Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » Gadis yang Bermata Bening

Karya Bussairi Ende

Pagi yang cerah, hati yang berbunga-bunga. Tertunai sudah niat yang selama ini tertanam dalam hati. Niat yang sesungguhnya sudah bertunas sejak bertahun-tabun lalu. Ibarat gayung bersambut, tanpa harus aku tawarkan, anak sulungku, menyatakan sendiri keinginannya untuk menuntut ilmu agama di pesantren. Tak tanggung-tanggung, ia minta sendiri untuk diantar ke sebuah pesantren terkenal, tepatnya Mudi Mesra Samalanga.

Begitulah, tanpa menunggu ijazah sekolah dasarnya keluar, aku langsung mengurus segala keperluan untuk syarat masuk pesantren terkenal itu. Dengan bekal surat keterangan lulus dan surat keterangan berkelakuan baik dari kepala sekolah, berangkatlah kami diiringi sedu sedan ibu dan neneknya. Tapi aku sendiri heran, walau ibu dan neneknya memeluknya dengan isak tangis dan tetesan air mata, tidak sedikit pun bias sendu kulihat di wajahnya ketika meninggalkan halaman rumah di mana ia dilahirkan dan dibesarkan selama ini. Begitu juga ketika sore menjelang senja kami tiba di kompleks pesantren yang megah itu, tak kulihat gurat sedih diwajahnya. Malah, sebaliknya, ia begitu gembira ketika bertemu dengan ternan-ternan sepermainannya yang sudah duluan nyantri di sana. Hingga tiba waktunya aku pulang, ia tetap tegar. Tak ada rona sedih di wajahnya. Sebaliknya, aku jadi malu sendiri dalam hati; bagaimanapun aku merasa sedih berpisah dengan anak sulungku yang baru genap dua belas tanun. Tibalah aku pada pagi yang cerah dan berbunga-bunga. Alhamdulillah, aku telah sampai kembali di rumah, di mana istri dan keempat anakku yang lain kutinggalkan sementara waktu.

***

Lamuanku buyar. Di depanku telah berdiri seorang gadis cilik sepuluh tahun. Pakaiannya baju kurung terusan dengan rok hingga mata kaki. Warna baju dan rok yang coklat muda sangat sepadan dengan jilbabnya yang berwarna merah bata.

“Waalaikumsalam ….”

Ia sungkem mencium pnggung tangan dan telapak tanganku. Sejenak kugenggam erat tangannya, tangan anakku yang mulai menanjak remaja. Kulihat jemari tangannya; halus, lentik, dan runcing. “Ayah baru nyampek? Capek ya?”

Ditatapnya aku lekat-lekat. Aku tersenyum. Aku juga menatapnya lekat-Iekat. Tiba-tiba aku seperti melihat sesuatu di wajah dan di sinar matanya. Ya Allah, ingatanku seperti meluncur secepat cahaya kilat ke masa lalu. Tepatnya enam belas tahun yang lalu; tahun 1992. Waktu itu aku baru saja beberapa bulan menyelesaikan studiku dan meraih sarjana keguruan dari sebuah universitas di Banda Aceh. Sebagai seorang anak kampung tulen, tentu saja orangtuaku sangat bahagia anaknya menjadi sarjana. ltulah sebabnya ayahku memesanku supaya segera pulang usai wisuda awal Februari 1992. Dalam surat singkatnya, ayah mengatakan bahwa aku harus segera dipeusijuek agar ilmu yang kuperoleh mendapat berkah dari Allah subhanahuwata’ala.

Ayah sendiri yang memilih tempat aku akan dipeusijuek, yaitu di rumah abang sulungku, di komplek pesantren yang ia pimpin. Abang sulungku memang seorang Teungku alumni Mudi Mesra Samalanga dan telah berhasil membina sebuah pesantren dengan ratusan santri dan santriwatinya. Malah sudah banyak santri hasil binaannya yang sudah menjadi orang berguna pula. Ada yang telah mendirikan pesantren, ada yang menjadi birokrat, imum syik, bahkan ada yang menjadi dosen. Kami beradik-kakak ada lima, yang tua ya abangku itu; seorang teungku sekaligus ulama yang disegani. Yang kedua juga laki­-laki, seorang petani. Selanjutnya yang ketiga perempuan, tinggal di Banda Aceh ikut suami, di mana aku tinggal hingga menyelesaikan kuliahku. Yang keempat juga laki-laki, pekerjaannya jual-beli sarang burung walet. Semuaaya sudah berkeluarga. Dan yang bungsu adalah aku. Aku sendiri sebetulnya tak pemah bermimpi menjadi sarjana. Masa kecil, saat aku menyelesaikan esdeku, sesungguhnya aku juga ingin nyantri, menjadi teungku. Tapi kemudian jalan hidupku menjadi lain, saat suatu ketika kakakku dan suaminya pulang ke kampung. Aku yang waktu itu baru menyelesaikan esempe dan mondok di sebuah pesantren, diboyongnya ke Banda Aceh. Sejak itulah duniaku menjadi lain; betul-betul menempuh jalan dunia semata. Apalagi ketika aku berstatus mahasiswa. Hari-hariku, di samping sibuk dengan kegiatan kuliah, juga gandrung jadi aktivis kampus. Meskipun rasa kangenku kepada dunia pesantren terkadang sering meresap ke dalam lubuk hatifu. Makanya ketika ayah memesanku pulang, aku sangat senang.

