You Are Here: Home » Tamadun
SEPOTONG ingatan itu mesti diingat. Meski untuk mengingatnya butuh luka, perlu ketegaran dan berlinang air mata. Sepotong ingatan itu sendu, manis dalam miris. Sepotong ingatan itu ketegaran yang meleleh, kesaksian yang pilu. Sepotong ingatan itu racun...
KEMATIAN kedua orang tuanya akibat wabah yang disebut felenza, telah membuat Ogbanje Ojebeta (tujuh tahun) kehilangan hak atas dirinya. Hanya untuk mendapatkan uang untuk membiayai pesta akil balig yang dianggap sebagai tradisi penting bagi masyarakat...
“Mengapa Ayah tak mau mengakui kalau aku ini anakmu, yang kau cipta saat purnama sempurna dan gerimis yang membawa kesejukan? Ayah malu mengakuinya ya? Apa karena mukaku yang celaka ini, Ayah malu mengakui bahwa aku ini anakmu? Jawab! Jawaaab!” Tak...
PEREMPUAN dalam budaya dan peradaban Aceh sangat dihargai, sampai-sampai isteri disebut pemilik rumah (po reumoh), yang kemudian kata tersebut berubah sedikit menjadi purumoh. Telah banyak contoh yang ditawarkan sejarah bagi yang bersedia percaya...
IA terbaring lemah. Tubuhnya kian renta dan tak berdaya. Matanya sayu lurus menatap dinding tembok bercat putih. Rabun dan kosong. Sesekali ia meminta untuk didudukkan di atas tempat tidur dengan bertopang pangkuan, mendesah pelan seperti melepaskan beban...
Apa perlu menyebut nama?
Jadi itu namamu !
Kalau begitu sekarang giliranku
Namaku Anu…!
Tetapi sebelumnya tak perlu tahu dulu siapa namaku, karena nama cuma anak panah bagi busur panjang yang sombong. Pengantar silsilah yang kabur, dan kata perkenalan...
LOMBA menulis sastra seperti lomba menulis puisi, cerpen, naskah drama, naskah sandiwara atau lomba menulis novel penting dilaksanakan untuk membangkitkan gairah peminat sastra dan memajukan peradaban. Sebuah kawasan atau negara maju selalu diiringi kemajuan...
Yang berangkat siang itu
Adalah Adam dari kayangan
Selebihnya hawa
Sesuatu yang bernama di punggung bukit.
(Butong, Jum’at 22 Juli 1999)
Sajak Pembantaian milik AA Manggeng mengigatkan saya kembali kepada tragedi pembantaian Tgk Bantaqiah di Beutong...
Malam semakin larut dengan kesunyiannya. Para pemimpi telah terbuai dalam pejam. Tapi Tristia, masih sibuk dengan ponselnya. Ia tersenyum lalu menekan keypad, mengetik huruf per huruf dan menekan tombol wall to wall.
“Ketika kutatap sakura bermekaran,...