Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Cerpen » Di Atas Puing

SEPOTONG ingatan itu mesti diingat. Meski untuk mengingatnya butuh luka, perlu ketegaran dan berlinang air mata. Sepotong ingatan itu sendu, manis dalam miris. Sepotong ingatan itu ketegaran yang meleleh, kesaksian yang pilu. Sepotong ingatan itu racun bagi rindu tak berpenawar, candu bagi kenangan yang tekoyak. Inilah sepotong ingatan itu, sepotong catatan perjuangan ingatan melawan lupa.

Aku tiba di kota itu ketika senja telah tenggelam dalam selimut malam. Di sebuah penginapan di pinggir kota, yang bisa kulakukan hanya menatap puing-puing dalam keremangan. “Marlina,” bisik hatiku berkali-kali, semakin lama semakin lemah, lalu hilang. Pikiranku seakan tak lepas dari nama itu.

Kupindahkan suap demi suap nasi goreng itu dengan cekatan ke mulutku, lalu meninggalkan penginapan, menuju arah barat kota yang hancur total. Mendekati kenangan itu, di atas puing aku berhenti. Puing-puing itu seakan telah menjadi tonggak yang membawaku semakin jauh melayang, meski aku belum juga melangkah. Dan memang aku tak mampu meninggalkannya.

Pikiranku berjalan layaknya seorang penziarah, mencari jejak-jejak silam. Jejak-jejak penuh bunga. Aku berhenti pada tonggak yang pernah kupacang saat aku mengenal Marlina. Ya. Saat itu aku mengenalnya di rumah itu. Rumah tempat bunga yang sedang mekar itu menyembunyikan dirinya dari tangan-tangan jahil. Menjaga kelopaknya agar tetap mekar, menjadi sangkutan gelora tempat cintaku kutitipkan. Meski waktu terus melumurinya, aku yakin ia tidak akan usang, karena Marlina selalu menjaganya dengan perasaan, membasuhnya dengan cinta yang sama hingga ia tetap menebarkan semerbak, membiusku dengan aromanya, hingga kegilaan dalam sadar menyinggahiku, yang membuat laut seakan menjadi padang di mataku, ketika kumendekan akupun karam, terus tenggelam dalam cintanya Marlina.

Setiap malam hanyalah tubuhku yang akan tidur, sementara pikiranku bersamanya sampai pagi datang menarik selimutku. Minggu-minggu awal perkenalan itu, setiap malam aku begitu tersiksa. Jika cinta bertindak adil padaku, lelap tidak dijauhkan dari mataku. Setiap malam pula aku tidak menyia-nyiakan sajak untuk memujinya : Marlina, angin dini hari kagum memandangmu, ruh cintaku terbang hendak melihat wajah ovalmu, peri pun bunuh diri, iri padamu, Marlina, lelapkan aku di ranjang hatimu.

Ya, di depan rumah yang telah menjadi puing itu, sebuah taman dulu terhampar di pinggir pantai. Taman yang kini telah menjadi hamparan merah. Bunga-bungan itu telah hagus kerontang. Kini hanya tinggal ranting-ranting kering, melambai dicium angin pantai. Menatap pantai itu, aku kembali mengingat Marlina. Setiap mengingatnya keremajaanku merekah. Aku seakan selalu menunggu sentuhan bibirnya. Ia begitu cepat menguasai perasaanku. Aku pun semakin rindu untuk menatap sorotan matanya. Mata yang teduh, mata yang penuh ambisi.

Hasratku untuk menikmati pesonanya selalu bergelora. Angan-angan tentang dirinya tidak mau pergi dari lamunanku. Ingatan tentang dirinya tak mau pergi dari benakku. Mimpi tentang dirinya sudah tertindih di ranjang tidurku. Tempatnya kembali ada di hatiku. Tak ada lagi tempat yang layak di hatiku, kecuali untuknya.

Sebenarnya tidaklah aku ingin merajut hari dengan darah dan air mataku. Tapi Marlina memang telah membasahi mataku. Dua tahun lalu, di tepi pantai itu aku menghadau irama langkah kakinya. Langkah kaki yang berbeda dengan gadis-gadis lain. Gerakan tubuhnya belum pernah kulihat pada gadis lain pula. Selagi cinta itu masih ada, aku seakan berjalan dalam kemilau cinta itu. Meski kenyataannya, pesona yang penuh jerat itu masih jauh untuk kugapai.

Aku semakin tersiksa, karena harapan itu tak mampu kuubah dalam untaikan kata, demi pesona itu. Pesona yang telah menghadirkan semangat yang menyala-nyala pada tubuhku cintaku yang lemah.

Pipi lembutnya menarik senyum saat kami beradu pandang. Pandangannya sangat terarah. Aku semakin rebah dalam pesona alis yang tertata rapi itu. Alis yang membuatku mataku selalu terjaga. Mata hitamnya memancarkan pesona yang menjerat. Pipi yang merekah merah bak mawar itu pun semakin tak bisa kulupakan dengan alis yang tertarah rapi diatasnya, alis yang penuh godaan.

