Film Komedi Aceh Memberi Citra Buruk

By admin at 13 September, 2009, 5:43 am

Entah virus apa yang melanda perfilman Aceh, tapi sepertinya pengenalan pranata sosial Aceh jadi terpuruk sejak banyak film komedi Aceh beredar. Film yang awalnya diproduksi untuk menghibur kini menjadi momok yang menakutkan, penuh kejutan kesadisan, kekurangajaran generasi dan keterpurukan etika. Benarkah etika masyarakat Aceh seperti yang dipertontonkan dalam film-film itu.

Kini film komedi Aceh yang banyak beredar  seperti Asokaya Mameh Ban Saka, Jie E, Boh Gluk 008, Leumak Mabok, dan beberapa film komedi Aceh lainnya hampir semua berkiblat pada satu soal. Tak usah susah mencari di mana persamaannya, cukup menonton film Bang Joni atau Eumpang Breuh saja, kita bisa melihat bagaimana kemudian film komedi Aceh lainnya yang ikut-ikutan. Terbuai kesuksesan film Eumpang Breueh yang memang sudah berterima di hati rakyat Aceh. Produser lain pun ikut meluncurkan film dengan kisah dan ide cerita yang sama.

Yang sangat kontras adalah bagaimana adegan kejar-kejaran tanpa arti dipraktekkan. Karena kejar-kejaran dalam film Bang Joni menjadi sesuatu babak yang seru, film lain pun berusaha sebanyak mungkin membuat adegan tersebut di dalamnya. Tapi sayangnya, alasan kejar-kejaran tersebut kurang beralasan dan malah membuat etika rakyat Aceh hancur. Seperti bagaimana seorang anak muda menyikapi pertanyaan seorang anak kecil. Padahal itu hanya masalah sepele yang hanya bisa ditanggapi dengan geleng-geleng kepala, namun ditanggapi sebaliknya dengan mengejar anak kecil tersebut dan membuat dirinya seperti orang bodoh.

Begitu pula anak kecil yang seharusnya berlaku sopan terhadap orang yang lebih tua bertindak kurang ajar. Mau tak mau, sebuah film selalu menjadi simbol budaya masyarakat setempat yang akan dipegang para penontonnya.

Dari komposisi musik, film Aceh pun banyak ikut-ikutan. Dari mengikuti musik dangdut Indonesia, Malaysia, India, Jawa, sunda, karo sampai film kartun. Sehingga adegan kejar-kejaran yang mengambil musik Tom and Jerry seperti sebuah film guyonan yang dibuat tanpa pertimbangan estetika dan etika bangsa.

Intinya memberi arti bagaimana orang Aceh bertingkah laku seperti tikus dan kucing dalam kesehariannya, tak peduli siapa dia, baik orang terpandang, seperti teungku, anak muda yang terpelajar, sampai anak-anak. Betapa film Aceh telah menggambarkan bagaimana orang Aceh selalu mempermasalahkan sesuatu hal yang sepele, emosi mereka cepat sekali terpancing. Masalahnya setiap kali emosi itu meledak terlalu banyak yang dirugikan, mulai dari lawan, diri sendiri, sampai harta benda.

Tingkah laku anak-anak yang kerap menyelepekan dan menjawab asal terhadap orang tua dan sikap anak muda yang kurang bisa diajak bicara baik-baik atau suka mengolok-ngolok telah mencerminkan etika buruk rakyat Aceh. Masalahnya bukan satu dua film Aceh yang begitu rupa, tapi sangat banyak sehingga menjadi simbol yang yang bulat dan lumrah. Padahal sebenarnya, rakyat Aceh tidaklah demikian, bila pun ada itu hanya sedikit sekali dan sangat susah ditemui. Apalagi sikap santun orang Aceh yang telah terpupuk sejak kecil karena kefanatikannya terhadap agama Islam, sulit seklai bagi mereka mengolok-ngolok orang tua apalagi teungku.

Selain itu, film Aceh pun telah memberi warna baru dalam berpakaian. Wanita Aceh yang dituntut berpakaian menutupi aurat dan itu telah dipraktikkan dalam kehidupan nyata, dibuat menjadi kurang senonoh dalam film Aceh. Coba lihat bagaiamana gaya berjilbab Yusniar dalam Eumpang Breuh kemudian diikuti oleh pemeran wanita lainnya dalam film berbeda seperti Salma dalam film Asoe Kaya Mameh Ban Saka. Mereka hanya menutup rambut dengan mengikat jelbab di belakang leher sedang bagian leher yang harusnya tertutupi dibiarkan terumbar. Sangat tidak mencerminkan wanita Aceh.

Seharusnya film Aceh memberi contoh yang baik-baik untuk masyarakat, bila pun tidak dapat memberi contoh lebih, tapi tidak mengajarkan berpakaian yang buruk, yang bahkan diluar kebiasaan orang Aceh. Bila orang non-Aceh kebetulan menonton film tersebut tidak dapat dipungkuri pasti mereka akan mengira begitulah cara berpakaian orang-orang di nanggroe Aceh yang memiliki julukan Serambi Mekkah itu.

