Cerpen Ida Ishaq
Kukira perjalanan ke tempatku mengajar sekarang, ini kalau ya, aspalnya hitam, licin dan rata, bisalah aku berdamai dengan waktu persiapan di rumah ketika mau berangkat. Labi-labi yang melalui trayek LSM-BBA ini pun bisa dengan mudah aku tumpangi. Aku tinggal menunggu lima menit di Simpang BBA, labi-labi pun datang. Tunggu penumpang barang beberapa orang selama sepuluh menit, biar cukup untuk isi bensin barang satu liter saja, begitu kata supirnya. Lalu jalan. Hayalanku setengah jam tadi sudah termasuk waktu menunggu labi-labi dan beberapa orang penumpang. Itu pun seperti yang kubilang tadi, kalau aspalnya hitam, licin dan rata.
Tapi kenyataan yang aku jalani setiap hari jauh dari hayalanku. Mungkin seharusnya aku tidak usah menghayal-hayal biar tidak jengkel. Setiap hari aku harus menghabiskan waktu satu jam untuk pergi dan satu jam untuk pulang. Tidak terhitung sudah berapa kali aku ditegur oleh kepala sekolah perihal keterlambatanku. Dan sudah berkali-kali pula aku memberi jawaban yang sama. “Mobilnya mogok di tengah jalan, Pak,” atau “Ban mobilnya pecah, Pak.”
Bapak Kepala Sekolah merengut, menggigit giginya sendiri karena geram. Aku hanya tersenyum kecut. Aku berkata jujur, tidak bohong. Memang itu yang aku alami hampir setiap hari. Jangan dikira aku tidak kesal dengan pengalaman perjalananku ini.
Arloji di tanganku menunjukkan pukul tujuh. Berarti aku punya waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai ke sekolah, kalau tidak ada aral melintang. Hari ini aku bertekad harus tiba lebih awal dari Bapak Kepsek. Malu rasanya ditegur terus. “Terlambat lagi, Bu Mar?”
“I…iya, Pak.”
“Hari ini alasannya apa?”
“Ban mobil yang saya tumpangi pecah, Pak. Nunggu mobil lain tidak datang-datang, terpaksa nunggu supirnya ganti ban.”
“Besok kalau bisa, susun alasan lain saja. Sepertinya saya sudah bosan mendengar alasan yang itu-itu terus.”
Panas kupingku mendengar omongan Pak Kepsek. Aku ingin teriak bahwa aku tidak bohong. Aku bukan tipe orang yang pandai mencari alasan. Beliau sih, enak, punya kendaraan sendiri. Meski rumahnya lebih jauh dari rumahku, tapi bisa tepat waktu tiba di sekolah.
Sebenarnya jika aku sekarang mau membeli sepeda motor sangatlah mudah. Banyak dealer yang memberikan sistem kredit lunak untuk sebuah sepeda motor yang kita inginkan. Dasar aku saja yang kolot. Jangankan untuk mengendarai sendiri, diboncengi saja aku cemas. Duduk kaku tak berkutik. Aku rasa aku mengidap penyakit motor-phobia.
Sebulan yang lalu, aku baru saja terjengkang dari sepeda motor ketika diboncengi seorang teman. Itu di aspal yang rata dan mulus. Tak terbayangkan kalau di jalan yang berbisul dan berkawah. Maka di era serba instan ini pun aku masih setia berpegang pada pepatah: biar lambat asal selamat.
*****
Kulirik kembali Casio mungilku, jarum pendek parkir di angka tujuh sementara jarum panjang sudah melewati angka dua belas dan berdiri sabar di angka satu. Labi-labi datang, berhenti di hadapanku. Sang supir turun, seperti biasa. “Sebentar ya, Bu. Kita tunggu beberapa orang lagi.”
Dia tersenyum sopan, menghargaiku sebagai seorang guru. Aku pun balas tersenyum. Tetapi hari ini aku harus bernegosiasi, demi reputasiku di depan Pak Kepsek. “Tapi Bang, jangan lama-lama ya. Kalau tidak ada, kita jalan saja. Nanti di jalan pasti dapat juga kan? Soalnya hari ini saya tidak mau terlambat.”
Dia kembali menyungging senyum. “Sabar ya, Bu. Kita tunggu satu orang lagi.”
Barusan dia bilang tunggu beberapa orang, kemudian tunggu satu orang lagi. Semoga orang yang mau menumpang di mobil ini segera muncul. Sementara jarum panjang di arlojiku sudah mampir di angka tiga. Jam tujuh lewat lima belas menit. Dan aku lega, sudah terkumpul lima orang. Ibu guru semua. Aku mengenal mereka seperti layaknya teman lama. Momen menunggu labi-labi dan menderita keterlambatan di jalan sering aku alami bersama mereka. Setelah saling bertegur sapa, basa-basi, Abang supir pun tancap gas. Di dalam mobil pun kami bercengkrama, saling tukar kabar sekedar melepaskan rasa bosan di perjalanan.
Jika berbicara masalah bosan di perjalanan, aku langsung teringat bacaan yang selalu kuselipkan di dalam tasku. Komik, novel, atau apa saja. Mengenai kesenanganku membaca, bisa kukatakan sebagai kebutuhan hidup bagiku. Aku tidak akan puas bila satu hari saja terlewati tanpa membaca. Namun, perlu kutegaskan juga bahwa aku tidak tahan membaca di dalam labi-labi. Perutku langsung mual, kepala pening. Andai kupaksakan pun aku akan pingsan. Bisa menahan tubuh agar tidak jatuh saja sudah sangat bagus.