Di benakku terbayang suasana yang sangat menyenangkan; lingkungan pesantren. Lingkungan yang tak pemah sepi dari zikir, takbir, dan tahmid. Tak siang, tak malam, dan tak kenal ruang dan waktu. Suasana yang senantiasa dihiasi ridha Ilahi Rabbi. Malamnya, aku benar-benar merasa bahagia ketika disuruh duduk di atas sebuah kasur yang telah diberi sarung warna kuning keemasan. Aku sendiri memakai kemeja panjang putih bergaris-garis hitam dengan peci hitam yang bermotifkan garis melengkung keperakan. Di atas kedua pahaku yang duduk bersimpuh dihamparkan kain panjang yang masih baru, tempat menampung breih padee yang akan ditaburkan dari atas kepala hingga ke seluruh tubuh. Di kiri-kananku duduk tamu-tamu yang khusus diundang untuk acara malam itu.

Menjelang acara yang dianggap sakral itu, seorang santri putri masuk membawakan sebuah talam yang berisi bahan-bahan untuk acara peusijuek. Talam yang berisi breuh-pade yang diberi warna kuning dicampur dengan beurueteh, gelas yang berisi air bedak dan dipenuhi oleh naleung sambo dan daun palang rusa, serta satu piring besar bue leukat yang sudah dihiasi demikian rupa, di letakkan persis di hadapanku. Mula-mula aku melihat talam dan isinya yang diletakkan di hadapanku itu. Tapi, tanpa sengaja mataku ikut melihat dua pasang jemari tangan yang menggemgam talam itu. Masya Allah, sejenak aku terkesima pada jemari yang menggenggam talam di depanku. Jari-jari itu begitu halus; lentik, dan runcing. Serta-merta dengan gerak reflek mataku mengarah pada wajah yang punya jari-jemari itu. Hanya sekilas aku menyaksikan wajah dengan dua butir mata yang bening. Hatiku bergemuruh. Ketika santri itu berdiri dan berlalu dari hadapanku, tiba-tiba aku seperti merasakan kesejukan yang begitu syahdu.

Acara peusunteng yang semula sangat kutunggu-tunggu berjalan dan berakhir seperti tanpa kusadari. Pikiranku seperti terpasung pada wajah gadis yang memiliki dua butir mata yang bening itu. Berhari-hari, herminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku tidak tapat menghapusnya dari ingatanku. Anehnya, aku tak pemah tahu siapa nama santri yang bertangan halus dan bermata bening itu. Tiga tahun kemudian barn aku hetul-hetul dapat melupakannya. Itu pun ketika aku telah mempersunting salah seorang santri, murid abangku. Tentu atas restu abangku. Ayah-ibuku hanya ikut mengiyakan saja.

***

“Kenapa, Yah? Ayah bersedih karena abang sudahjauh? Ibujuga semalam menangis memikirkan abang. Tapi Wanyak bilang kita tidak boleh sedih memikirkan orang yang menuntut ilmu agama. Karena orang yang menuntut ilmu agama itu dipelihara oleh Allah. Betulkan, Yah?” Kata-kata yang mengalir dari bibir mungil anakku membuat aku sadar dari lamunanku.

“Em •• ya.. ya betul. Ayah bukan bersedih memikirkan abang, tapi ayah sedikit lelah dan capek,” jawabku terbata

“Ibu di mana?”

“Ibu di dapur. Oya, Ayah pasti belum sarapan pagi. Sebentar, Rahma siapkan sarapan pagi untuk Ayah,” kata anakku yang kuberi nama Siti Rahmatillah Maulida, anak perempuan rahmat Allah yang lahir di bulan Maulid. Dia pun berlalu. “Panggilkan ibu kemari ya, Nak.”

Anakku tidak menyalut. Tapi sebentar kemudian kudengar dia memanggil-manggil ibunya mengatakan aku sudah pulang. Sejenak aku merenung. Seperti mimpi, kini aku sudah paruh baya. Usiaku sudah empat puluh tiga. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kuperhatikan kalender yang tergantung di dinding. Kulihat dua tanggal yang melingkar di bulan Juli; tanggal satu dan sepuluh. Astarhafirullahal‘azim. Aku baru ingat, tanggal satu adalah ulang tahun istriku, sedangkan, tanggal sepuluh adalah ulang tahunku. Dan bukankah hari ini tanggal sepuluh? Padahal aku sendiri yang membuat tanda lingkaran pada kedua tanggal itu.

