Dunia Hiburan Aceh, Back to Culture

By admin at 14 November, 2009, 11:03 pm

(Meunyoë Kôn Anoë Leuhöb, Menyoë Kôn Droë Gob)

Sebuah karya lahir dari kontemplasi penciptanya dalam ranah budaya. Bukan plagiat untuk tujuan ekonomis. Lagu-lagu Aceh sebagian besar minim kreasi dan terjebak asal main jiplak.

Aceh butuh kritikus sastra untuk menjaga mutu dan menghindar plagiat. Kini lagu dan film komedi Aceh dalam kepingan VCD memang lagi marak, tapi siapa yang menjamin keaslian ide dan kreativitas penciptaannya?

Puluhan ribu keping kaset dan VCD dari berbagai dapur rekaman bertebaran di seantero bumi meutuah ini. Namun, sebagian besarnya visual yang diperagakan dalam album-album Aceh keluaran terakhir tak bernafaskan budaya Aceh.

Sebagai referensi, silahkan menonton beberapa flim produksi lokal seperti, Eumpang Breuh, Asoe Kaya, Jeue, Burek Boh Gluk 008, Zainab dan banyak lagi. Dalam beberapa komedi atau film berbahasa Aceh, banyak terdapat adegan-adegan yang kurung mendidik. Misalnya, anak-anak sudah berani memperolok-olok orang dewasa. Cara berpakaian, tingkat emosional dalam beberapa cuplikan juga tidak sesuai dengan tata krama ke-Aceh-an.

Demikian juga dengan lagu-lagu Aceh, dari sekian banyak album terbaru, ada sebuah album produksi Dhien Keramik yang kurang menunjukkan tatanan budaya Aceh dan tak patut dipublikasikan di negeri “pesantren” tercinta ini.

Dalam album VCD yang bintangi penyanyi muda berbakat Marwan (Suci lam Hate) itu menampilkan perempuan-perempuan seksi, tanpa penutup kepala standar muslim, pakai celana jeans ketat dan meliuk-liukkan pinggulnya bak biola Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata. Goyangan-goyangan nakal juga tak luput dari setiap cuplikan lagu dalam album tersebut.

Budaya Jiplak

Sebuah karya yang ditampilkan dan direspon baik di ruang publik merupakan kebanggaan yang tak terhingga bagi si pekarya dan kaumnya. Namun bila karya itu ternyata hanyalah bermodal jiplakan belaka, di mana letak kebanggaan sebagai seorang seniman yang bermartabat? Bukannya pujian atau penghargaan yang dituai, namun saboh geureubak tulak cela yang didapat.

Jujur saja, saya adalah maniak komedi Aceh “Eumpang Breuh” atau Bang Joni. Tapi hingga sekarang, saya belum bisa menerima seutuhnya nama kedua tokoh kesayanganku dalam film itu. Tokoh Bang Joni dan Bang Jono adalah sama dengan tokoh sinetron Indonesia yang dibintangi Primus Yustisio dan Ucok Baba (Joni-jono).

Belum lagi ditambah dengan irama yang ditampilkan sebagai pemanis yang menjiplak lagu-lagu karya seniman dari Indonesia dan India. Setiap kali saya rindu pada guyonan segar Abdul Hadi (Apa Kapluk), saya selalu me-rejects VCD agar lantunan “memalukan” itu terlewatkan.

Selain komedi, ribuan lagu-lagu asing berbahasa Aceh diselibkan dalam berbagai album produk lokal. Sebagai contoh sebut saja tembang “Mariam Sate” oleh A Bakar AR yang menjiplak irama “Meriam Soto” yang pernah tenar saat saya amsih kanak-kanak.

Bukan hanya dirinya, anaknya Ari Rama A Bakar AR juga diajarkan mencotek irama lagu Ranah Minang (Dara Aceh). Sesungguhnya apa yang ada dalam benak sebagian pekarya di Aceh saat dengan bangganya merilis album hasil plagiat itu.

Sebenarnya kita tidak perlu risih dengan hal itu. Namun ada syaratnya, kalau kita orang Aceh tidak berbudaya, bagi seniman tidak bisa menciptakan irama atau lainnya secara professional. Karena pada hakekatnya, budaya adalah karya, cipta, karsa, buah pikiran dan akal budi yang selalu muncul berproses akibat interaksi anak bangsa setempat, kata guru Antropologi saat saya masih SMA.

Dalam sebuah diskusi yang digelar di redaksi Tabloid DETaK mahasiswa dan teman-teman dari Kesenian FKIP Unsyiah tahun 2005 lalu, beberapa mahasiswa berkesimpulan bahwa plagiat yang sering melanda dunia intertainment di Aceh karena faktor malas berfikir untuk menciptakan yang baru (inovatif).