Takdir benar-benar telah memaksaku untuk jatuh cinta padanya. Semakin lama aku memandangnya, pikiranku semakin jauh berjalan bagai seorang penziarah. Meski ia kemudia hilang dari tatapanku, kerinduan membawanya lebih melekat di hati

Pada kesempatan lain, aku kembali manatap pesonanya. Di taman tepi laut itu, ia menyadarkan punggungnya pada batang cemara. Seandainya cemara itu adalah punggungku, aku tidak akan pernah bangun dari tempatku. “Pandanglah aku, salami wajahku, dan baca apa yang ingin kau ketahui, sebab aku tidak sanggup mengatakannya,” hatiku mendesah.

Kesunyian tiba-tiba hinggap pada dahan-dahan cemara. Kesunyian yang tidak mampu menyibak rahasia atas pikiran kami. Haruskah aku menganggap cinta ini sebagai tamu asing  yang datang malam hari dan meninggalkanku esok harinya, lalu apakah aku akan mengira perasaan ini adalah mimpi yang akan berlalu saat aku terjaga. “Aku tidak sedang bermimpi,” bisik hatiku.

Kecantikannya telah menjadi sumber penderitaan bagiku. Karena itu pula jiwaku memujanya. Jiwaku pun sujud dalam dekapannya, seindah bunga-bungan berpelukan dalam desiran angin pantai. Menghadau pesona itu, kukirim seribu satu salam untuk hatinya. Kini kesunyian terasa semakin senyap saja. “Percakapan bukanlah satu-satunya cara untuk saling mengerti di antara dua jiwa yang lelap dalam genggaman cinta. Bukanlah suku kata yang keluar dari bibir dan lidah yang menyatukan dua hati,” desah hatiku kembali.

Tapi seketika kegembiraan menampakkan wujudnya, ketika pipi lembutnya menarik senyum. Senyum yang menarik langkahku ke arahnya. Keheningan seakan telah memberi makna sinaran cinta. Tapi kesunyian tidak akan mampu menyembunyikan cinta dari desahan hati kami. Jiwa yang sanggup mendengar bisikan bunga-bungan di taman, akan mampu mendengar jeritan hati yang mengharapkan penyatuan. Karena cinta adalah satu-satunya desiran yang melaju tanpa bantuan angin. Kesunyian tidak akan mampu membuatnya sirna.

Langkahku terhenti tepat di hadapannya. Tapi kesunyian itu tak juga mampu kupecahkan. Senyumannya begitu tebal memperdayaku. “Marlina,” katanya sambil menjulurkan tangan memecahkan kesunyian di antara kami. Kata-kata begitu bersahabat dengan bibirku.

“Ris ! setelah kita saling mendekat, adakah kini jarak diantara kita ?,” tanyanya.

“Masih terlalu jarak,” jawabku meski hatiku mengatakan lain.

“Jangan kau ragukan lagi diriku sebagai orang yang layak untuk kau cintai,” bisik hatiku.

Aku terus saja menatap cercahan ombak, karena tak mampu melihat pesonanya yang terasa semakin menjerat saja. Aku seakan kehilangan kata-kata ketika wajah oval itu menyandarkan pipinya di bahuku.

“Sekarang masih adakah jarak itu ? “ tanyanya kembali.

Hati yang sudah lama merekah pun menuntutku untuk tidak mendustainya. Dan ku ikuti kata hatiku.

“Ya. Aku memang menginginkannya,” desah hatiku.

Pipi yang merekah itu terasa semakin lembut saja menyentuh bahuku. Aku pun tak mampu menahan diri untuk tidak membelai rambutnya. Selanjutnya, setiap menit menjadi hitungan cinta. Aku pun tidak pernah menyia-nyiakan sajak untuk memujinya.

Gonggongan anjing kurus berbadan hitam, mengusir Marlina dari lamunanku. Kini ia berdiri tepat di bekas pintu pagar rumah itu. Rumah  yang kini hanya tinggal pondasinya saja. Gongongannya seakan mengusirku dengan keusilannya. Dalam keremangan seakan kudengar ia berkata.

“Pulanglah, tak ada lagi pintu yang biasa kau ketuk, tak ada lagi kelopak mawar, ia telah gugur dan runtuh bersama runtuhnya kota ini.”

Lalu ia pun pergi meninggalkanku. Dalam keremangan itu, masih sempat kulihat sisa-sisa ranting cemara itu, cemara yang telah mengangkat kakinya dari cengkaraman bumi, rebah dalam pelukan malam bersama hatiku yang dibawa Marlina. Entah kemana.

Kini kisah hatiku adalah kisah seonggok daging yang dihadapkan pada misteri kepergian Marlina. Misteri yang membelenggu perjalanan masa muda menuju ikatan bunga. Aku seakan tak lagi punya keinginan selain ingin berjumpa dengannya, meski dalam wujud gundukan tanah.[]

Oleh Iskandar Norman, Redaktur Budaya Harian Aceh

Baca Juga >>

Leave a Reply

© 2010 BLOG HARIAN ACEH · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress