Pada akhir Juni tahun lalu, usai bertemu Wakil Presiden Yusuf Kalla, Presiden Direktur Lafarge Semen Indonesia Marcel Cobuz menjanjikan akan berproduksi kembali pada akhir tahun ini, setelah merehabilitasi instalasi pabrik PT Semen Andalas Indonesia (SAI), akibat bencana gempa dan tsunami. Ada nada optimis, ketika itu. Meski Cobuz berharap pemerintah dapat mendukung komitmen perusahaan tersebut dengan tersedianya kebijakan ekonomi yang baik. Dengan berproduksinya Pabrik SAI, diharapkan kelangkaan semen di Aceh dan sumatera bagian utara, akan dapat teratasi.
Pekan ini, Cobuz harus berhadapan pula dengan warga dan tokoh masyarakat yang mukim di sekitar pabrik. Warga masyarakat yang telah kerap mengajukan protes dan usulan agar kepentingan mereka yang mukim di sekitar pabrik turut diperhatikan secara sebenarnya. Komunikasi antara pihak SAI dan warga terasa tak begitu lancar. Sepertinya, kepentingan mereka saling beradu. Argumen dari masing-masing pihak tak saling dimengerti atau setidaknya masih terasa kabur. Kita tak begitu paham, kenapa begitu sukar kepentingan para pihak dapat disatukan, hingga berlarut-larut sampai sekarang ini.
Sudah berkali-kali masyarakat dan PT SAI bertemu, selain dalam bentuk demo oleh warga, juga dalam berbagai perundingan yang lebih terbatas. Wakil mereka sudah kerap berupaya mengawinkan kepentingan masing-masing pihak. Tapi, juru runding pihak perusahaan sudah tak dipercaya lagi dapat berunding dengan jernih dengan warga. Barangkali mereka tak yakin lagi akan mendapatkan apa yang mereka harapkan bila juru runding dari perusahaan tak diganti.
Cobuz hanya dapat menjanjikan akan mempertimbangkan kehendak para warga yang tampak sudah tak sabar menunggu realisasi usulan mereka terealisasi. Dia juga memastikan bahwa perundingan ihwal tuntutan warga masyarakat kecamatan Lhoknga dan Leupung, Aceh besar, yang menyatukan diri dalam suatu komite bersama tersebut, akan terus dilakukan.
Dari berbagai aksi dan pertemuan warga dengan pihak PT SAI, kita tahu bahwa masyarakat setempat, sesungguhnya, tidak resisten terhadap pabrik dan investasi yang masuk ke wilayah mereka. Tapi, selama ini mereka merasa belum cukup mendapatkan manfaat dari perusahaan yang mengeruk bumi leluhur mereka sebagai bisnis yang sangat menguntungkan bagi perusahaan itu.
Kebutuan komunikasi antara perusahaan dengan komunitas masyarakat di sekitar pabrik seharusnya tak perlu lagi terjadi. Karena, tren di banyak perusahaan besar di manca negara pun sekarang ini. Biaya untuk tanggung jawab sosial suatu perusahaan berskala besar telah dimasukkan dalam rancangan anggaran mereka. Hanya saja, berbagai keperluan yang dibiayakan perusahaan, hendaknya benar-benar dapat membantu ekonomi dan kesejahteraan serta peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
Kita memang tidak mempertanyakan lagi ihwal perlu tidaknya pabrik itu tegak dan beroperasi di lingkungan warga setempat. Mereka pun, telah memaklumi, bahwa kehadiran industri semen tersebut memungkinkan daerah mereka berkembang menjadi lebih baik. Namun, berbagai hal yang menjadi tuntutan warga, seharusnya perlu direspon sungguh-sungguh dan ditunaikan secara patut oleh kalangan industri. Terutama, menyangkut akibat buruk yang ditimbulkan industri tersebut.
Bagi kita, yang penting berbagai standar keamanan, kesehatan, dan lingkungan haruslah ditunaikan dengan baik dan benar. Kalaulah mereka mengaku memakai standar yang lebih tinggi, tentu sangat bagus. Tapi, benarkah peralatan analisa yang lebih canggih yang dipilih dengan biaya sangat mahal tersebut sudah sahih, dan tidak perlu kita ragukan lagi?
Kekuatiran masyarakat merupakan suatu hal yang dapat kita maklumi, karena pengalaman pahit yang pernah terjadi di lingkungan mereka sebelumnya. Namun, bila perusahaan telah mengupayakan dengan komitmen tinggi untuk menempatkan kepentingan masyarakat secara patut, tentu kita perlu mengapresiasi dengan baik pula. Intinya, kita berharap, dialog dan komunikasi yang dilakukan perusahaan dengan warga, dapat berujung pada kian baiknya benefit yang diperoleh kedua pihak, warga dan perusahaan. []