Citra Manusia Resah dalam Puisi Penyair Aceh

By admin at 19 December, 2009, 11:55 pm

SEJUMLAH puisi penyair Aceh yang dimuat dalam berbagai antologi memperlihatkan citra manusia yang resah. Resah terhadap lingkungan, keadilan sosial dan ekonomi. Seperti dalam puisi-puisi karya penyair, Mohd Harun al Rasyid, Wiratmadinata dan Din Saja.

Seperti dalam puisi berjudul  “Nyanyian Orang Utan” Mohd Harun al Rasyid menceritakan bahwa  keadaan wilayah Leuser yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia telah dicincang dan dilibas.

Teringat Leuser
Aku bersaksi dengan segala keyakinan
Akar-akar pepohonan menangis dalam pilu yang panjang
Meratapi jasadnya yang dilibas dan dicincang

Lebih jauh ia menyorot betapa daun dan reranting tak lagi dapat menari dengan riang seperti biasa. Daun hijau dan reranting yang mungil itu telah luluh terhempas “gugur ditinju tangan-tangan kekuasaan. Aku persumpah, aku berkata benar”, tulisnya

Di bait yang lain ia bercerita tentang lebah yang biasanya bernyanyi  dengan riang dan berpesta dimusim bunga kini “telah terbang  melintas bukit, gunung dan samudra”. Mengapa sang lebah  penghasil madu itu pergi? Tak lain “karena warisan leluhurku ditelanjangi, diperkosa”. Puisi ini ditutup dengan penuh harap agar manusia saling menjaga.

Aku bersumpah, inilah pengakuanku sesungguhnya
Tanpa kemunafikan bersarang di jiwa raga
Tiada kutahu, dapatkah aku berkata benar selanjutnya
Jika warisan leluhurku telah punah semuanya
Wahai manusia
Marilah saling menjaga

Citra manusia yang  resah terhadap lingkungan tampil pula dalam puisi penyair Wiratmadinata. “Nyanyian Duka Alam” Ia menulis:

Inilah nyanyian duka alam
Karena embun kehilangan daun
Dan hujan kehilangan akar
Lalu tanah kehilangan air

Bumi pun rapuh dibakar matahari
Akar dan pohon kehilangan daya
Hujan yang liar menyeret batu-batu
Dan dunia menyanyikan bencana

Pada bait berikutnya ia bertanya dengan gundah dan sebagai manusia lemah  hanya bisa menangis karena tempatnya bergantung terluka.

Hutan yang satu akan berakhirkah kamu?
Bumi yang satu akan bertahankah kamu?
Kami yang lemah tak kuasa bicara
Kami menangis karena engkau terluka

Pada bagian akhir sebuah pengakuannya bahwa rumahnya adalah hutan, air dan udara. Dua baris penutup puisi ini memperlihatkan pengakuan manusia yang lemah dan hanya bisa pasrah.

Kami yang lemah tak kuasa bicara
Kami menangis engkau terluka

Sementara itu,  Din Saja dalam puisinya “Rumah Yang Hilang” memperlihatkan manusia yang resah terhadap keadilan sosial. Dalam gaya bertanya iar menyatakan ingin tidur bersama orang tertindas. Mengapa? Jawabnya karena kejujuran ada pada orang-orang tertindas. Ia ingin bermain bersama orang-orang di pinggir jalan seperti penyapu sampah. Mengapa? Karena pada orang-orang demikianlah terdapat hal-hal yang bersih. Katanya:

Tahukah, aku ingin tidur
Di emperan bersama orang-orang tertindas
Karena, kejujuran ada disitu

Tahukah, aku ingin bermain
Bersama penyapu sampah
Karena, ada bersih disitu

Puisi yang menampilkan citra manusia yang resah terhadap keadilan sosial ini ditutup dengan bait yang menegaskan keberpihakan pada orang-orang yang jujur dan adil. Meski sebuah pertanyaan tetap menggelantung.

Tahukah, aku ingin hidup
Di alam nyata bersama orang-orang jujur dan adil
Karena, kehidupan kulihat disitu
Tapi di mana?

Sebuah tanya yang layak dicari jawabannya di zaman yang penuh dengan ketakbenaran dan kebohongan.[]

Oleh L K Ara

Baca Juga >>

Banner

Categories : Timphiek - 319 views


No comments yet.

Leave a comment