengimajian, tingkat kebahasaan dan kreativitas. Elemen estetis, konstruktivitas dan struktur puisi terkonsentrasi dengan baik. Hanya saja pada klimaks sajak ini, penyair tidak mengembangkan detil terbunuhnya si engkau. Melainkan langsung dengan larik; /telah bersekutu untuk membunuhmu.
Pesannya dari puisi ini, hendaklah kita segera bersadar bila sekiranya kita telah terlempar jauh dari kebenaran dan keyakinan yang kita anut; Sebelum kita terbunuh.
Oleh: Taufik Sentana Hidayat, Guru Bahasa Arab. MTs.Harapan Bangsa. Meulaboh.