Sebentar lagi kita akan memasuki bulan maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Pelaksanaannya, bukan hanya menjelang atau waktu tepat 12 Rabiul Awal, melainkan dirayakan sepanjang seratus hari, dari 12 Rabiul Awal hingga 12 Jumadil Akhir. Di saat yang bersamaan, kita juga sedang melaksanakan proses pemilihan kepala daerah di Aceh.
Selain menjadi ritual tahunan yang dirayakan dengan kenduri akbar, peringatan maulid juga diisi serangkaian ceramah, diskusi serta seminar. Untuk itu, kita berharap agar ceramah-ceramah maulid nantinya tidak dimanfaatkan sebagai ajang kampanye Pemilukada.
Memang, peringatan maulid nabi sebenarnya adalah budaya yang telah melekat lama di hati dan keseharian masyarakat Aceh. Peringatan maulid merupakan sebuah perhelatan yang tak hanya milik suatu komunitas belaka, tapi juga upaya masyarakat dengan kearifan lokalnya, berupaya berbagi kepada sesama. Meski begitu, nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan maulid ini tetap saja tak boleh dinodai oleh ambisi politik para elite yang berhajat menjadi kepala daerah.
Karenanya, para penceramah maulid agar benar-benar hanya berceramah soal agama saja. Tidak boleh melenceng ke politik, apalagi sampai mengajak umat untuk mendukung salah satu calon kepala daerah. Bila hal ini tidak dihindari, tentunya akan mencederai hakikat maulid yang sebenarnya.
Sebab, berkampanye dalam ceramah maulid, selain sudah melenceng dari hakikat maulid itu sendiri, juga bisa menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Apalagi kalau sampai menyalahgunakan ayat-ayat suci Al Quran untuk kepentingan politik.
Memang, penggunaan ayat suci Al Quran itu sah-sah saja dalam berbagai kegiatan karena dianggap sebagai siar agama Islam. Hanya saja, yang tidak dibenarkan adalah jangan menggunakan ayat suci tersebut untuk tujuan menjelek-jelekkan orang, memfitnah, atau mengecilkan orang lain.
Kita berharap agar para penceramah maulid menolak menjadi alat propaganda tim sukses atau konsultan kampanye calon tertentu. Sehingga, nilai-nilai yang terkandung dari peringatan maulid benar-benar merupakan spirit untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Terlebih dari itu, hakikat maulid tak hanya bicarakan masa lalu yang gemilang saja, tapi juga mampu merangsang masyarakat Aceh untuk bangkit, mengibaskan segala ketidakmungkinan menjadi harapan yang benar-benar bisa menjadi kenyataan.
Kalau pun mau dikaitkan dengan politik, sebatas menjadikan peringatan maulid ini sebagai momen mewujudkan Pemilukada damai di Aceh. Marilah kita maknai maulid kali ini sebagai jalan menuju perbaikan diri bagi seluruh masyarakat Aceh. Mari sama-sama kita menjadikan momen ini sebagai ajang untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan ajang untuk mendekatkan umat dengan calon tertentu yang menjadi peserta Pemilukada.*






Sekali2 kan boleh, krn ulama jga berpendapat,pilihlah pemimpin yg sesuai dg tatanan umat,tau akan Agama,tau akan rakyat, jgn pilih pemimpin yang Zhalim, krn klau kita memilih pemimpin yg zalim neraka Wailun tmpatnya,orang yg dipilih sama dengan orang memilih….hati2 Syedara Loen…