Persamaan film komedi Aceh juga dapat kita lihat dari kisah cerita percintaan, di mana wanita satu diperubutkan oleh banyak lelaki, dan hampir semua wanita itu merupakan anak teungku atau orang terpandang, dan lelaki yang memperebutkannya harus selalu berkelahi seperti Tom and Jeri memperebutkan tempat tidur. Inilah yang menjadi tanda tanya besar. Apakah film Aceh yang sedang berkembang itu membuat seniman-seniman kurang kreatif dalam membuat ide cerita. Ataukah mereka mengira konsusmsi orang Aceh terhadap film melulu demikian. Atau pun ingin mendulang kesuksesan film Eumpang Breuh yang selalu dapat mengocok perut.

Di satu sisi Aceh telah berhasil memproduksi banyak film dalam beberapa tahun terakhir ini, ini menunjukkan semangat di bidang entertain semakin maju. Namun sebuah film yang tak bermutu dan mempertontonkan keterpurukan etika hanya akan merusak pikiran rakyat Aceh tentang diri mereka sendiri. Satu hal yang harus diketahui, norma juga dapat dipelajari dari sebuah tontonan apalagi bila yang menontonnya anak-anak yang masih belajar meniru. Cepat atau lambat etika generasi muda Aceh tak jauh-jauh dengan etika anak-anak yang ada dalam film komedi Aceh tersebut.

Oleh Desi Rinasari RA

Baca Juga >>

Banner

Categories : Artikel - 1,106 views

Comments
FAHMI DJAMAL 14 September 2009

Tulisan ini berisi penilaian dan pendapat pribadi dari penulis, yang saya kira tidak mewakili pendapat mayoritas orang Aceh (terutama para penonton setia film-film Aceh).

Memang semua orang bebas untuk berinterpretasi dan membuat opini. Karena itu saya menghargai isi tulisan di atas, namun tidak lebih hanya sebagai sebuah komentar pribadi, yang sudah pasti bisa jauh berbeda dengan komentar orang Aceh, atau non Aceh lainnya.

Saya yakin, penulis tidak melakukan survei atau riset apapun sebelum menulis artikel ini. Padahal menurut saya, bila penulis ingin menjawab pertanyaannya sendiri yang dijadikan sebagai kalimat pembuka artikel ini, penulis akan dapat mengetahui dengan mudah, virus apa yang sedang melanda dunia perfilman Aceh saat ini.

Saya mengusulkan, agar penulis dapat membuat artikel yang lebih mendalam tentang kondisi perfilman Aceh saat ini, baik menyangkut genre film, selera pasar, dampak positif dan negatif terhadap –meminjam istilah penulis— pranata sosial Aceh, serta tinjauan dari segi ekonominya.

Untuk itu sebaiknya penulis melakukan survei terlebih dahulu, yang bisa dilakukan dengan mewawancarai masyarakat, para pedagang film di kaki lima, para distributor, termasuk para produser yang membuat film-film tersebut.

karim 15 September 2009

Harus diakui apa yang di tampilkan pada film komedi aceh hanya mengangkat hal2 kecil di dari kenyataan menjadi besar, saya setuju dengan penulis, sepertinya kita orang aceh ingin membuat sesuatu ciri khas pada layar kaca, tapi sayang yang di tampilkan kebrobokan seperti menjual mimpi pada sinetron indo,
kepada saudara fahmi droneuh peu awak aceh, peu na awak aceh meunan lage di film, nyo hana peu da peuget 10.000 film lom yang model meunan, jeut genersai tanyo meuen parang, teumeunak, keu ureung tuha hana harga, peuget kiban galak. jangan cuma melihat ekonomi, tapi lihat generasi. kalau generasi bagus ekonomi gausa diragukan lagi. anda liat negara maju, apa yang mereka pertahankan dan apa yang mereka cari. ingat jangan cuma gara2 ekonomi kita korbankan budaya Aceh.

ikhsan 15 September 2009

saya setuju dengan penulis

Safrizal 16 September 2009

Film EUMPANG BREUH memang film brok! Peumale-male Aceh mantong!
Nyan gaya ureung bangai lagee Si Joni dan Si Mando chit han ek meutakalon lee…
Haji Uma meu’en parang uroe malam, ngon aneuk manyak pih meu’en parang, bacut-bacut teumeunak! Peu Haji lagee nyan?
Yusniar saboh teuk, peugah haba bhasa Aceh meukeulido. Geu sok jilbab hana pah, mantong deuh aurat. Geusok baje kaoh cukop ketat-ketat!
Peu film ile lagee nyan?
Tapi yang aneh jih, masyarakat tanyoe pakon galak that ngon film hana manfaat lagee nyan? Jinoe ka i teubit seri ke-7 lom… Ka han ek ta pikee le Aceh nyoe!

imran 17 September 2009

saya setuju dengan pendapat fahmi djamal..riset dulu bos sebelum ngomong!

restu 18 September 2009

Leumak Mabok saya rasa tidak begitu..film ini memberi nilai positif bagi perfilman aceh..

