Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Tajuk Harian Aceh » Gajah VS Manusia

RUSLI, remaja berusia 14 tahun berboncengan dengan ayahnya Nasir, 42 tahun, sekitar magrib kemarin menuju pulangkerumahnya dari kedai mereka di jalan negara Medan-Pekanbaru, Riau. Ayah anak ini adalah warga Desa Petani, KecamatanMandau Kabupaten Bengkalis, Riau, sekitar sekitar 150 km arah utara Pekanbaru.

Nah, sekitar 300 meter menjelang rumah mereka yang juga terletak di pinggir jalan lintas timur sumatera itu, merekaberpapasan dengan kawanan gajah liar. Rusli yang membonceng tak sadar melindas kaki seekor gajah besar setinggitigaSepeda motor terbanting ke parit jalan, Rusli terjerembab, ayahnya terbanting lebih jauh. meter. Braakk…!

Sang gajah—mungkin karena terkejut dan kesakitan—spontan menyerang Rusli dengan menginjakkan kakinya kekepalaremaja itu. Kresss! kepala anak petani itu remuk, dan sebagian terbenam ke dalam tanah. Untung, Nasir yang jatuhlebih jauhberhasil lari lintang pulang dalam gelap malam, dan melapor ke warga lain sebelum diselamatkan ke PuskesmasBengkaliskarena menderita luka terjatuh, akibat dikejar gajah liar.

Kepala BKSDA Riau, Rahmad Sidik mengungkapkan kejadian itu bukan pertama kalinya di Riau. Konflik gajah dengan manusia sudah berlangsung lama di wilayah itu. Seperti juga di Aceh. Di Aceh Timur, selama sepekan kawanan gajah liar “mengamuk” menghancurkan lima rumah warga di Desa Alur Duren, Kecamatan Serbajadi, Lokop. Tentu ada kebiasaan lain sang gajahdanwarga. “Mereka menjadi hama yang menakutkan kami,” ujar warga. yakni menghancurkan kebun lahan pertanian

Mungkin wajar bila warga biasa yang menyebut gajah sebagai hama. Orang berpendidikan dan berwawasan sering menjadikan gajah sebagai subjek perusak, hama bagi manusia. Benarkah? Mengapa gajah masuk gampong? Merusak tanaman danRuslidi contoh, ketika menginjak jari gajah dengan sepeda motornya. Manusia telah menginjak-nginjak dan menghancurkan habitat gajah. Lalu ke mana mereka mesti mencari makan atau menyelamatkan diri dan komunitas mereka? membunuh? Mungkin ja

Tidakkah kita yang terlalu egois merasa lebih berhak hidup di muka bumi ini. Gajah hanya hewan? Hewan besar yang bodoh bahkan? Ah, betapa egoisnya kita. Bahkan mungkin bukan hanya kepada makhluk seperti gajah, harimau, tapi juga kepada sesama makhluk seperti diri kita sendiri. Bukankah sering terlihat manusia (yang berkuasa) menginjak-injak manusia lain (yang tidak berkuasa) demi atau atas nama kepentingan kelompok, komunitas atau keluarganya sendiri? Jadi, jangan heran gajah mengamuk. Kita harus heran dan bertanya, kapan manusia yang terus di injak injak manusia lain mengamuk seperti gajah. Karena saling menginjak masih terus terjadi, tidak tergantung—pada—siapa yang berkuasa.

“Kalau kita lihat dari peta, kawasan di desa itu sebenarnya selama ini menjadi wilayah jelajah gajah. Tapi selama ini posisi gajah tetap saja dipersalahkan, malah dianggap sebagai hama. Padahal gajah itu tidaklah akan masuk perkampungan kalau habitatnya tidak diganggu,” kata Rahmad, orang BKSDA Riau itu.

Orang seperti Rahmad, penting saat gajah mengamuk. Tapi setelah itu ia diabaikan, karena tentu tidak menarik sebuah lembaga seperti BKSDA. Pemerintah sendiri cenderung masih mengabaikan lembaga lembaga negera yang menjaga lingkungan. Minimal lembaga lembaga seperti itu—entah sengaja atau tidak—sangat lemah terhadap tekanan lain. Untung ada tekanan LSM lingkungan yang didukung dana luar negeri, yang sering mendesak para perusak lingkungan ber-backing kuat. Itupun sering harus mundur, karena kekuatan besar pemusnah alam, penebang liar hutan—yang seribu kali lebih kuat darigajah. Dahulu kekuatan mereka malah lebih kuat. Di mana pemerintah? Hanya menangani masalah seketika melalui BKSDA? Tapi konflik gajah dan manusia terus dipelihara dan akan terus membesar demi kepentingan uang semata? Memang, lambat laun gajah akan kalah. Dan manusia menang? Tidak akan! Karena alam butuh keseimbangan. Akan ada sesuatu yang harus kita bayar sebagai manusia, bila alam terus menerus hilang keseimbangannya. Dan kadang bayaran itu sangat mahal. Kita tidak menyadarainya saat ini. Tapi ketika kita nanti tersadar, tidak ada gunanya lagi penyesalan. Dan saat itulah kelihatan jati diri manusia, yang sebenarnya tidak berbeda dengan makhluk lain penghuni bumi ini. Bahkan manusia lebih kejam, danlebihdari gajah, atau hewan hewan lainnya yang pernah menghuni bumi.[] serakah,

Baca Juga >>

Tags:

Leave a Reply

© 2007 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress