
ilustrasi Tauris Mustafa
Fajar mulai menyingsing, menyibak tirai malam. Burung-burung bersenandung ria di atas pohon yang dihiasi sisa gerimis semalam. Mereka bertengger di dahan-dahan kering, bercericit riuh rendah menciptakan melodi merdu di pagi nan indah, lalu terbang dari satu dahan ke dahan lain.
Udara pagi lembut membelai kulit. Embun-embun belum beringsut dari rerumputan. Pagi masih teduh dengan ditemani kicauan burung dan kokok ayam jantan yang setia membangunkan insan dari alam mimpi. Pagi masih segar dengan aura naturalnya, sebelum makhluk-makhluk besi terbangun dari lelapnya dan dengan angkuh menghembuskan kentutnya serta meraung-raung mengusik keteduhan.
Seorang gadis kecil bergaun hijau berteduh di bawah pohon flamboyan. Dinikmatinya kesegaran udara dari rimbunnya daun flamboyan. Ia diam seribu bahasa, seakan tak ingin mengusik ketenangan pagi. Tatapannya tertuju pada sunrise yang mulai merangkak perlahan-lahan untuk menyinari hari. Ia menikmati kesendiriannya.
Kesunyian dan keremangan pagi tidak membuatnya takut, justru ia merasa semua itu adalah sebuah kenikmatan. Ia memang bukan seperti anak-anak lain seusianya. Ia tidak kenal takut. Ia bersahabat dengan gelap, dengan sunyi, dan dengan sepi. Ia bersahabat dengan segala macam ketakutan, jadi tidak ada alasan baginya untuk merasa takut.
Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang sangat ditakutinya. Hujan. Ya, hanya hujan.
Ia menengadahkan pandangannya, menatap rimbunnya daun flamboyan. Lama ia biarkan matanya menikmati kesejukan itu, tatapan matanya itu menyimpan tanya. Dalam bisu ia bertanya pada pohon flamboyan, “Dimana bunga-bungamu yang merah merekah itu?” Flamboyan itu bisu. Mungkin dalam bisu ia juga berkata, “Desember berlalu, bunga-bungaku pun berlalu. Bukankah kau telah menikmati indahnya bungaku sebelum Desember berlalu, ketika bunga-bunga itu berguguran dan menghiasi rerumputan? Bukankah kau tahu tidak ada yang kekal? Lalu mengapa kau tanya dimana bunga-bungaku?”.
Gadis itu mengalihkan pandangannya dari dahan flamboyan, lalu kembali menatap mentari. Setiap pagi itu yang dilakukannya. Ia lewatkan pagi dibawah pohon flamboyan sambil menatap sunrise dan mendengarkan kicauan burung. Bahkan tidak sedikitpun ia merasa bosan. Ia lewatkan pagi tanpa kata-kata, tanpa senyum.
Jika hari mulai terik, ia akan menyusuri jalan sambil memungut sampah yang berserakan dan dibuang pada tempatnya. Tak sedikit pun ia mengeluh atau mengutuki orang-orang yang melemparkan sampah sekenanya. Sering kali pula ia menggali tanah-tanah tandus dan menanami biji-biji pohon di tanah yang telah digalinya itu. Disirami setiap hari dan dirawatnya dengan telaten. Ia tidak akan membiarkan tanah kosong begitu saja. Tanpa dikomando ia akan menyemai biji-biji pohon di atas tanah itu.
Dunianya adalah dunia yang bisu. Dunianya adalah miliknya sendiri. Tidak ada orang lain yang hadir dalam dunianya. Tidak ada seorangpun yang tertarik untuk menjadikannya teman. Ia hanya bersahabat dengan alam. Siapa yang akan tertarik berbicara dengan orang yang hanya bisa membisu? Seperti berbicara pada patung tak bernyawa. Ia bukan bisu, hanya membisu. Ia hanya tidak ingin bicara. Tidak ada komunikasi, tidak ada interaksi sosial. Kadang-kadang ia kelihatan seperti sedang berbicara pada bunga-bunga, tanpa kata-kata, ia hanya mengangguk dan menggeleng.
Ia tidak peduli pada tatapan sinis orang yang lalu-lalang. Ia tak peduli orang-orang menyebutnya gila. Toh, ia merasa masih cukup waras. Tahu apa mereka tentang gila? Apa mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang gila? Mereka membuang sampah sembarangan sehingga jalanan kelihatan menjijikkan dan sungai-sungai meluap, mereka menebang pohon seenak perut, mereka tidak peduli pada lingkungan, mereka mengundang bencana. Apa bukan gila itu namanya?
Sebagian orang ada yang beranggapan ia mengalami autisme, dimana seseorang menarik diri dari lingkungan sosial dan larut dalam dunianya sendiri. Ia memang memiliki sebagian dari ciri autisme; tidak berkomunikasi, tidak berinteraksi sosial, dan perilakunya yang tidak wajar. Tapi itu tidak cukup untuk membuktikan ia mengalami autisme. Ia peduli pada lingkungan, bahkan lebih peduli dari pada orang-orang yang dianggap normal. Ia tidak peduli bagaimana orang-orang memandangnya. Lagipula semua itu tidak akan merubah hidupnya.