Empat jempol patut diacungkan untuk Abang supir. Kepiawaiannya menyetir di jalan ‘penuh onak duri’ seperti ini sungguh hebat. Aspalnya, sih ada, tetapi hanya sisa-sisa. Yang terlihat jelas adalah batu-batu yang terjendul-jendul di sepanjang jalan, besar-besar dan runcing-runcing. Tidak disangkal lagi, inilah penyebab pecahnya ban mobil sepanjang waktu. Tidak sembarangan supir bisa menyetir di jalan ini. sedangkan untuk lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalan ini, lebih tepat dinamakan kawah, karena memang persis kawah di puncak gunung yang telah meletus. Dan lubang-lubang inilah penyebab sering mogoknya mobil. Kalau sudah terperosok ke dalam kawah-kawah ini, para penumpang mesti ikhlas menunggu mobil lain. Dan mobil yang nyungsep juga mesti ikhlas melepaskan penumpangnya tanpa mengambil ongkos.
Tak ayal, kalau Abang supir sedang menyetir menghindari bisul dan kawah di jalan, kami para penumpang harus sigap menjaga keseimbangan tubuh. Berayun-ayun ke kiri, ke kanan, ke depan, terangkat-angkat persis pasir yang di ayak untuk bahan bangunan. Inilah dia yang kusebut gelombang darat.
Aku sudah terbiasa dengan gelombang darat ini, tapi aku belum mampu membiasakan diri membaca di atas ayunan gelombang ini. Pernah terlintas di benakku, apakah orang Jepang akan mampu mempertahankan kebiasaan membaca di dalam kendaraan jika mereka menumpang di dalam mobil yang bergoyang pinggul seperti ini? Rasanya aku tidak yakin mereka akan menjawab mampu.
“Daaaarrrr…!!!
Aku kaget. Ibu guru yang lain menjerit. Mobil mendadak berhenti di tengah jalan. Apa yang terjadi? Mogok atau …. Oh, ternyata ban depan sebelah kanan pecah, tidak tehindar dari bisul runcing. Aku lemas. Semua penumpang turun. Abang supir memohon maaf kepada kami. Aku semakin cemas. Harapanku untuk datang tepat waktu ke sekolah tidak akan tercapai hari ini. Tidak berani kupastikan jam berapa sekarang. Aku berharap-harap cemas agar labi-labi lain segera datang. Semoga.
Tak lama doaku terkabul. Terima kasih ya Allah. Tetapi senyumku segera berhenti setelah labi-labi yang diharapkan itu berhenti di depan kami. Kami semua melongo. Mau duduk dimana? Mobil sudah padat dengan kardus-kardus mie instant, snack aneka ragam, telur ayam yang diikat rapi di atas karung-karung beras. Hffhh… tidak ada alternatif lain selain pasrah.
Namun, ternyata Abang supir punya ide. Dia pun segera menaikkan sebagian barang ke atas atap mobil. Aku dan teman-temanku kembali diuji untuk bersabar. Aku masih belum berani memastikan sudah jam berapa saat ini. Nafasku mungkin akan berhenti jika aku melirik arlojiku sekarang. Sejujurnya, aku tidak suka Pak Kepsek mencapku sebagai guru KuDis alias Kurang Disiplin! Tidak profesional dan tidak punya idealisme. Tapi apa daya? Aku tetap saja KuDis dan tidak profesional jika hampir setiap hari tertimpa cobaan kesabaran seperti ini. Namun aku bisa tegaskan tentang idealisme. Dengan memilih sebuah sekolah di pelosok untuk tempat pengabdian telah cukup membuktikan aku seorang guru yang idealis, bukan?
Sekarang coba kita ingat, berapa puluh tahun sudah penjajah pulang kampung? Seharusnya kita sudah lebih dari mampu untuk sekedar membangun jalan yang kokoh, tidak mudah hancur meski disiram hujan setiap hari. Agar guru-guru idealis (dan kolot) seperti aku tidak lagi harus dimarahi Pak Kepsek setiap hari. Tapi nyatanya apa? Sudahlah, mengingat hal itu malah membuatku semakin frustasi.
Barang-barang selesai dimuat. Penumpang dipersilahkan naik. Aku duduk dengan kaki tertumpu di atas karung beras dan tangan mencengkeram sandaran tempat duduk. Mobil pun melaju, meliuk-liuk, menari-nari, membentuk zig-zag dengan gesit, menyelamatkan diri dari ancaman lubang dan tancapan-tancapan batu jahat. Aku pun turut berayun-ayun dengan damai di dalam mobil, mencoba menikmati tantangan gelombang darat ini.
Padahal, pemandangan yang terbentang di kiri dan kanan jalan sungguh menakjubkan. Hamparan sawah yang ditingkahi oleh tirai-tirai tipis kabut pagi, membias warna kuning, putih, merah dari matahari. Alam selalu menawarkan kebahagiaan. Aku tentu akan menyambut tawaran itu seandainya saja aku tidak harus menjaga keseimbangan tubuh agar selamat dari hantaman gelombang darat ini.
Alhamdulillah, akhirnya aku sampai. Harus tetap bersyukur meski pun terlambat. Pintu pagar sekolah sudah tertutup. pintu-pintu kelas juga tertutup, ada suara-suara terdengar dari dalamnya. Aku segera ke kantor untuk melapor dan mengabsen. Sekilas kulirik arlojiku. Tuhan…setengah sembilan!! Lebih terlambat dari kemarin! Di pintu kantor, aku disambut wajah geram Pak Kepsek.
“Tolong, sampaikan alasan yang berbeda dari kemarin.” Tidak ada senyum di wajah itu.
FLP Lhokseumawe
Keterangan:
Labi-labi = sebutan untuk sejenis angkot di Aceh.
Ha…ha…ayo dong bu Guru harus pinter ngasih alasan yang berbeda, kreatif gitu lho…
but…cerpennya ok, welcome new writer!