Bencana Dunia

September 1st, 2008 admin Posted in Bencana, Lingkungan, Manusia, Rekonstruksi, Tsunami No Comments » 42 views

Berbagai belahan dunia kini dilanda bencana, yang luput dari perhatian kita. Padahal dunia telah begitu berbaik hati melihat dan membantu kita saat tsunami melanda wilayah yang sebelumnya tidak dikenal dunia ini. Banjir di India, yang menewaskan puluhan jiwa manusia. Gempa di Sichuan China, dua hari lalu yang juga menewaskan belasan orang. Dan saat ini, sebuah badai besar sedang menerjang negara bagian Louisiana, AS.  Read the rest of this entry »

AddThis Social Bookmark Button

Menjelang Berakhirnya Tugas BRR

Juni 19th, 2008 admin Posted in 2008, Aceh, BRR, Banda Aceh, LKPJ, Tsunami 1 Comment » 35 views

Kemarin, kita mendapat kabar mutakhir tentang kelanjutan proses rehab dan rekon di Aceh. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh sudah pasti tidak diperpanjang lagi. Badan bentukan dan merupakan organ pemerintah pusat tersebut, segera berganti dengan suatu badan yang juga dibentuk pusat, tapi dengan kontrol langsung dari Pemerintah Aceh. Read the rest of this entry »

AddThis Social Bookmark Button

Lindungi Konsumen Dapatkan Hak Mereka

Juni 12th, 2008 admin Posted in 2008, Aceh, Banda Aceh, Bencana, Lingkungan, Manusia, Politik, Tsunami No Comments » 28 views

Puluhan murid sekolah menengah dan dasar (ibtidaiyah) di Aceh Utara terkapar. Di duga, mereka keracunan makanan, akibat bumbu untuk masakan tersebut sudah expired (kadaluarsa). Kita sangat berapresiasi pada tindakan cepat yang dilakukan pihak kepolisian setempat. Mereka, kini tengah menyelidiki ihwal saos kadaluarsa dan jajanan yang membuat para murid Simpang Kramat, Aceh Utara itu di muntah-muntah. Read the rest of this entry »

AddThis Social Bookmark Button

Komunikasi Warga dan Industri Besar

Juni 7th, 2008 admin Posted in Aceh, Banda Aceh, Indonesia, Politik, Teknologi, Tsunami No Comments » 26 views