Gadis itu tetap membisu. Bahkan ketika orang-orang iseng melemparkan sampah ke hadapannya dan menertawakannya ketika memungut sampah itu, ia tetap membisu.
“Hei teman-teman, kurasa ini bisa jadi lelucon yang lucu!” teriak salah seorang di antara mereka sambil tersenyum puas.
Yang lain pun meniru apa yang dilakukan temannya. Mereka silih berganti melemparkan sampah-sampah dari tong sampah ke tanah, dan gadis itu tetap memungutnya tanpa kata-kata. Apa mereka mengira ia tidak punya perasaan? Apa mereka tidak sadar bahwa sebenarnya merekalah yang tidak punya perasaan? Gadis itu tidak menangis karena ia tidak punya air mata. Senyum pun tidak pernah hinggap di bibirnya. Ia tidak mengeluh, ia tidak punya waktu untuk merutuki nasib. Tetapi, di sinar matanya itu tersimpan kepenatan dan nelangsa. Ia bukanlah makhluk yang tak punya perasaan seperti anggapan orang. Ia punya hati, sekeping hati yang terluka.
Pagi itu, tak ada cahaya kekuningan yang terhampar di ufuk timur. Tak ada biru di lengkung cakrawala. Awan kelabu menutupi atmosfer bumi. Guyuran hujan tumpah dari langit. Sesekali petir menggelegar memecah kebisuan. Gemuruh angin sahut-sahutan dalam ritme yang serasi. Daun-daun menari mengikuti irama angin. Gadis bergaun hijau itu berteduh di bawah pohon flamboyan. Ia memeluk badannya. Rindang pohon flamboyan tidak mampu melindunginya sepenuhnya. Ia tetap basah. Tubuhnya menggigil.
Ia ketakutan. Bukan takut pada suara petir atau angin yang bergemuruh, tapi takut pada hujan, pada titik-titik air yang jatuh dari langit itu. Ia takut pada air hujan yang menggenangi tanah. Ia takut air yang tergenang itu akan semakin tinggi. Mula-mula setinggi mata kaki, lalu menjadi setinggi lutut, setinggi pinggang, hingga menenggelamkan fondasi-fondasi rumah.
Ia takut itu akan terulang lagi. Setiap kali melihat hujan, bayangan kelam masa lalunya datang menghantui. Terbayang kembali di pelupuk matanya ketika desanya seakan tiba-tiba menjadi danau. Atap menjelma menjadi lantai rumah. Banyak warga yang kedinginan berhari-hari di atap, menadah air hujan untuk minum dan menahan lapar yang menggerogoti lambungnya. Bantuan pemerintah sering kali datang terlambat, apalagi ke daerah terpencil.
Lalu apa yang terjadi setelah banjir berlalu? Wabah diare, ancaman demam berdarah, lumpur dan sampah yang berserakan membuat manusia frustasi. Para pengungsi hidup dengan segala keterbatasan, anak-anak kekurangan gizi dan terserang berbagai penyakit.
Banjir, fenomena alam yang mengerikan itu telah membuat gadis kecil itu kehilangan kedua orang tuanya. Ia juga kehilangan seorang adik yang masih kecil karena terserang diare. Ia tinggal sebatang kara. Ia meninggalkan dunia yang ceria dan larut dalam dunia kelamnya, membawa luka yang menyayat hatinya. Ia putuskan menjadi sahabat alam, ia ingin menjaga alam. Ia tidak ingin alam terluka lagi dan mengamuk. Ia tidak ingin elegi itu terulang lagi, karena itu ia akan melakukan apa yang mampu ia lakukan.
Hujan terus mengguyur bumi. Gadis itu semakin hanyut dalam ketakutan ketika melihat air mulai menggenangi kaki telanjangnya. Ia berlari menembus hujan, terus berlari, mengikuti arah angin. Jalanan lenggang. Tak ada genangan air di jalan beraspal itu. Tapi gadis itu tidak menyadarinya. Ia mabuk dalam ketakutannya. Ia menjadi paranoid. Ia berlari melewati jalanan. Tiba-tiba sebuah truk muncul dari ujung jalan. Kecepatan yang tak sewajarnya dalam situasi seperti itu dan jalan yang licin membuatnya tidak berhasil menghindari tubuh tubuh gadis itu.
Gadis itu terpental ke aspal. Darah segar keluar dari kepalanya, menyatu dengan air hujan. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat memandang pohon flamboyan, tempat selama ini ia berteduh bersama burung-burung. Seakan ia ingin mengatakan, “Biarkan burung berkicau!” Lalu perlahan-lahan matanya sayu, terpejam. Napasnya terhenti. Jantungnya berhenti berdetak, nadinya berhenti berdenyut, kehidupannya berhenti.
Supir truk itu tancap gas, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mungkin pikirnya tak ada gunanya mengurusi gadis gila. Truk itu berlalu meninggalkan tubuh gadis yang bersimbah darah di aspal.
Hujan menjadi saksi bisu tragedi itu. Angin menerbangkan keinginan terakhir si gadis, biarkan burung berkicau. Angin menerbangkan kalimat itu ke setiap pelosok tempat yang dilewatinya. Biarkan burung berkicau. Di sudut-sudut kehampaan suara itu menggema. Hanya orang-orang yang tidak tuli yang dapat mendengarnya.[]
Oleh Eramayawati, Anggota FLP Aceh