Memang, aku dan istriku sarna-sama lahir di bulan Juli. Tapi usia kami jauh bertaut. Aku lebih tua delapan tahun dari istriku. Ketika kami menikah -juga di bulan Juli- umurku genap tiga puluh tahun, sedangkan istriku barn dua puluh dua tahoo. Waktu itu–menurut pengakuannya–dia baru saja memulai pengajian kitab Mahli jilid 3. Kitab yang sangat didambakannya untuk khatam, katanya padaku suatu waktu. Tapi, ketika aku tanya apakah dia menyesal tidak sempat mengkhatam kitab Mahli karena keburu menikah denganku, dia menggeleng. Menikah adalah wajib apabila sudah sampai waktunya, jawabnya.

“Abang sudah pulang? Bagaimana anak kita waktu Abang tinggalkan, apakah dia bersedih?” tiba-tiba istriku muncul di hadapanku. Ia menyalami dan mencium tanganku. Ah, sejak kami menikah sarnpai hari ini istriku tidak pemah berubah. Kalau menyalamiku, dia tidak sungkan-sungkan mencium tanganku. Lebih-Iebih di hari lebaran, sudah kebiasaannya, pagi-pagi sebelum shalat, anak­anak diajaknya sungkem sarnbil mencium kedua lututku. Suatu kebahagiaan yang sulit kulukiskan dengan kata-kata. Tanganku terasa dingan, beberapa tetes air matanya melekat di telapak tanganku.

“Sudahlah, serahkan saja kepada Allah. Dia yang akan menjaga anak kita dunia dan akhirat.” Kutatap istriku lekat-Iekat. Wajah perempuan salaf yang telah memberiku lima keturunan -Insya Allah- itu sudah jauh beda dengan wajahnya ketika aku menyuntingnya dulu. DuIu tubuhnya langsing persis anakku yang beranjak remaja itu. Wajahnya bersih. Kini di sana sini sudah muIai kelihatan bercak-bercak hitam, apalagi istriku paling alergi menata wajahnya dengan berbagai bahan kecantikan. Hanya satu yang belum ketemukan pembahan; yakni pada sinar matanya yang…

“Abang juga bersedih!” sergah istriku. “Laki-laki memang pandai menyembunyikan kesedihan.”

“Tidak. Abang tidak bersedih,” lamunanku membuyar. “Abang cuma…”

“Cuma apa, ayo terus terang aja,” desaknya. Wajahnya kulihat sedikit tersenyum.

“Jika Abang katakan, apa kamu tidak emburu?” Aku sulit mencari kata-kata yang tepat untuk memulainya.

“Memangnya Abang mau kawin lagi, maka aku harus cemburu?”

“Bukan, bukan masaIah kawin,” aku sedikit cemberut. “Tapi ini serius.” Lalu aku ceritakan pengalaman yang aku alami enam belas tahun lalu itu tanpa menambahi dan menguranginya. Istriku mendengarnya dengan serius. Kadang-kadang ia menunduk. Aku sudah siap dengan segala konsekwensinya. Bukankah berterus terang itu lebih baik daripada menyimpan sesuatu lalu menimbuIkan kecurigaan?

“Mengapa baru sekarang Abang tanyakan?” Istriku balik bertanya ketika kutanyakan apakah dia mengenal gadis santri yang pernah mengangkat talam ketika aku dipeusijuek ‘tempo dulu’ itu.

“MasaIahnya ….”

“MasaIahnya apa Bang?”

Ia menatapku lamat-lamat. Wajahnya menyunggingkan senyum serius. Tidak sedikit pun ada rona cemburu. Aku jadi linglung. Tapi dengan wibawa seorang suami dan ayah lima orang anak yang jujur aku cepat-cepat berterus terang. “MasaIahnya tadi, ketika anak kita si Rahma menyalamiku, aku melihat jemari tangan dan sinar matanya persis dengan jemari dan sinar mata gadis santri yang membawa talam itu.”

Di luar dugaan; istriku tertawa renyah sekali. Jarang sekali ketemukan ia tertawa seperti itu, kecuali kalau ia benar-benar merasa senang. Aku malah yang tercengang. Aku jadi was-was, jangan­jangan aku… Tapi belum sempat aku berpikir macam-macam, istriku cepat-cepat berucap.

“Ya, tentu saja mirip. Lha yang membawa talam itu ibunya, kok!”

Aku terperangah. Istriku cepat-cepat bangun, beranjak ke dapur membiarkan aku semakin linglung sendirian. Lamat-lamat kudengar ia bertanya kepada anakku, apakah sarapan pagi untukku sudah siap.

***

Bakongan – Kotafajar, JuIi 2008

(Kado ulang tabun bagi istriku: Sri Helma Rizqi)

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2008 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress