
Warga melintasi jalan Negara dalam kawasan gunung Seulawah dilatarbelakangi asap yang mengepul akibat pembakaran lahan untuk bercocoktanam, Minggu (18/7).
Kehijauan yang tergelar di hamparan bertekstur bagai alunan ombak itu, hanya sebagian kecil karena hijaunya daun pohon-pohon rimba. Sebagian terbesar karena warna rumput, ilalang, semak-belukar dan tanaman palawija milik para peladang.
Sekitar tahun tujuh puluh, di Seulawah masih banyak pohon-pohon besar. Sekarang sudah hampir habis ditebang untuk membuka lahan bercocoktanam.
Daerah perbukitan yang sekarang hanya tinggal semak-semak belukar, pada awalnya dulu di situ tumbuh pohon-pohon besar. Lalu para petani yang ingin mencari lahan subur menebang pohon-pohon itu, menggantikannya dengan tanaman palawija, terutama cabai, tomat dan pisang.
Pada awal 90-an, perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) mempreteli sebagian besar hutan Seulawah. Puluhan ribu pohon ditebang untuk digantikan dengan pinus. Dalam proses penebangan versi HTI, ketenangan habitat margasatwa Seulawah terusik. Terutama gajah. Mereka marah. Lalu lampiasan kemarahan itu tertuju ke lahan-lahan peladangan warga. Saat itu banyak ladang pisang yang dibumiratakan kawanan gajah yang marah.
Dalam peristiwa ini beberapa peladang angkat kaki. Dan lahan yang ditinggalkan begitu saja, lama-kelamaan menyemak, nyaris kembali bagai hutan lagi. Namun, pohon-pohon besar yang sudah terlanjur ditebang waktu membuka lahan, tak tumbuh lagi.
Pada dua-tiga tahun berikutnya mereka memang kembali lagi ke lahan itu. Umumnya para peladang di kawasan kaki gunung Seulawah sebelah Utara, warga dari berbagai desa dalam wilayah Kecamatan Muara Tiga, Pidie. Dan tanah-tanah kosong itu kembali hijau lagi, terutama oleh lambaian dedaunan pohon pisang.
Namun baru beberapa kali mereka memetik hasil, prahara datang lagi. Kali ini dalam wujud konflik bersenjata antara RI-GAM. Terhitung mulai tahun 2000, eskalasi pertikaian ini mulai terasa imbasnya di kawasan Seulawah. Hutan-hutan di sini sering menjadi ajang adu tembak dua pihak yang bertikai. Satu-satu para peladang angkat kaki, turun gunung, kembali ke kampung.
“Boleh dikatakan, mulai tahun 2001, hanya satu-dua peladang yang bertahan di sini. Itu pun yang letak lahannya di pinggir jalan,” kata Mahyuddin Yusuf, 39 tahun, satu dari segelintir peladang yang tergolong nekat tetap bertahan di Seulawah hingga di puncak konflik awal tahun 2005.
Dalam interval waktu antara 2000-2005, ratusan hektar tanah gunung Seulawah yang sebelumnya telah beralih-tumbuh dari pohon-pohon rimba ke tanaman komoditas pertanian, kembali tersia-siakan dan padat oleh semak-belukar. Artinya, sudah pohon gunung tak bisa lagi diganti, tanah yang terlanjur gundul itu pun tak bisa diambil manfaatnya oleh para warga.
Kini, sejak perjanjian damai antara RI-GAM di Helsinki pada 15 Agustus 2005, Aceh telah diteken dunia sebagai wilayah terlarang untuk perkelahian politik berhias senjata. Sejak saat itu para warga dari berbagai kampung di Kecamatan Muara Tiga, mulai naik lagi ke Seulawah, membenahi kembali lahan-lahannya yang pernah diabaikan.
Sejak penghujung 2005 hingga hari ini para peladang di kawasan Utara Seulawah ini umumnya sudah menikmati belasan kali panen cabai, tomat, pisang dan hasil-hasil tanaman muda lainnya seperti kacang panjang, terong dan jagung.
Kini memasuki awal musim penghujan, Seulawah mulai dibersihkan lagi dari semak-semak untuk ditanami cabai. Beberapa tahun setelah konflik Aceh usai, banyak warga Muara Tiga yang berubah hidupnya dari kondisi prihatin ke keadaan berkecukupan bahkan kaya. Kebanyakan berangkat dari hasil panen cabai.
Secara ekologis, sebagian hutan gunung Seulawah memang sudah gundul. Dan itu sumber malapetaka keganasan alam yang hingga saat ini masih diam secara berdarah dingin seumpama banjir besar yang akan menerjang kampung-kampung di lingkungan pengaruh langsung kawasan tersebut. Tetapi itu adalah dilema. Soalnya, di balik segenap pengrusakan itu, banyak warga setempat menjadi kaya-kaya.[]
Teks dan Foto : MUSMARWAN ABDULLAH