Pada akhir Juni tahun lalu, usai bertemu Wakil Presiden Yusuf Kalla, Presiden Direktur Lafarge Semen Indonesia Marcel Cobuz menjanjikan akan berproduksi kembali pada akhir tahun ini, setelah merehabilitasi instalasi pabrik PT Semen Andalas Indonesia (SAI), akibat bencana gempa dan tsunami. Ada nada optimis, ketika itu. Meski Cobuz berharap pemerintah dapat mendukung komitmen perusahaan tersebut dengan tersedianya kebijakan ekonomi yang baik. Dengan berproduksinya Pabrik SAI, diharapkan kelangkaan semen di Aceh dan sumatera bagian utara, akan dapat teratasi.
Pekan ini, Cobuz harus berhadapan pula dengan warga dan tokoh masyarakat yang mukim di sekitar pabrik. Warga masyarakat yang telah kerap mengajukan protes dan usulan agar kepentingan mereka yang mukim di sekitar pabrik turut diperhatikan secara sebenarnya. Komunikasi antara pihak SAI dan warga terasa tak begitu lancar. Sepertinya, kepentingan mereka saling beradu. Argumen dari masing-masing pihak tak saling dimengerti atau setidaknya masih terasa kabur. Kita tak begitu paham, kenapa begitu sukar kepentingan para pihak dapat disatukan, hingga berlarut-larut sampai sekarang ini.
Sudah berkali-kali masyarakat dan PT SAI bertemu, selain dalam bentuk demo oleh warga, juga dalam berbagai perundingan yang lebih terbatas. Wakil mereka sudah kerap berupaya mengawinkan kepentingan masing-masing pihak. Tapi, juru runding pihak perusahaan sudah tak dipercaya lagi dapat berunding dengan jernih dengan warga. Barangkali mereka tak yakin lagi akan mendapatkan apa yang mereka harapkan bila juru runding dari perusahaan tak diganti.
Cobuz hanya dapat menjanjikan akan mempertimbangkan kehendak para warga yang tampak sudah tak sabar menunggu realisasi usulan mereka terealisasi. Dia juga memastikan bahwa perundingan ihwal tuntutan warga masyarakat kecamatan Lhoknga dan Leupung, Aceh besar, yang menyatukan diri dalam suatu komite bersama tersebut, akan terus dilakukan.
Dari berbagai aksi dan pertemuan warga dengan pihak PT SAI, kita tahu bahwa masyarakat setempat, sesungguhnya, tidak resisten terhadap pabrik dan investasi yang masuk ke wilayah mereka. Tapi, selama ini mereka merasa belum cukup mendapatkan manfaat dari perusahaan yang mengeruk bumi leluhur mereka sebagai bisnis yang sangat menguntungkan bagi perusahaan itu.
Kebutuan komunikasi antara perusahaan dengan komunitas masyarakat di sekitar pabrik seharusnya tak perlu lagi terjadi. Karena, tren di banyak perusahaan besar di manca negara pun sekarang ini. Biaya untuk tanggung jawab sosial suatu perusahaan berskala besar telah dimasukkan dalam rancangan anggaran mereka. Hanya saja, berbagai keperluan yang dibiayakan perusahaan, hendaknya benar-benar dapat membantu ekonomi dan kesejahteraan serta peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
Kita memang tidak mempertanyakan lagi ihwal perlu tidaknya pabrik itu tegak dan beroperasi di lingkungan warga setempat. Mereka pun, telah memaklumi, bahwa kehadiran industri semen tersebut memungkinkan daerah mereka berkembang menjadi lebih baik. Namun, berbagai hal yang menjadi tuntutan warga, seharusnya perlu direspon sungguh-sungguh dan ditunaikan secara patut oleh kalangan industri. Terutama, menyangkut akibat buruk yang ditimbulkan industri tersebut.
Bagi kita, yang penting berbagai standar keamanan, kesehatan, dan lingkungan haruslah ditunaikan dengan baik dan benar. Kalaulah mereka mengaku memakai standar yang lebih tinggi, tentu sangat bagus. Tapi, benarkah peralatan analisa yang lebih canggih yang dipilih dengan biaya sangat mahal tersebut sudah sahih, dan tidak perlu kita ragukan lagi?
Kekuatiran masyarakat merupakan suatu hal yang dapat kita maklumi, karena pengalaman pahit yang pernah terjadi di lingkungan mereka sebelumnya. Namun, bila perusahaan telah mengupayakan dengan komitmen tinggi untuk menempatkan kepentingan masyarakat secara patut, tentu kita perlu mengapresiasi dengan baik pula. Intinya, kita berharap, dialog dan komunikasi yang dilakukan perusahaan dengan warga, dapat berujung pada kian baiknya benefit yang diperoleh kedua pihak, warga dan perusahaan. []

AddThis Social Bookmark Button

Hutan Aceh, Setelah Setahun Jeda Tebang

Juni 5th, 2008 admin Posted in Aceh, Bencana, Irwandi Yusuf, Lingkungan, Tsunami No Comments » 39 views

Pada Rabu, 6 Juni setahun lalu, Irwandi Yusuf selaku Kepala Pemerintahan Aceh, mendeklarasikan berlakunya “moratorium logging” atau jeda penebangan hutan di wilayah kekuasaannya. Tepat setahun, besok, pemerintah Aceh menyatakan komitmen untuk menyusun kembali strategi pengelolaan hutan melalui re-design (penataan ulang) reforestrasi (penanaman kembali) dan reduksi deforestrasi (menekan laju kesurasakan hutan). Setahun pula kita sudah mendengar pernyataan yang didengungkan Gubernur Irwandi untuk mewujudkan hutan lestari, agar rakyat Aceh sejahtera. Read the rest of this entry »

AddThis Social Bookmark Button