Skandinavia 9 October 2009

NOTORIOUS, meurôn² & Monoton.

mutia 5 November 2009

gw malu sendiri,,,,,,gw nak aceh jg,,tp gw lahir dijakarta,,teman2 gw bilang klo orang aceh tu pakai jilbab smua agama nya kuat,,,tapi di film komedi aceh bang joni tu yg peran sebagai yusniar pakaian nya gak sopan,,gak memancar kan orang aceh,,q ja walaupun tinggal dijkarta tapi pakek pakaian muslimah,,,,,,,,mana kata nya aceh serambi mekah,,,buktiin jangan malu2in,,,,,,,,,,bkin malu ma orang jawa ja nh orang aceh

mutia 5 November 2009

tapi terus terang gw jg suka sama komedi bang joni itu,,,bs bkin ngkak tapi klo bleh gw saranin,,,itu mbak yusniar coba pakek jilbab yang rapi pasti tambah cantik,,,and klo bisa film ny coba memamerkan adat istiadat orang aceh yg sebenar nya,,,tu kan lebih bagussss,,,,trus terang teman gw orang jawa jg suka nonton komedi tu kata nya lucu,,,tapi mereka nyak orang aceh kok pakek jilbab nya kayak gitu,,,,,,,,,,

mutia 5 November 2009

seseorang itu jngan bisa mengkritik ja ,,,,tapi klo bsa ngasih sarann,,,,,tapi terus terang gw jg suka sama komedi aceh bang joni itu,,,tapi klo bisa mbak yusniar coba makek jilbab nya yg rapi,,yang melambangkan orang aceh asli,,,dan klo bisa film nya melambangkan adat istiadat orang aceh yang asli gimana,,,jdi film tu bkan hanya bisa bkin orang terhibur tapi bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat acehh,,,aceh dikenal sebgai daerah istimewa dan islamnya kuat jadi jangan rusak ke istimewaany aceh cuma untuk kepentingan pribadi atau kelompok klo bisa untuk kepentingan masyarakat aceh smua,,,,,jadi kan aceh benar2 menjadi the best of city indonesia…..and a good people,,,good caracter….good luck my city…i love you forever..you always in my heart

Tgk. Suman Bin Yusuf 8 November 2009

@mutia;
Anda mengaku Aceh. kenapa bicara pakai kata ‘gw” kiban ileh. sudah hilag identitas ya bos. sama orang Aceh tidak mengenal kata Gue, Elo, atau bahasa anak jakarte gitchu….hek deh! Nyan mengaku droe aceh. lage asam….

Mizitar 9 November 2009

Kyk mutia bnr ug kr kaum wanita di wjb kn mmakai jelbab,dan bg joni tu wkt ktm dg yusniar kyk@ org gk waras tu mrpkn jth@ martabat kaum pria.

mutia 18 November 2009

yach q emg nak aceh asli,,,,tapi aku lahir dijakarta,,,,aku ngerti bahas aceh,,,tapi aku gk bisa berbicra dngan bahasa aceh,,,jd jng nyalahin aku klo makek bhasa gw,,tau loe karna lingkungan q wktu kcil emg dikawasan jkarta tapi aku bangg pnya drah acehh….jd cuma meluruskan ja jng salah paham….trus ustad nh klo ngomong kyk gtu,dah merasa menjadi orang aceh asli,,jng2 ustad gadungan lg,,,ngaku nya teuku tapi kelakuanny entr gk kyk teuku lg……maf ya ustad cuma klo ngomong jgan sembarangan …….

Usman Hassan Panton 21 November 2009

mutia@
seharusnya menyo ngaku aceh, kamu harus bisa bahasa aceh.
disitulah letak banggnya pad aceh.
ga bisa bahasa aceh, kenapa ga belajar?

apa juga katanya banggga, jik benar2 bangga pad aceh. maka belajarlah bahasa aceh. karena bahasa menunjukkan bangsa.

mutia 21 November 2009

yach mutia terima saran dari bang usman,,,,,,entar mutia kan belajar bhasa acehhh,,,,klo suatu saat mutia pulang ke acehhhh…amin mutia kan belajar langsung sama bang usman…bleh kan bang ,,,,,,sebenar nya mutia seneng banget klo bisa bahasa aceh jd gak ngaku2 aceh aja tapi jg berbahasa aceh…..

mutia 21 November 2009

wah nih kayak nya jadi tempat mutia berbagi ide ma orang acehhh…..bleh kenal yachhh bagi siapa yang lagi komen difilm eupang breuh,,,,,eh klo bleh mesan kaset nya bang joni yang jilild 7 nya pingin nonton nh pasti seruuuu dhhhh,,,,entr klo da yg mau jual cantumin alamat and no hp nya ja entar bsa transaksi melalui pos duit nya okayyyy,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

azhary 28 November 2009

semua ada benarnya……. berterima kasih lah kpada mereka yang telah mau berkarya….. kekurangan mereka menjadi tolok ukur untuk kesempurnaan karya kita di masa depan……… kesempuranaan karya orang lain (khususnya orang aceh sendiri) secara tidak langsung adalah kritik konstruktif terhadap karya mereka……. hidup Aceh……….. peace………

mutia 28 November 2009

wah nh bru sran yg bijaksana aku dkung

Leave a comment