Selain itu, para seniman di Aceh khususnya seni tarik suara lebih melihat musik dari sudut pandang ekonomis dari pada substansinya sebagai bahasa kalbu suatu bangsa. Bahasa kurang sopannya “Jika tidak bisa professional di dunia tarik suara, carilah profesi lain yang lebih mengikatkan harkat dan martabat diri dan bangsanya”. Jangan sampai seperti kata Haji Uma dalam Film Komedi “Eumpang Breuh”, itu bukan penyanyi, tapi penyakit.

Musik Etnik Kotemporer

Dibalik gemerlapnya seni jiplak-menjiplak di Aceh, lahirlah beberapa penyanyi dengan album etnik kotemporer berirama dan tutur lokal yang kental, seperti Rafli (Kande Band), Helmi (Bijeh Band), Saleum Band hingga Riza Aulia dengan “Kutiding adalah Mantra” dan beberapa almum lain.

Saya pun menerawang, hingga ingatan meukawet pada seorang seniman etnik kontemporer Aceh yang dinilai elegan dan konsisten dengan makna musik Aceh sebagai bahasa kalbu rakyat. Namun sayang, sang pekarya handal itu terlalu cepat “dipeluk” tuhan sebelum mimpinya terwujud. Dia tak lain adalah Mukhlis pelantun tembang nyawöng. Dengan musik etnik kontemporer, ia mampu menembus pasar hiburan manca negara saat album perdana dirilis beberapa tahun silam.

Woe Bak Asai Mula

Seperti yang sering diwacanakan rekan-rekan aktivis budaya dalam berbagai even, baik diskusi, seminar, maupun sedang uet meja bak warong kuphi gob. Rata-rata dari mereka mengkhawatirkan dunia hiburan di Aceh yang sudah jauh melanglang buana dari keuneubah endatu (leluhur). Kegundahan tersebut setidaknya menjadii pondasi awal bangsa “bermemori pendek” ini untuk bisa kembalikan marwah bangsa yang direnggut zaman.

Walau begitu, kehadiran berbagai album dan film atau komedi lokal di Aceh, setidaknya kita anggaplah sebagai gebrakan awal khasanah dunia hiburan Aceh modern. Dengan hadirnya para seniman muda notabenenya kureung meueadat dan tata krama geutanyoe sebagai bangsa besar dan bermartabat, rakyat  pun bisa mengambil hikmah dari proses transpormasi budaya (seni) tersebut.

Bangsa asing, seperti Eropa, Amerika termasuk India memang budayanya seperti itu (kafir). Bagi mereka sendiri, hal itu adalah lumrah. Mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam peradaban kafir. Sementara kita orang Aceh, ditakdirkan lahir dan hidup dalam budaya yang bernafaskan Islam ahlus sunnah wal jama’ah.

Tentu saja kita sangat berpatrun pada budaya keneubah (warisan). Jika kita sebagai generasi yang masih meujak-meujak ateu rung donya tuhan hari ini sudah menghancurkannya. Jadi, apa yang bisa kita tinggalkan untuk “putik mancang” (generasi mendatang) yang sedang dalam ayon dodi sang ibu diiringi kalimah taibah dan hikayat prang sabi.

Detik ini kita berada diantara dua dimensi, yakni generasi terdahulu dan generasi penerus. Bila diibaratkan pelari estafet, kita baru saja menerima tongkat untuk memberikan kepada pelari berikutnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang peduduli budaya.

Program pemerintah Aceh di bawah pimpinan Irwandi-Nazar yang memperioritaskan peuteupat sejarah dan budaya Aceh adalah peluang emas bagi para pekarya untuk menampilkan kembali peradaban Aceh yang dikubur masa. Meski tak serupa dengan yang aslinya atau “tak serupo macam yang hilang,” kata orang Jamee. Tapi itu adalah sebuah usaha menghargai pusaka nek tu. “Tak ada rotan, akar pun jadi,” kata orang melayu. Menyoe hana cangguk lam blang, daruet canggang jeut keu raja,” kata orang Aceh, Bangsa teulebeh, dithee le kaphe.

Apapun profesinya, baik artis, penulis, pejabat, pedagang, petani, nelayan hingga pemulung yang saban hari bermandi peluh di kota kecil dan usang ini, mari sama-sama menjaga marwah bangsa terhormat ini. Karena menyoe kon droe, gob han pakon.

Khusus kepada artis dan produser lokal Aceh, setidaknya ada etikad baik untuk memperbaik pruduk hiburan yang telah jauh melenceng dari siklus budaya Aceh yang di thee le kaphe di masa silam. Jangan sampai kita disebut dalam sejarah Aceh yang panjang ke depan sebagai tokoh penghancur budaya Aceh. Woe bak asai mula, meunyoë kôn anoë leuhöb, menyoë kôn droë gob.[]

Oleh : Rahmad RA

Baca Juga >>

Banner

Categories : Artikel - 350 views


No comments yet.

Leave a comment