PEMIKIRAN yang berkembang di negara manapun sarat nuansa politik, bahkan kadang ada yang jadi senjata gerakan politik. Media massa, film, musik, aksi sosial dan berbagai media lainnya jadi tunggangan sebuah gerakan politik. Saat pemikiran bernuansa politik, slogan sebuah ide selalu bermakna rangkap. Kata-kata kerap bisa berbeda dari makna sebenarnya. Propaganda.
Dalam dunia yang serba merdeka, siapa pun boleh berfikir bebas tentang apapun, bahkan dalam agama. Kebenaran mutlak tidak pernah ada. Pemikiran orang lain harus sepenuhnya dihargai. Para pakar menyebut ini sebagai politik pemikiran. Dan mereka sibuk membahasnya sampai bertahun dan hampir bertikai, sementara rakyat kian dimiskinkan oleh penguasa dan koleganya para pembisnis jahat.
Masalah-masalah umat yang dihadapi zaman ini seperti poligami, keadilan, hukuman bagi kriminalitas, pakaian wanita, masalah minoritas, hak-hak suami-istri dan sebagainya adalah hal yang menghambat sebuah kemajuan budaya. Perang antara pemikiran ini telah lama terjadi antara barat dan timur, antara Islam dan Barat.
Disinyalir, tujuan barat adalah untuk membaratkan umat Islam, sehingga hanya tinggal elemen-elemen dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan barat saja yang dikembangkan. Amerikanisasi, modernisasi, westernisasi dan globalisasi. Begitulah anggapan Islam untuk pemikiran kontemporer dari barat.
Cara mengembangkan nilai-nilai barat ke dalam pemikiran ummat Islam adalah dengan diberikan bantuan sebanyak-banyaknya. Dan di Aceh telah lama kita saksikan, begitu banyak dana itu menderas ke berbagai LSM, namun siapa yang peduli bila dapat uang, bahkan para pengelola lembaga Islam sendiri memintanya. Ikan malah minta sendiri umpan di mata kail, bukan menjauhinya.
Umat Islam kini dikelompokkan dengan bahasa kultural barat. Islam telah dibagi ke dalam sebutan muslim modernis yang boleh disebut Islam Liberal. Dan beberapa yang lain dikelompokkan ke kelompok lain lagi. Mereka disebut Islam tradisionalis, fundamentalis atau sekularis. Dan anehnya betapa bangganya umat Islam dengan sebutan yang diberi orang barat itu, sama seperti bangganya orang Aceh menyebut ‘Johan Pahlawan’ pada Teuku Umar dan ‘Kuta Raja’ pada Banda Aceh yang nama keduanya diberi Belanda.
Kita dapat saksikan di zaman ini, orang Islam pendukung barat dipromosikan oleh media masa sebagai tokoh modern, dan para mahasiswa di universitas Islam dan umum di negeri ini membanggakan mereka seolah perawi hadits. Umat Islam yang tidak sejalan dengan sekuler, liberal dan demokrasi barat, maka akan dicap fundamentalis, antibarat, atau bahkan teroris.
Masalah tadi mungkin agak membingungkan sebagian kita. Namun membingungkan atau tidak, begitulah yang tengah terjadi, dan Aceh salah satu korbannya. Keaslian Islam di Aceh akan luntur perlahan dengan adanya generasinya yang belajar Islam di lembaga sekuler namun berselimut nama Islam.
Keadaan ini tidak perlu kita khawatirkan karena orang yang menangani keilmuan Islam yang bersih pun menganggap hebat dan terhormat para sekuler ini. Dengan begitu kita sadar, Aceh dan sebagian tokohnya masih dalam dua eforia.
Pertama eforia egoisme Acehnya, kedua, eforia ciptaan barat yang sudah tertelan. Pilihan terbaik untuk menghadapi masalah ini mungkin dengan menjauhi semua golongan itu dan hidup merdeka, terlepas dari segala pikiran picik itu.[]
kebebanaran mutlak hanya ada dalam islam,krna islam datangnya dari zat yang maha mutlak adanya…jadi tidk benar pernyataan dalam agama tidak ada kebenaran mutlak….