karya Rizki Alfi Syahril Hamid
Untuk apa hidup kita ini?
Menyusun kepingan-kepingan puzzle,
yang kita pun tak tahu bagaimana bentuk gambar yang benar.
Buta.
Seperti halnya orang-orang yang (harus) memilih jalan hidupnya masing-masing.
Sesat, benar, atau ragu
dan ingin mundur kembali ke belakang.
Tapi tak bisa.
Apakah hidupku cukup berarti?
Setelah berbagai keajaiban Tuhan
membuatku tetap bertahan hingga saat ini.
Dan ketersia-siaan hidupku yang
selama ini terkesan tak terarah.
Untuk apa aku masih ada di dunia ini?
”Kalau kami orang laut, tak tentu arah di mana kami akan meninggal nanti,” kata kakekku.
Benar.
Mungkin hanya Tuhan yang tahu di mana kakekku sekarang.
Setelah tubuh ringkih tuanya dihanyutkan oleh ’temannya’ sendiri.
Laut yang selalu tenang.
Apalah artinya jika sejarah hidup kita hanya sehelai batu nisan?
Entahlah jika tanah di kampungku masih cukup luas untuk menampung mayat-mayat yang walaupun sudah mati, masih egois.
Ingin kuburannya dihuni sendiri.
Tanpa teman.
Bukan kuburan massal!
Tapi jika kelak sejarah hidup kita hanya berupa debu.
Debu hasil kremasi.
Apa maknanya?
17 Juni 2008 ; 22:25
Rizki Alfi Syahril Hamid, pengurus setia sindikat dokarim.